Saturday, August 27, 2005

jogja, pukul 1.26

March 28, 2005
Aku tak mahir berbicara. Maka aku biarkan jariku menyentuh tuts keyboard. Satu persatu huruf membentuk butir2 kata2. tak berarti memang. Hanya pengembaraan ngawur dari jiwa yg tidak tenteram. Entah rasa apa yg aku rasakan sekarang. Yg paling jelas adalah aku tidak mau kehilangan org yg aku cintai lagi.

Egois? Pasti. Tapi rasa sakit dan penyesalan itu ga bisa aku tepiskan gitu aja. Ayolah, kami hampir dua tahun sama2. bersitegang, makan bubur pagi, bergeletakkan mencari sejumput ilmu dalam lautan kata2, bergumul dalam pencarian kehidupan yg lebih baik, berkubang dalam cat, keringat dan air mata.

Apa artinya aku? Cintakah aku padanya? Atau hanya aku yg tdk mau berpisah darinya. Karena aku tidak mau pergi ke luar dengan sendal yg berlainan. Hanya karena aku butuh dia. Bukan berarti aku mencintainya? Apakah sebenarnya yg aku cari?

Setiap kali meninjakkan kaki ke rumah yg seharusnya menyembuhkan itu, kepalaku berdenyut keras. Gelembung2 waktu bermunculan entah dari mana. Bayangan2 sejernih kristal berkelebat membawa karat dari masa lampau. Semuanya terulang. Atau hanya aku yg tidak menginginkan semuanya terjadi? Ingat, aku bahkan harus berak tiap pagi. Ah, manusia.

Melihat kerut wajahnya yg tertimpa matahari setiap pagi. Aku telah melewatkan masa itu. Masa ketika dia begitu kuat di atas kedua kakinya. Ketika rambutnya masih memenuhi tiap senti dari kulit kepalanya. Ketika belum ada kantong mata yg menggelayut, membuat dia lebih tua dari umur yg sesungguhnya.

Kini aku melihatnya terbaring tak berdaya. Lelaki itu bahkan tak mampu meraih pispot untuk menampung air kencingnya sendiri. Ususnya turun tak kuasa menahan gravitasi. Tubuhnya telah mengkhianatinya sendiri. Kemana aku 5-10 tahun yg lalu? Tidak ada yg berubah. Aku bahkan tidak pernah ada di rumah.

Tiap lelaki pasti ingin anaknya melihat dia perkasa. Tapi aku tidak pernah berniat melihat kedalaman jiwanya. Aku selalu asyik dengan pengembaraan fantasiku. Aku terlalu liar untuk tunduk diam dan tenggelam dalam kebijaksanaan masa lampau. Aku adalah angin yg tidak berhenti menyetubuhi ibu bumi. Bahkan aku lupa dari mana aku berasal. Apakah aku berasal dari lembah yg telah rata dengan tanah akibat tarian elokku? Entah, rasanya aku berasal dari langit. Atau dari danau yg membiru itu?

Apakah ia tahan melihat sinar mata kasihan yg terpancar dari mata setiap pengunjung?
“keparat! Aku adalah laki2 yg telah melahirkan 2 jiwa di muka bumi ini!”
“bangsat! Singkirkan tanganmu dari tubuhku!! Aku biasa mandi dengan air es gunung himalaya!”
“aku adalah orang yg telah mengajarimu mengeja namamu sendiri!!”
ah, dia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas kata2 yg aku tulis 30 cm dari tempat ia duduk.

Ia telah meniupkan napas kehidupan atas dua manusia itu. Apakah sekarang tugasnya telah selesai? Adakah sekarang waktu yg tepat untuk menjadi pupuk bagi bunga matahari? Waktunya belum selesai. Tapi aku tau apa? Bahkan aku tidak ingat tipis senyum yg gadis itu tawarkan untuk yg terakhir kali. Betapa dia menyayangiku. Betapa pun aku terus mencambukkan kata2 pedas dan melihat air mengalir di sisi pipinya. Meninggalkan danau penyesalan yg tidak akan habis dalam kemarau panjang.

Benar, aku tahu apa?

Aku berdoa, mengucap segala yg aku bisa. Untuk diakah? Atau agar aku merasa lebih baik? Dia yg terus terjaga tiap malam agar aku terus dalam perlindungan sang maha pencipta. Dia yg terus membunuh rasa keakuannya agar aku mendapati jiwaku yg sebenarnya. Dia yg berbaju compang camping agar aku tidak dingin, terselimuti oleh secarik kain bernama T Shirt.

Tangan itu dulu kuat menggendongku melewati pundaknya. Aku bahkan tidak pernah bisa mengingat kapan itu terjadi.

Maka aku akan pulang sekali lagi. Menapaki jalan kecil berpagar putih yg tidak pernah bertambah luas. Mengetuk pintu, membasuh kaki dan bersimpuh dalam kesadaran. Betapapun aku berasal dari serpihan jiwamu. Secuil air dalam penafsiran makna hidup. Bukan nafsu, tetapi tasbih makhluk atas perintah sang khalik.

Apakah aku akan bisa sepertimu?
Apakah aku sesuai dengan harapanmu?
Apakah aku membuatmu bangga?
Ah, apakah kamu bahagia?
Apakah kamu pernah merasa bahagia?
Melihat tangis pertamaku, mungkin?
Melihat otot leher yg aku tunjukkan ketika aku tidak sepaham padamu, apakah kamu merasa tersayat?

Karena aku lemah, tidak bisa menahan air mata melihat kamu terbaring tidak berdaya.
Kangjeng bapa, ingkang putra nyuwun gunging pangapunten

No comments: