Wednesday, December 13, 2006

Ternyata gw juga

Beberapa hari yg lalu, rapat sore redaksi ngebahas tentang bagaimana bahasa Jawa semakin terpinggirkan oleh sistem pengajaran di sekolah maupun pendidikan di rumah. Wajar saja, pendidikan bahasa Jawa walopun diberikan sampai SMA, hanya dikasih 1 jam pelajaran perminggu. Blom lagi bahasa Jawa bagi beberapa orang adalah simbol dari ke-kampung-an. Padahal agar isa dianggap beradab dan modern, segala tata cara harus di-nonkampung-kan. Mulai dari pemujaan terhadap bahasa asing sampai pergeseran penggunaan bahasa.

Berapa banyak anak Jawa sekarang yg dinamai Slamet, Bejo ato Bambang? Coba tengok tetangga sebelah. Banyak nama yang berbau2 barat seperti Lawni, Cyntia, Chantal, Abygail dan sebagainya. Bukan gw mo sok nJawani, tapi tanpa sadar, hal2 kecil kek ginilah yg menggerus budaya.

Brapa banyak playgroup yg berbandrol jutaan itu mengajarkan bahasa Jawa alus kepada anak didiknya? Mereka malah berlomba2 menampilkan program bahasa asing sebagai modal utama mendongkrak citra eksklusif (juga harga masuk dan iuran bulanannya).

Semakin moderatnya hubungan keluarga juga kemungkinan ambil urun serta dalam penggerusan budaya. Brapa banyak anak Jawa yg isa berbahasa karma kepada yg dianggap sepuh? Bahkan sama orang tuanya aja pake bahasa ngoko. Masih mending ketimbang pake bahasa Indonesia ato pake bahasa Inggris.

Bagaimana nasib bahasa tulis Jawa mengingat nasib bahasa lisannya sedemikian menyedihkan? Temen gw pernah bilang, kalo satu budaya akan menjadi musnah jika gak isa mengikuti perkembangan jaman. Kalau bahasa Jawa yg kita adiluhungkan ini gak kita pakai dalam kehidupan sehari2, maka gak heran kalo satu hari nanti gak ada orang yg isa ngomong bahasa Jawa yg baik n bener.

Herannya, bahasa Jepang isa bertahan sampai sekarang. Bahkan sampai text di komputer aja isa pake bahasa kanji. Penulisan jurnal2 ilmiah juga isa ditulis dalam bahasa n tulisan Jepang. Bagaimana dng tulisan Jawa? Hehehehe, gak mau muluk2 sih. Karena gw sadar sapa yg mau ngebaca jurnal ilmiah n penelitian dalam bahasa Jawa yg ditulis pake tulisan Jawa? Kriting, bow. Tapi yg bangga punya skripsi pake bahasa Inggris ya mbok jangan nggleleng dulu, krn blom tentu isa bikin skripsi pake bahasa Jawa. Hehehe…

Suku Jawa tengah dalam proses kehilangan jati dirinya.

Hari ini Bapak mengirimkan STNK gw yg diperpanjang dari Semarang. Di dalam amplop yg diletakkan di meja kerja gw, ada surat dari Bapak (liat foto).
Surat Bapak
save as aja kalo mau digedein pake windows viewer

Yep, yg gw isa baca cuma “Oni Ananda Yang Tersayang” di awal surat. Sisanya yg ditulis Bapak pake tulisan Jawa gak isa gw baca gak peduli seberapa kerasnya gw berusaha ngebaca. Padahal pas kelas 3 SD, gw udah jadi perwakilan sekolah buat lomba baca tulisan Jawa.

Duh, ternyata gw juga termasuk golongan orang2 yg melupakan jati diri sendiri.

9 comments:

kidi said...

menyenangkan sekali membaca tulisan anda...

matahari said...

silakan, mas. terimakasih udah mampir n meluangkan waktu membaca tulisan saya.

nurdien aji said...

comment boleh dong.. agak serius nih... (ceile)

1st, budaya tergantung pemakainya. Klo pemakainya kuat (secara ekonomi, militer, iptek dll. ex:jepang, china) maka dia jga akan kuat. sementara budaya (orang) jawa adalah budaya (orang) yg kalah sejak ratusan tahun yg lalu. Cma (salah satunya) karena "kebaikan" belanda aja yg ga mengajarkan bahasa belanda di SR membuat basa jawa masih tersisa sampe skrg.

2nd, budaya yg ingin bertahan,harus cukup lentur untuk meng-adopt dan meng-adapt, sekaligus punya dasar pijakan yg kokoh. Sementara budaya jawa diisi 2 ekstrem dimana satu-nya ingin bertahan dg segala ke-kuno-annya seperti kitab suci yg ga boleh diutak-atik, dan lainnya ingin me-revolusi-nya. Bayangkan, membuat buku komputer dalam basa jawa.. dijamin 50%-nya bahasa inggris... bayangkan betapa susahnya ngobrol tentang biologi molekuler dalam basa jawa...

3rd, basa jawa adalah bahasa yg sgt foedalistik. dan ketika feodalisme itu hilang, sementara basa jawa tidak mau menghilangkan ke-feodal-annya, dia juga akan musnah... hal ini juga terkait dg sifat2 lain dlm budaya jawa selain feodalisme

4th, evolusi berlaku dalam segala hal, termasuk budaya. Kalo memang dia tidak mempunyai karakter2 dasar untuk bertahan di jaman sekarang (yg disebut di no.2 sebagai pijakan yg kokoh), maka dipastikan akan segera hilang... (ini berkaitan jg dg 2 dan 3) dan sepertinya budaya jawa tidak memiliki karakter2 yg dibutuhkan untuk bertahan

5th, orang jawa sendiri sering menganggap budaya jawa sebagai klangenan... benda pusaka, yg akhirnya lebih berfungsi sebagai benda pajangan, yg akhirnya tidak berfungsi sebagai mana mestinya budaya... yaitu sebagai jalan hidup, yg harus practical,walaupun harus tetep konsepsional pula...

