Sunday, October 30, 2016

Happy Diwali!!

Malam ini makan malam bareng temen2 India yg merayakan Diwali. Ceritanya, setelah memenangkan perang besar melawan Rahwana, Rama kembali ke kerajaannya dan disambut meriah dengan lampu2 hiasan dan kembang api.

Di Lancaster blom ada kembang api atau lampu hias, setidaknya sampai tgl 4 - 5 Nov yg bakal ada bon fire n kembang api.

Kami ngumpul dng makan Nasi Briyani dan Nasi Kebuli lengkap dng kare ayam. Saya kebetulan abis masak Lamb Curry jadi lumayan bisa berkontribusi.

Makan banyak nasi dengan kawan2 India mengingatkan akan Diplomasi Berasnya Sutan Sjahrir. Ketika hubungan diplomasi Indonesia dan India menjadi lebih erat.

Yg saya lakukan memang bukan diplomasi, tapi networking. Siapa tau bisa dapet terobosan bisnis dari negara yg punya jumlah penduduk nomor 2 sedunia dan digadang2 sbg salah satu power house perekonomian dunia itu.

#ngarepdikitbolehdong

Happy Diwali!!

http://m.okezone.com/read/2015/05/17/337/1151082/sjahrir-tembus-blokade-belanda-dengan-diplomasi-beras

Sunday, October 23, 2016

Kangen Masak Sushi


Aku kangen sama masak2 berdua sama Istri di rumah mungil. Terutama masak unagi n tamago sushi.  

Share

Friday, February 12, 2016

Dena dan Sinterklas

Difoto saat liburan Natal 2015 lalu di Surabaya.

Thursday, December 24, 2015

Romantisme Akhir Tahun

Yups, 2015 akan segera berakhir. Karena liburan yg sambung menyambung dan di sela-sela kesibukan satgas, gw dan Dena sepakat buat ke Surabaya. Setahun lalu kami menghabiskan akhir tahun 2015 di Surabaya memang. Jadi gak ada salahnya liburan panjang kali ini kami mengenang blusukan di Surabaya.

Kami memilih penerbangan sore maskapai LCC dari terminal 3. Agar dari pagi masih bisa persiapan ini dan itu dulu. Niatnya sih sesampainya di Surabaya mau mampir ke Sate Cak Lam yg legendaris sebelum check in hotel.

Kami sudah persiapan baju renang dan perangkatnya, kacamata renang, goggle, dan peralatan keren yg baru akan di-test: a water resistant Sony-Walkman MP3 player. Knapa baru di-test sekarang? Simple, susah cari kolam renang di Jakarta. (Alasan....)

Oke, saatnya menyudahi jurnal hari ini. Mari kita makan bakso sebelum boarding.

Tuesday, November 10, 2015

Babat Gongso Pengobat Rasa Rindu

Karena rasa rindu Semarang yg membuncah, gw jadi pengen makan babat. Tapi resto atau kaki lima di Jakarta jarang banget yg jualan babat sebagai menu utamanya. Susah banget nyarinya. Akhirnya memutuskan untuk masak Babat Gongso sendiri.

Bahan2nya :
1. Babat yg sudah dibersihkan beli di toko swalayan modern,
2. Lengkuas secukupnya,
3. Jahe secukupnya,
4. Kunyit secukupnya,
5. Lemongrass atau sereh secukupnya,
6. Bawang Merah secukupnya,
7. Bawang Putih secukupnya,
8. Garam secukupnya,
9. Kecap secukupnya,
10. Minyak goreng,
11. Daun Salam,
12. Gula Pasir,
13. Kemiri,
14. Terasi,
15. Cabai Merah,
16. Cabai Rawit.

Babat adalah bagian perut Sapi yg liat dan agak kotor kalo masih segar. Karena itu gw lebih suka beli yg sdh dibersihkan atau sdh di-packing di swalayan. Enggak perlu ngebersihin lagi. Warnanya sdh putih artinya sudah siap diolah.

Agak sabar dalam bikin Babat Gongso karena persiapannya yg lumayan lama. Karena liat dan alot, babat harus diberikan special treatment : kalau tidak dipanciprestokan ya direbus sampai lunak. Karena tidak punya panci presto, maka pilihan kedua jadi alternatif untuk dieksekusi.

Gw rebus babat selama lebih kurang 1 jam bersama Daun Salam, geprekan Jahe, geprekan Bawang Putih, Sereh, dan sejumput garam. Baunya harum seperti Nasi Uduk kata Istri. Merebus babat gw pakai teknik panci tertutup agar panasnya bisa lebih intensif, tapi tetap dicek agar gelembung airnya tidak luber-luber. Babat direbus dng panas sedang.

Sementara ngerebus babat, maka kita bisa minum2 limun dulu. Hehehe, di dapur panas soalnya.

Okay, sementara babat direbus dng bumbu dasar, kita bisa bikin bumbu osengnya. Uleg sampai halus bawang putih secukupnya, bawang merah secukupnya, garam, cabai merah, cabai rawit, jahe, dan tidak ketinggalan : T.E.RA.S.I! Cabai merah, cabai rawit, dan akan bikin warna bumbu oseng lebih hidup dan menarik.

Seberapa banyak secukupnya itu? Perumpamaannya adalah jika satu kemasan babat isi 2 lembar, gw nguleg 2 cabai merah n 2 cabai rawit, 2 siung bawang putih, 3 siung bawang merah. Tapi akhirnya kembali ke seberapa pedas yg mampu dinikmati.

Sedikit garam membantu menambah friksi cobek utk melumatkan bumbu2 tadi. Tsah, anak IPA banget pakai "friksi".

Kalau sudah berbentuk pasta yg berwarna kemerahan, sisihkan dulu. Buat ruang utk ngeprek kemiri. Hancurkan saja, tapi jangan sampai lumat.

Sejam sudah lewat dan setelah diperiksa babat sudah cukup empuk utk diolah lebih lanjut. Angkat babat dng garpu dan iris2 sesuai keinginan. Gw sih lebih suka agak memanjang, tapi Istri lebih suka kotak (which is nice...).

Ohya, tadi ada kunyit. Idealnya sih kunyit dibakar, tapi karena adanya kunyit bubuk, maka kunyit bubuk gw masukin ketika memanaskan wajan. Jadi ada bau2 sangit kunyit terbakar baru masukin minyak. Gunakan minyak secara murah hati. 

Setelah cukup panas, masukkan kemiri, kemudian bumbu oseng. Gongso atau oseng sampai harum. Karena gak mau kehilangan sedikitpun bumbu, maka babat gw uyek-uyek di atas cobek dng harapan sisa bumbu di cobek bisa keangkut ke babat. Setelah siap, maka masukkan babat ke wajan. Tambahkan sereh, daun salam, dan keprekan lengkuas.

Tambahkan Gula Pasir, Garam, dan kecap manis secara bertahap. Gw selalu berpatokan bahwa ketika mengolah menuju rasa yg diinginkan, kurang rasa selalu lebih baik daripada kebanyakan. Maksud gw, kalo kurang bisa nambahin bumbu lagi. Kalo kelebihan gimana cara nguranginnya? Tambah secara bertahap dan berhenti kalo sudah dirasa ideal.

Foto jadinya kek apa gak bisa ditempel karena keburu lapar dan harus makan bersama Mertua. Tapi, testimonial "enak" dari Bapak Mertua sangat berarti karena doi lebih jago masak daripada gw TT__TT

Silakan mencoba! Asal gak keasinan aja hehehe...