Monday, October 03, 2005

Saatnya untuk diam

Adzan tertutup suara air dari keran yg aku buka. Segera kubasuh tubuhku dng wudhu. Berdirilah aku di depan sang khalik. Tunai sudah kewajibanku. Tapi aku melewatkan satu waktu dan waktu kemarin dan kemarinnya lagi. Entah sampai kapan aku memahami bahwa ini semua bukan Cuma kewajiban. siraman jiwa bagi roh dalam perjalanan menuju keabadian.

Hening memutar ingatanku ke satu rotasi bumi. Aku bermimpi. Melihat ke bawah selangkangan dan melihat onggokan daging yg menjuntai ke bawah. Kenapa aku bermimpi tentang alat genitalku sendiri? Sudah sedemikian keringkah imajinasiku? Tidak dapatkah baling-balingnya meninabobokkanku ke Negeri Ajaib? Hahaha, mungkin karena tidak segera digunakan sesuai fungsinya. Hahaha, mungkin aku sedikit menganggap polos diriku sendiri. Baiklah, kadang aku menyentuhnya secara tidak pantas, tapi laki-laki punya kebutuhan, kan? Hahaha, mungkin lebih baik bermain dengan kelamin sendiri daripada bergelut dng “kucing” tetangga, hahaha.

Aku sadar, beberapa hari ini aku terlalu banyak bicara. Burukkah itu? Mengingat beberapa bulan kemarin aku berbulat hati untuk diam. Karena banyak yg sakit mendengar kata-kataku. Sial, aku selalu menganggap duniaku ini adalah set dari satu situation comedy. Dimana setiap karakternya dapat di-abuse tanpa dapat konsekuensi yg berarti. Aku lupa aku ada di jawa. Aku di jogja. Tempat orang jawa berkumpul dan beranak pinak. Membuat satu keluarga, tempat tinggal dan norma sosial. Hei, aku juga jawa. Jawa yg lahir di semarang, dari bapak banyumas dan ibu Kendal. Terlalu banyak menonton tivi, kartun minggu pagi, keracunan budaya jepang, banyak membaca komik, bahkan koleksi MP3-ku lebih banyak yg berbahasa asing ketimbang yg berbahasa bangsa sendiri. Jawa di sebelah mana? Identitas diragukan. Bahkan aku tidak merasa kehilangan ketika ada teman sejawat akan mengakhiri masa jabatannya jauh sebelum masa pensiun. Aku tidak kehilangannya, tapi aku akan merindukannya. Yang jelas aku bukan tipe jawa yang akan menyembunyikan perasaan di balik punggung dengan muka penuh welas asih.

Setiap karakter berkembang sesuai tuntutan cerita. Ada pertemuan, konflik dan perpisahan. Satu karakter merupakan benturan bagi karakter lain. Dari situlah karakter bias berkembang. Kata-kata yg abusive hanya akan membawa bibit permusuhan. Walaupun itu adalah kebenaran. Orang-orang yang terkoreksi akan merasa dirinya direndahkan. Walaupun dia memang melakukan kesalahan. Aku bukan korektor, tapi aku tidak bisa diam ketika ada yg salah. Atau aku hanya diam saja seperti waktu orang itu salah mengeja nama dedengkot manga n anime, Osamu Tezuka? Atau lebih baik aku sumpal mulut orang yg baru berkoar-koar menunjuk pada satu halaman ketika jam sudah menunjuk pukul satu? Ah, diam membantuku untuk mengontrol emosi. Kata-kata adalah bukti yg memberatkan.

Saatnya untuk diam. Biarkan aku duduk bersanding dengan imajinasiku. Bercerita tentang hari ini, esok dan lusa. Mungkin ini hari terakhir kami bertemu.

1 comment:

Rangga said...

seperti kata pepatah "diam itu adalah emas". hehe