Tuesday, April 04, 2006

cuti 2 (260306)

Tuhan memang telah mengatur perjodohan manusia. Tak disangka, aku bertemu teman SMA ketika sedang makan siang. Teman lama yg bahkan aku sudah lupa namanya. Bukan hanya itu, Mbak Neneng pun lagi ada di Bandung. Bukan main. Hari itu kami bermaksud pergi ke Jakarta berdua. Demi masa lalu dan masa depan tentunya.

Isi back pack emang penuh dan terasa berat. Tapi sebenernya yg berat adalah ninggalin Bandung dan Jingga. Cuma ketemu sehari untuk kemudian pergi lagi. Sepertinya ada yg salah. Karena ketika kami sudah dalam satu kota, tetap saja aku cuma isa memandang layar LCD ponsel untuk sekedar ngobrol.

Jakarta memang satu pilihan. Tapi dorongan dari Jingga membuat aku membulatkan niat. Mbak Uningku yang baru saja sembuh dari sakit membuatku berpikir untuk harus ke Jakarta. Mumpung aku cuma 2 jam dari Jakarta. Mumpung aku masih punya waktu untuk semua itu. Mungkin sebotol madu dan sekotak brownies kukus bisa membuatnya mendingan. Ato mungkin yg dia perlukan cuma kunjungan dari adiknya yg dulu kerap tidur di depan tivi ruang keluarga dng perut terbuka?

Bayangan tentang perjalanan singkat ke Jakarta ternyata meleset. Memang menghabiskan 2 jam di tol cipularang. Tapi aku lupa kalo Jakarta adalah ibukota negeri ini. Shits happen in Jakarta. Dari macet, anak jalanan dan mobil FBR yg patroli dng galak menyerupai polisi. Bah!

Dari 2 jam yg aku bayangin ternyata molor menjadi 4,5 jam perjalanan sampe depan rumah. Dua setengah jam tambahan didapet dari perjalanan keliling kota Jakarta merayapi jalanan ibukota dng segenap tetek bengeknya. Konsekuensi menjadi orang yg tujuannya adalah kota satelit dari Jakarta: Tangerang. Tapi tak mengapa karena sepanjang tol merak aku ngobrol dng pak sopir yg sudah 20 tahunan bekerja sebagai sopir yg ternyata berasal dari Wonosari, Gunung Kidul, Ngayogyakarta Hadiningrat. Logatnya saja sudah tidak berasa medhok lagi.

Dia masih seperti perempuan yg aku ingat. Dewasa, keibuan, sabar dan menyisakan kecantikan masa lalu. Mungkin tubuhnya tidak semolek seperti dahulu. Tapi dia masih cantik di mataku. Hei, apa yg kamu harapkan dari seorang perempuan yg telah membagi seluruh hidupnya dng suami dan 3 anaknya? Bahkan sekarang sudah ada Kay. Cucu pertama dari puteri sulungnya.

Mbak, aku kagum padamu.

Banyak yg sebenernya bisa diobrolin. Tapi badanku sudah lelah. Aku terkorosi perjalanan yg lebih dari 60 persen dihabiskan di tol penghubung antar kota. Bercak liur di bantal dan gumoh di kasur tidak menghentikan aku untuk terlelap. Diantara guling dan bola mainan Kay aku terbang menuju bulan. Karena Jingga telah menungguku. Bersembunyi di balik sabuk andromeda.

6 comments:

bodrobilowo said...

thx for the award. love u om.

Rangga said...

yaah macet.. jangan kapok2 lagi ya main ke jkt!

Rangga said...

lapor bos.. saya pindah alamat blog, jadi http://simplejournal.wordpress.com

matahari said...

siap, ndan! lapan anem!!

retma-haripahargio said...

Wew........... si Loni makin romantis bo. Gileeeee.... gih, cepetan bikin novel. Hehehehe :D

matahari said...

wogh, mana bagian yg romantis? bikin novel? bikin komik dulu kali ya?

NGAAAAAAARRRREEEEEEPPPPP!!!