6th, yang disebut suku jawa itu mulai dari banyuwangi sampe cilacap. ketika orang kraton menyebut dirinya dan budaya kraton sebagai satu2nya budaya jawa (yang adi luhung dan lainnya sebagai rendahan), maka terjadi pengerdilan budaya jawa. Orang pantura jateng bagian barat yang ga kenal basa kromo, itu jga jawa (kata2 di jawa pantura bag barat justru banyak berasal dari basa jawa kawi, yg lebih kuno - asli, klo mo menyebut yg lebih tua lebih asli - dari basa jawa sekarang). Orang surabaya yang disebut orang jogja ngomongnya kasar, juga bagian dari budaya jawa. Ketika terjadi marginalisasi budaya jawa yg bukan keraton, maka budaya jawa menghancurkan dirinya sendiri...

Setelah hidup di surabaya setahun, merasakan bedanya orang jatim dan jateng, (maaf, tidak bermaksud menyinggung rasa kedaerahan) dapat dipahami kenapa majapahit yang menjadi kerajaan terbesar di daerah asia tenggara ada di jawa timur.

Aku membayangkan bahwa bahasa jawa (klo boleh disebut seperti itu) tidak serumit basa jawa sekarang, yang bertingkat-tingkat dan segala kerumitannya yang lain. Seorang ahli sejarah mengatakan, ketika kerajaan2 di jawa terdesak oleh musuh atau saingan, mereka cenderung 'mempercantik' apa yang ada dalam diri mereka sebagai satu2nya ekspresi budaya. Ukir2an Keris tercantik, sajak2 terindah, perhiasan2 paling rumit, justru kebanyakan lahir ketika kerajaan mataram diambang kehancuran.

Jangan-jangan kerumitan tingkat bahasa jawa juga terbentuk karena sebab tersebut. Hanya agar sang raja merasa spesial karena bahasa untuknya beda? agar bansawan merasa hebat karena sang masyarakat umum harus menggunakan kata-kata khusus untuknya? agar orang tua merasa superior karena anak-anak menyebut mereka tidur dengan sare? Sementara kuku-kuku belanda mulai menancap di Jawa, dan satu-satunya yg membuat para feodal merasa hebat adalah bukan kerajaan tetangga, bukan negara jauh, hanyalah para abdi dan masyarakatnya yg tersedia, yg cukup mudah untuk ditakuti, yg mau diinjak2 dengan menyamakan dirinya hewan (kebo mangan suket, wagiyo mangan sega, den ngabehi dahar ingkung)

Jadi, dengan dasar berkembangnya budaya jawa (keraton) seperti itu, apakah kebudayaan jawa (keraton) akan bertahan? Dapat dipastikan Tidak! kecuali dalam etalase kaca untuk para turis.

enough for now, cekap semanten

tancep kayon

Anonymous said...

apa yang ditulis sebenarnya juga sudah terlintas di pikiranku, tapi juga jangan terlalu negatif memaknai perkembangan bahasa asing dan pemakaiannya di Indonesia.

lebih baik mendukung atau mengembangkan ide-ide baru untuk mempertahankan atau menghidupkan kembali budaya dan bahasa lokal (aku lebih suka pakai kata bahasa lokal, karena ini bukan hanya eksklusif bahasa jawa aja...), di samping menggunakan bahasa indonesia dan bahasa asing.

kalau matahari bisa posting karakter-karakter huruf jawa di blog ini, atau di blog komunitas supaya semua orang yang sama-sama pernah merasa belajar huruf jawa waktu SD bisa mengingat kembali, itu rasanya akan lebih konstruktif...

(bukan karena tersinggung skripsiku berbahasa inggris gitu...he...he....)

sukses, maju terus bangsa Indonesia dengan segala keanekaragamannya...

salam,
Teresa.

matahari said...

serius banget ik! :P

sip, analisa yg jeli, pak ajik.terimakasih atas pencerahannya. kalo boleh tau, daftar bacaannya apa aja yah?

apakah kebudayaan jawa (keraton) akan bertahan? Dapat dipastikan Tidak! kecuali dalam etalase kaca untuk para turis

menarik juga, karena dari obrolan kmaren juga diliat adanya kecenderungan kalo bahasa itu dipelajari secara keilmuan. bukan dipelajari untuk berkomunikasi ato hidup bermasyarakat tapi untuk dipelajari seperti sains pada umumnya. hanya selamat karena dalam kotak bernama kurikulum.

matahari said...

makasih teresa. bukan maksud bernada negatif, cuma mencoba lebih peka terhadap tanda2 jaman. yeah, seperti orang jawa yg suka otak-athik-gathuk :D

terimakasih atas usulan meng-upload aksara jawa di blog. tar gw tanya bapak buat nulis aksara jawa biar isa gw upload. basa jawanya "upload" apa ya? hehehehe...

teresa alamat blognya apa ya? sayang gak nyantumin. kan isa blogwalking.

suryasenja said...

Wuuih.. serius nih! :P

boku_baka said...

Baris pertama itu bunyinya.. "Iki Pajeg.." selanjutnya.. lupa2 ingat.. haduh!
eh btw namaku Budi lho.. nama standar Indonesia. "Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi. hehehehe.. :-)

Mpu Pallawa said...

Menika kinten2 sertan aks jawai Bpk Panjenengan.

" iki pajek
ana surat tandha kendaraan
khusus di cathet
sing ngati ati
aja ngebro"

sutresna
bapak / ibu
oki