Thursday, May 04, 2006

Jogja, 4 Mei 2006

Kakiku basah menginjak embun lapangan Kaliadem. Satu2nya lampu penerangan di lapangan itu bersinar sangat terang. Tapi tak cukup untuk menerangi hutan di punggung gunung. Mataku mencari-cari sosok yg sebulan terakhir ini menjadi sorotan orang2 di penjuru pulau ini. Aku melindungi mata dari sinar halogen itu, dan tampaklah dia. Gelap, misterius, seperti Kumbakarna yang tertidur, menanti saat mempertahankan Alengka. Gunung Merapi.

Aku hanya ikut rombongan wartawan yg update keadaan merapi. Sudah hampir sebulan ini status merapi dinaikkan menjadi siaga. Menurut para ahli vulkanologi, letusan merapi hanya tinggal menunggu waktu saja. Memang tanda2nya bisa diperkirakan. Tapi sifat letusan merapi yang tiba2 bisa menimbulkan banyak korban. Karena itulah dari jauh2 hari orang2 lereng merapi diimbau untuk mengungsi. Merapi bisa meletus kapan saja.

Tiga pasang mata tak lepas melihat LCD kamera. Merapi di bawah bintang, tetap mengepulkan asap dan terselimuti kabut. Semuanya tampak biasa, sampai terlihat semburat warna merah di puncak merapi. Kami bukan vulkanolog, sangat gegabah kalo langsung mengatakan itu adalah lava pijar. Foto diulang beberapa kali, tapi warna itu tetap terlihat. Cukup untuk membuat kami lebih waspada esok hari.

1 comment:

Cocon said...

Lha fotone ki endi je... merapi ki koyo opo??? :)