Thursday, November 22, 2007

Hail the Expat (Wannabes)!!!

Setting: Lobi lantai 1 perusahaan BUMN yang ingin menjadi perusahaan kelas dunia.

Orang berkerumun di depan lift kelelahan yang butuh waktu lama untuk naik turun gedung bertingkat itu. Gw n semua anggota kelompok kerja fungsi sudah gak sabar buat cepet2 naik untuk presentasi di lantai 13. Gugup ngerayap di kaki gw karena kali ini gw bakal adep2an sama deputi direktur.

Gw cuma isa diem, tapi konsekuensinya parah. Gw jadi lebih peka dengan sekeliling gw. Hhhh, kepala ini penuh dengan hal2 yang gak penting. Gw jadi malah tambah gugup.

Pintu lift terbuka dan kami bergegas masuk. Beberapa orang sudah ada di dalam lift yang naik dari lantai ground termasuk dua gentlemen melayu perlente seumuran gw lengkap dengan jas mahalnya. They were speaking in English, um no, in “Melnglish” actually, “Melayu-English”. Tampaknya gentlemen terpelajar yang lama bermukim di luar negeri.

Pintu lift tertutup dan lift segera naik.

“Hahaha, not precisely like that, lah.” Mas-mas yang tinggi menimpali omongan rekannya.
“Aren’t you tired going to the same office everyday?” Mas-mas yang gemuk berkacamata melanjutkan.
“Yess, that’s right!”
“Going to the same office, meeting the same faces everyday”

“Hahahaha” they were laughing and chuckling together.

SFX: Ding!

Pintu lift terbuka, memperlihatkan lobi lantai dua yang sepi dari tamu.

“Wait, is this lift going up?” Si Gemuk menyadari sesuatu.
“Lho, we are going to go down, yess?”

Mereka pun bergegas mendesak maju untuk keluar dari lift. Mereka beruntung karena ada penumpang lift yang baik hati menahan pintu lift. Mungkin budaya di Indonesia Raya ini memang sangat berbeda dengan budaya di luar negeri. Di Indonesia jika panah naik berkedip berarti lift akan naik dan jika panah turun berarti lift akan turun. Entah bagaimana di negeri mereka berasal.

No comments: