Wednesday, December 31, 2008

Dari Atas Sini

Dari atas sini, Semarang selalu tampak berbeda. Dari parkiran atap Plasa Simpang Lima, gw gak ngeliat Semarang datar seperti biasanya. “Bird eye view” ini menampilkan bentuk tiga dimensi yang jelas dari Kota Loenpia ini.


Di bawah sana, Lapangan Pancasila Simpang Lima bersinar meriah. Di hadapan sisi utara lapangan berdiri hotel dan Citraland mall yang tampaknya menjadi pusar tempat gaul orang Semarang. Di sisi barat, Masjid Baiturrahman selalu menjadi ikon religius kota ini. Di sebelah selatan, di hadapanku, gedung kantor Bank Indonesia berdiri berlatar belakang Bukit Siranda. Berada seratusan meter sebelah barat Gedung BI, sebuah gedung yang mempunyai atap lebih luas dari lantai dasarnya dan mempunyai gubahan massa seperti berlian terpotong serta berdiri angkuh adalah Gedung Berlian, Gedung DPRD Jawa Tengah. Seperti terpahat dari bukit Siranda, grid tegas hotel Siranda yang tutup berbisnis karena ditinggalkan peminatnya muncul dari tebing menyerupai sarang lebah. Satu demi satu, “city scape” dari Semarang bangkit dari peta yang selama ini gw pahami.


Bukan cuma bentuk tiga matra ini yang tampil, tetapi kenangan-kenangan itu juga merembes keluar seiring gerimis malam itu.


Dari atap inilah gw pernah hunting foto bersama rekan-rekan AF, Arsitektur Fotografi, berusaha merekam gambar Simpang Lima di waktu malam. Di tempat ini jugalah gw serta kawan-kawan seangkatan Arsitektur Universitas Diponegoro mencari tambahan dana Kuliah Kerja Lapangan dengan menyelenggarakan lomba gambar. Citraland Mall adalah tempat alternatif melepas lelah setelah bosan melihat tandusnya Kampus Tembalang dan sapi yang berkeliaran di dalamnya. Masjid Baiturrahman selalu menjadi pelipur lara ketika harus beradu argumen di Lapangan Pancasila. Gedung Berlian mempunyai arti penting buat gw karena gedung itu merupakan tonggak sejarah dimulainya kehidupan gw sebagai seorang mahasiswa Arsitektur. Tepat dimulai dari sketsa cepat Gedung Berlian sebagai salah satu tugas OSPEK tahun 1998. Sedangkan Gedung BI memutar waktu lebih cepat ke depan, waktu ketika gw sebagai mahasiswa yang lebih dulu ambil beberapa mata kuliah desain berusaha menularkan sedikit ilmu Gambar Arsitektur kepada mahasiswa-mahasiswa baru.


Simpang Lima merupakan pansieve pot-ku.


Matahari : Kau tulis namaku dan namanya di kertas gambarnya, kan?

Ruli : Haha, mau inget-inget kenangan yang itu?

Matahari : Hehe, yang sedih-sedih jangan lah…

Ruli : Sesedih apapun kenangan itu, tetep masih jadi kenangan manis bukan?

Matahari : (senyum kecil) He eh…


Gerimis mulai menjadi deras. Sebuah Karimun hitam berpenumpang dua orang yang disatukan persahabatan turun dari atap Plasa Simpang Lima untuk menyusuri Semarang sekali lagi. Dua dimensi, rata, dan datar.


NB: Uf, maaf karena memakai banyak istilah arsitektur.

Thursday, December 18, 2008

Go To Sleep

Something for the rag and bone man
Over my dead body
Something big is gonna happen
Over my dead body
Someone saw someone's daughter
Over my dead body
This is how I ended up sucked in
Over my dead body
I'm gonna go to sleep
And let this wash all over me
We don't really want a monster taking over
Tip toeing, tying down
We don't want the loonies takin' over
Tip toeing, tying down our arms

Come to you as you sleep
I'm not gonna to sleep
And let this wash over me

Friday, December 12, 2008

Mendhoan for Everybody

Salah satu oleh2 yang gw bawa dari Semarang waktu balik ke Jakarta adalah resep mendhoan dari Bapak yang sudah lama gak gw cicipin. Maksud hati sih pas mudik mau minta dibikinin mendhoan, apa daya waktu dan kesempatan ga berpihak ke gw karena Ibu sudah sibuk dengan segala persiapan Lebaran. Jadinya Bapak ngebawain resep mendhoan biar gw isa bikin sendiri kapan pun gw pengen mengingat di kosan tersedia dapur lengkap dengan peralatan masaknya. Nah, silakan mencatat, print screen, ato co-paste resep berikut ini.


Resep Mendhoan

Mendhoan diambil dari kata “mendho” yang berarti setengah (matang) tetapi sebenarnya sudah matang. Bila digoreng kering disebut kripik.


Bahan2:

1. Tempe usahakan menggunakan tempe tipis yang satu bungkus hanya berisi satu tempe. Bila menggunakan tempe tebal, iris tipis2.

2. Tepung – gunakan tepung terigu, tepung beras, tepung kanji, atau campuran dari tepung2 tersebut

3. Minyak goreng

4. Bumbu – daun bawang diirs tipis2, ketumbar, jinten, bawang putih, garam (terserah menurut selera)


Cara menggoreng:

Bumbu2, tepung, dicampur dengan air secukupnya sampai kental. Tempe dicelupkan ke dalam adonan. Kemudian goreng ke dalam wajan dengan panas tertentu. Sebelum matang benar, angkat mendhoan. Mendoan siap disajikan dengan kecap plus potongan cabai.


Hehehe, kalo diliat memang resepnya sama sekali gak ada takarannya. Memang dibutuhkan kreatifitas dan cita rasa sendiri untuk membuat masakan lezat. Jadi feel free aja untuk memasak. Mungkin ini yang menyebabkan masakan Ibu pasti merupakan masakan yang paling lezat di dunia.


Mendhoan Banyumasan pada saat hujan2 kek gini selalu membawa romantisme sendiri. Ada yang mau nyoba bikin mendhoan?


Catatan kecil:

Percaya gak percaya, pada pagi harinya setelah semalam nulis postingan ini, gw menemukan setumpuk mendhoan di kantin belakang waktu sarapan. Hehehe, ternyata hanya masalah rajin mencari dan rajin pasang mata untuk menemukan mendhoan di ibu kota ini.

Saturday, November 29, 2008

Seperti Ada yang Salah

Dua bulan lalu. Ketika matahari sedang garang membakar Jakarta. Bau saluran Ciliwung menyengat. Hitam air dan buih entah apa gak menyurutkan niat sekelompok anak2 untuk menikmati riangnya bermain air. Sampai seorang pemuda yang sedikit terganggu dengan sedikit keceriaan diantara impitan riuh Ibu Kota memanggil Polisi Lalu Lintas. Dari senyum lebar pemuda itu, gw kira dia hanya mencoba menakut-nakuti anak2 itu dengan memanggil sosok Polisi. Pak Polisi yang tadinya sedang sibuk mengatur lalu lalang serta merta membunyikan priwitan yang kemudian disusul dengan suaranya yang menggelegar. Memperingatkan anak2 itu untuk segera keluar dari saluran Ciliwung.


Si pemuda tertawa2 senang melihat anak2 kecil itu berserabutan cepat2 keluar dari “kolam renang” tersebut. Secepatnya mereka memakai pakaian yang mereka tanggalkan di tepian saluran. Tetapi malang, si pemuda tidak hanya berhenti di situ saja. Dengan sigap, dia mengambil salah satu pakaian kumal itu dan mencoba menyembunyikannya di balik jaket yang dia kenakan.


Satu anak meringkuk di pinggir saluran, menggigil kedinginan di bawah terik matahari, di tengah hiruk pikuk Jakarta, dalam keadaan bugil. Teraniaya dan tak berdaya. Malu dan bingung harus menjelaskan kepada Bapak-Ibu kalau harus pulang tanpa pakaian.


Sepertinya ada yang salah sama penggalan kejadian yang terlalu sedih untuk terjadi.


Gw harus ngasih pekerjaan rumah buat Tata Kota Ibu Kota tercinta untuk membuat Ibu Kota ini lebih ramah dengan penghuninya. Jika anak2 sudah main gundu di trotoar, main bola di tengah jalan, dan menggunakan saluran buangan limbah sebagai kolam bermain, pasti ada yang salah sama perencanaan tata kota.


Gak seharusnya pula manusia sebagai manusia dewasa yang berakal sehat menyembunyikan pakaian anak2 yang mengakibatkan anak tersebut harus bugil sebagai suatu gurauan. Menurut gw (yang ngasal ini) hal itu bakal bikin dampak buruk bagi pengalaman masa kecil si anak. Gw kira ini sebagai salah satu contoh masyarakat yang sudah sakit.


Pak Polisi mungkin berniat baik dengan melarang anak2 itu bermain di saluran air. Karena bermain di saluran yang dalam, kotor, berwarna hitam, dan berbau busuk tentu saja membahayakan keselamatan anak2. Tetapi citra yang ditunjukkan Pak Polisi dengan segala atributnya plus priwitan dan suara menggelegar tentu saja membuat anak2 ketakutan. Apakah gak ada cara lain yang lebih arif untuk lebih mendekatkan polisi dengan penghuni suatu kota sehingga terjadi satu simbiosis mutualisme?

Friday, November 21, 2008

Yang Mana Yang Pribumi?

Suatu sore di dalam bajaj pada perjalanan pulang dari hari kerja kantoran yang melelahkan. Bajaj yang gw tumpangin bersama seorang teman tengah ber-zigzag ria di tengah kemacetan Taman Patung Pak Tani ketika supir bajaj memberikan pertanyaan yang membuat pikiran kami berpikir ulang mengenai “kebanggaan terhadap nilai luhur ketimuran” yang sering diagung2kan masyarakat bangsa ini.


Pak Bajaj : Mas, mas tau gak gedung yang ada Satpamnya itu gedung apa?

Matahari : Gedung yang mana, Pak? Gedung yang menghadap ke Gambir itu Kedutaan Besar Vatikan.

Pak Bajaj : Bukan itu, Mas. Yang itu tuh (nunjuk ke gedung di sebelah Disnakertrans). Yang dijaga Satpam.

Matahari : Ooo, orang bilang sih itu Gudang Arsip Kedutaan Besar Amerika. Emang knapa, Pak?

Pak Bajaj : (konsentrasinya tetap kearah jalanan walopun kliatan jelas dia agak gusar) Satpamnya belagu. Masak saya mogok di sana disuruh cepet nyingkir. Suruh maju-maju terus. Akhirnya malah disuruh ngeluarin KTP.

Matahari : Terus, Pak?

Pak Bajaj : Ya saya bilang saya gak ada KTP. Emang sapa dia suruh2 ngliatin KTP? Gak liat apa saya lagi kesusahan mogok.

Matahari : Mogoknya tadi, Pak?

Pak Bajaj : Iya, waktu itu saya nganterin penumpang ke Atrium Senen. Pas saya bilang saya gak ada KTP, Satpamnya bilang ‘Dasar lu pribumi gembel’.

Matahari : Dia bilang gitu, Pak? (mlongo dengan ekspresi ‘what the f**k did you say?’ yang sempurna)

Pak Bajaj : Iya, emang gak liat kalo dia juga pribumi? Hampir aja dia saya pukul pake besi starter yang ada di bajaj. Emang kalo sudah kebanyakan dikasi makan sama orang asing jadi kaya gitu ya, Mas?

Matahari : ….


Yang mana yang pribumi?


Dalam darah gw mengalir darah Bapak yang berasal dari Banyumas dan Ibu dari Kendal. Brarti gw memang gak isa dibantahkan dikelompokkan pribumi Jawa. Tetapi ngeliat leluhur Ibu yang ada di Pesisir Jawa Bagian Utara kok gw gak yakin kalo tidak ada dari mereka yang berasal dari Tanah Sabrang Lor. Atau malah kalo liat dari kuatnya pengaruh Islam di Kendal, gw jadi agak ragu kalo dibilang gak ada dari leluhur gw yang datang dari daratan Tiongkok.


Gw yakin pulak bahwa gak sedikit yang ngalamin kerancuan serupa. Katanya Batak tetapi ibunya orang Semarang dan lahir di Semarang tetapi gede di Bali. Katanya Padang tetapi lahir dan gede di Bandung, lebih lancar bilang “peuyeum” daripada ngomong “ayam pop”, malah lebih apal jalan ke Ciumbuleuit daripada ke Limapuluh Koto. Trus, bagaimana dengan mereka yang punya Bapak orang Jerman plus Ibu Jogja tetapi lahir di Washington DC?


Sekali lagi, pribumi itu yang mana?


Amerika saja punya Presiden blasteran keturunan Kenya yang pernah tinggal di Indonesia. Ya, negara mulia yang tempat arsip kedutaannya dijaga oleh Satpam itu sekarang punya Presiden berkulit hitam. Padahal penduduk asli (native) Amerika adalah bangsa kulit merah. Sekarang masih zaman ya ngomong “pribumi”?


Atau mungkin bener kata Adi Andojo Soetjipto, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang kehilangan harga diri (Kompas/13 November 2008)? Apakah penderitaan dijajah bangsa lain, pahitnya dikhianati para pemimpin bangsa, himpitan ekonomi, dan kenyataan bahwa warisan penjajahan ternyata masih dilestarikan oleh bangsa sendiri adalah hal2 yang menyebabkan bangsa ini kehilangan harga dirinya? Bagaimana mungkin sebuah bangsa lebih permisif terhadap bangsa lain tetapi represif terhadap rekan sebangsa dan setanah airnya? (polos mode: on!)


Kalo tuh Satpam udah terdoktrinasi atau udah dicuci otaknya sama yang ngasih duid perbulan buat ngejagain gerbang Selamatangkep beserta jalan masuknya, itu jadi masalah yang lain. Kalo ngerasa gak punya utang sama Negara ini walopun masih isa bebas bernafas, lepas berkentut, tiap malem kalo gak kena jaga malam masih isa ng*nt*t di dalam kamar rumah hasil kreditan KPR di Perumnas, pergi tugas jaga dari rumah lewat jalan mulus naik motor kreditan yang diisi pake bensin subsidi, makan minum masak pake minyak tanah subsidi, nyolok tivi isi sinetron pake listrik murah meriah, anak2nya masih isa sekolah di SD Inpres dengan fasilitas sekadarnya tetapi tentunya juga subsidi, dan guru2nya walopun dibayar murah tetapi statusnya PNS itu sih jadi masalah yang beda lagi.


Masalahnya bukan cuma “kehilangan harga diri kebangsaan” tetapi udah jadi masalah gak tau diuntung. Karena yang subsidi2 tadi gak lain dan gak bukan diambil dari pajak kristalisasi perasan keringet kuli2 yang dikatain “pribumi gembel” tadi.


Hiduplah Indonesia Raya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

Tuesday, November 18, 2008

Negeri Para Pendongeng

Gw denger dari orasi dan gw baca dari tulisan tuan-tuan serta nyonya-nyonya yang intelek nan berpikiran luas. Dari mereka yang mencoba menbangkitkan sejumput rasa kebanggaan atas bangsa ini maupun yang hanya berbual berharap mendapat tempat di Senayan.



Bahwa negeri ini sebetulnya tidak kekurangan energi sama sekali. Indonesia memiliki banyak sumber-sumber energi yang beragam jenisnya. Mulai dari minyak, gas, batu bara, panas bumi (geothermal), sampai nuklir. Belum lagi energi terbarukan lainnya seperti angin, air, matahari, biofuel, dan biogas.


Semuanya tersebar merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Tak sejengkal pun tanah di bumi Nusantara ini yang tidak mengandung karunia Tuhan. Semuanya dapat menghasilkan sesuatu bagi kebutuhan dan perkembangan manusia Indonesia. Bahkan bagi kebutuhan umat di dunia! Tongkat ditancapkan tumbuh pohon. Bukan lautan hanya kolam susu.


Gw yang apatis ini hanya bisa menggantungkan tanda tanya dalam kepala. Kira2 mereka semua itu menggunakan data yang berasal dari Biro Pusat Statistik ataukah dari Buku Dongeng Pengantar Tidur Anak, ya? Mungkin ide bagus jika menambahkan “dan akhirnya semua orang berbahagia selamanya” pada bagian akhir (mungkin) orasi keilmuan atau (sepertinya) essai ilmiah tersebut.


Kata orang pintar, data dapat mencerdaskan bangsa.

Tuesday, November 11, 2008

Bad

Suatu hari sebelum keberangkatan ke Makassar, sebuah SMS persiapan akomodasi nyamper ke inbox.

Sekretaris Centil : Mas, hotel yang di Imperial adanya 'double bad', mau ga? Sebab aku mau confirm sama sekretaris GM di sana.
Matahari : Double bad? Mau nyediain sekretaris d kamar hotel yang bad-nya double? Boleh pesen yang pake borgol dan cambuk?

Gw langsung kepengen cari tali pramuka dan kostum kulit.

Friday, October 31, 2008

SMS is Silaturahmi

On a hot October 14th, an SMS inboxed my cellphone. Ah, my dear Sugie_hmum… eh, Sugie_hapik is on the other part of the island.

Sugie_hapik : Hei… I’m on my way to Batavia :)
Matahari : Wow! Ada kursus lagi dari Kompas? Bareng Bimbim?
Sugie_hapik : Uji kompetensi naik tingkat jadi peneliti muda sesi wawancara (semoga lulus!) Yup, ma Bimbim nginep di Santika. Tetapi kali ini kamu ga bisa datang dengan bawa skantong cemilan berharap ngobrol semaleman hahaha…
Matahari : Hmmm, I wonder why…
Sugie_hapik : Not because there is a husband. It’s because a ring in my finger. Hehehehe, ga penting banget. Aku balik 16 pagi. Kabar2 aja sapa tau bisa just stopping by.
Matahari : Lho, who said anything about you? I thought Bim brings his wife. Are you sure it’s just the ring, not the thing called love and commitment?
Sugie_hapik : Hihihihi, nope, no couples this time. Just a thing that symbolize everything (or anything). But it’s OK to go out late at night with someone’s wife :P

Jah, I thought the true phrase is “laki-laki baik-baik gak kluyuran malam-malam sama istri-istri orang”*. Oh, Mr. Husband, something is wrong with your wife’s head.

*A gentleman never go out late with anyone’s wifes

Thursday, October 23, 2008

Gak Mumet Lagi

Menyapa seorang teman beberapa bulan lalu. Tampak ada sedikit perubahan dari log in sebelumnya. Dari yang tadinya Sugie_hmumet* ke Sugie_hapik**, gak banyak perubahan yang terjadi kan? Walaupun begitu, perubahan tersebut cukup fundamental. Perlu diketahui bahwa statusnya skarang adalah penganten baru. Waktu itu gw sempet datang ke nikahannya di Semarang. Aih, aih, tetapi gak gw sangka perubahan statusnya sampe di dunia maya.

Matahari : saiki YM-mu iki?
Matahari : ora sing mumet?
Sugie_hapik : kan udah ga mumet lagi
Sugie_hapik : ;))
Sugie_hapik : :”>
Sugie_hapik : bawa optimisme baru duong
Matahari : jadi obat mumetnya apa ini? ;))

Pertanyaan retoris yang akhirnya gw reka-reka jawabannya sendiri. Obat mumet ya kawin duoooonnng! Kwkokwokwowk….

* mumet (bahasa Jawa) : pusing
** apik (bahasa Jawa) : baik, sehat

Tuesday, October 21, 2008

Orbituari Pohon Beringin

Salah satu hal yang gw suka dari Jakarta Pusat adalah masih ada rerimbunan pohon yang meneduhkan. Baik dari jalur hijau yang memang diperuntukkan buat taman di Jalan Raya Kwitang (menyingkirlah kau wahai SPBU Kwitang fuhfuhfuh…), pohon2 yang terawat dari balik pagar bangunan Pemerintahan di sepanjang jalan Ridwan Rais dan Taman Tugu Tani, pohon2 liar yang tumbuh besar mengakar di beberapa lahan kosong, maupun pohon2 tua yang setia menaungi Menteng.

Karena berkat pohon2 inilah Jakarta masih isa bernafas di sela smog yang menggantung siang malam. Di bawah dedaunan itulah Penghuni Jakarta sejenak melepas penat. Melalui daun2nyalah lembar demi lembar sejarah tercatat dan dapat diputar kembali.

Maka tibalah pada bagian seperti yang tertulis di setiap cerita ninabobok, “…dan manusia pun menjadi congkak”.

Tiga bulan lalu, gw masih isa menikmati kerindangan beringin di Menteng Raya. Tetapi pas gw lewat tempat yang sama sebelum mudik ini, gw enggak nemu keteduhan yang biasanya gw rasain. Selidik punya selidik, ternyata pohon beringin yang biasanya bercokol di pinggir jalan, sudah tinggal batangnya aja. Hohoho, kejutan!

Memang, sebuah pohon di depan SPBU merupakan halangan sirkulasi maupun halangan visual. Benar, daun yang berguguran mengurangi estetika sebuah SPBU. Betul sekali jika akar pohon Beringin akan melemahkan struktur dan berbahaya bagi tangki timbun. Tentu saja itu semua buruk untuk bisnis. Bisnis? Hari gini kok enggak berpikir materialistis? Hari gini kok masih pake pendekatan romantis?

Siapa yang peduli bahwa pohon yang malang itu mungkin pernah jadi saksi perjuangan pemuda di Gedung Juang di Jalan Menteng Raya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat ia tumbuh?

Siapa yang pernah telaten menghitung berapa banyak karbondioksida yang pernah dia hisap dan oksigen yang pernah dia hasilkan selama dia hidup?

Siapa yang peduli di akar2nya banyak menyimpan air hujan sehingga orang2 yang menggunakan gedung2 sekitarnya masih isa menyiram jamban sehabis kencing dan berak?

Siapa yang bakal ngertiin bahwa setiap pohon punya hak yang sama kek manusia? Mencari makan, beranak pinak, mewariskan nilai2 kepada generasi selanjutnya, dan bertasbih atas nama Allah!

Nobody gives a sh*t coz it’s just a f*cking tree!!

Catatan kecil:
Jadi inget aksi yang digelar di lobi depan Gedung A kampus JAFT (gedung perpustakaan, pengajaran, dan ruang dosen). Aksi yang dimotori oleh salah seorang dosen yang berempati dengan ditebangnya pohon Nangka di belakang kampus untuk bikin perluasan gedung kuliah Kampus Planologi. Hal yang seharusnya isa dipikirkan dengan arif karena arsitektur adalah bagaimana ruang isa mewadahi aktivitas segenap penghuninya.

Wednesday, October 15, 2008

Baju Baru, Alhamdulillah (?)

Ya, sore itu gw liat tivi. Jangan salahin gw karena status jadi ‘pengangguran sementara’-lah gw jadi terpapar sama yang namanya infotainment (tayangan gosip ato apapun namanya itu). Artis yang tempo hari melakukan pencemaran pantai Ancol atas nama buang sial, kini nongol lagi di tivi. Kali ini doi lagi nyari baju baru buat Lebaran (liputan yang penting sekali, bukan?).

Sang Artis : gw udah siapin baju bersih, baru, wangi, beli dari Arab pulak! (dengan mata berbinar-binar dan muka berseri-seri) <<< seandainya aktingnya isa seekspresif ini, dia mungkin isa jadi aset seni peran bangsa.

Wow kakak, wooooow. Baju beli di Arab, ya? Udah liat labelnya blom? Kali aja buatan Cibinong.

Thursday, October 09, 2008

Hikmah Ramadhan (?)

Ramadhan telah berlalu, tetapi ada hal-hal yang datang mengetuk kesadaran gw hasil munajat sebulan penuh itu.

1. Zakat dan sedekah
Perbedaan dasar antara zakat dan sedekah terletak pada hukum yang mengikat keduanya. Jika sedekah tidak ada peraturan yang mengatur, sedangkat zakat ada terms n conditions yang berlaku. Jika saja orang2 mau memahami aturan2 yg benar, mungkin kejadian menyedihkan yang terjadi di Jawa Timur isa dihindari. Tetapi, ketika semua orang menyerukan untuk membagikan zakat melalui lembaga yang sudah ditunjuk, Gubernur DKI malah membagikan “zakat” sama seperti pembagian “zakat” di Jawa Timur. Jika pembagian zakat melalui amil (badan) zakat memang harus dilakukan, alangkah baiknya seorang Gubernur melakukan hal tersebut sebagai contoh untuk semua umat.

Mau berbentuk infaq, sedekah, zakat, hibah, wakaf, dan lain sebagainya, semoga aja bikin kita gak termasuk orang2 yang kuat menggenggam harta. Karena harta gak dibawa mati dan takut gak isa mempertanggungjawabkan kelak nanti di hari perhitungan akhir.

2. Puasa melatih diri
Menjaga hati, lisan, pikiran, dan segala tindakan. Lebih sabar, lebih isa melihat situasi dan kondisi. Duh Kanjeng Ibu, ingkang putra nyuwun gunging pangaksami. Hiks….

3. Trik sahur anak kos
Lebih praktis membeli sahur sehabis tawarih sehingga gak perlu kluar pagi2 buat cari sahur. Karena emang masih ngantuk atau daerah tempat kos jarang ada warung yang buka pas sahur. Tentu saja dengan sedikit trik, makanan yang sudah dingin tersebut isa menjadi tampak menggiurkan. Dengan memisahkan bumbu dengan sate, terbukti mampu membuat rasa sate menjadi lebih awet daripada dicampur.

4. Pemesanan tiket mudik
Atas nama kemudahan, pertimbangan harga, dan menghindari ngantri yang tidak masuk akal, rencanakanlah pembelian tiket mudik secara seksama. Pesanlah tiket sesegera mungkin setelah jadwal satgas diumumkan TT__TT

5. Pengaturan jadwal libur di kampung
Karena waktu libur yang terbatas, sebuah daftar harus dibuat. Sebuah daftar yang memuat apa saja yang bakal dilakuin, sapa aja yang mau dikunjungi, dan selalu buat rencana cadangan (penting sekali). Karena ketika temanmu bilang “Ya, nanti kita kontak-kontakan lagi”, itu artinya rencana cadangan harus langsung jadi prioritas utama. Karena gak akan terjadi kontak-kontakan seperti yang dijanjikan. Gak akan pernah terjadi walopun ditunggu sampe Lebaran Monyet pun. Not ever.

Saturday, October 04, 2008

Selingan Bulan Puasa

Panasnya September Jakarta membuat berpuasa menjadi lebih menantang. Di tempat yang tingkat derajat ke-terserah gw-an yang tinggi ini membuat semuanya isa terjadi. Shits happen in Jakartalah pokoknya. Orang dengan cueknya makan minum di trotoar, pengemudi gak sabaran membelok sana-sini, yang kreatif menaiki trotoar demi menghindari kemacetan, sementara yang lain membunyikan klakson tak kalah sengit. Ikhlas dan sabar menjadi komoditas yang langka.

Siang itu gw selese mencari barang2 bahan pokok untuk sedekah ke panti asuhan. Karena susah mencari lift ke lantai 5 dengan troli, alih2 menaikkan barang, kami mutusin nurunin mobil ke lantai ground. Gw dan temen yang berperan sebagai pengemudi (gw kan gak isa nyetir, teuteup…) menuju lantai 5 tempat mobil terparkir. Setelah melewati lautan massa (gw gak melebih2kan), akhirnya sampai juga di elevator naik ke lantai 5. Gw baru sadar kalo lantai 5 adalah food court. Serta merta aja gw rapal lagi niat puasa biar niatan gw kembali lurus.

Nawaitu souma godhin ‘an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati fardholillahi ta’aala… amien. Alhamdulillah.

Tetapi ternyata temen gw malah ngasi reaksi yang lain.

Sobri : Lon, kalo kaya gw sekarang (seorang suami), godaan terberat bukan menahan lapar dan dahaga. Kalo itu mah keciiiilll.
Matahari : Nah, trus?
Sobri : Kalo sekarang lebih susah menahan syahwat.
Berdua : Wuakakakaka…

Oooo, begitu, ya? Sebuah informasi yang berharga :D :D

Friday, October 03, 2008

Salam dari Depan Pintu

Satu jam terombang-ambing dalam kabin Mandala bikin gw terus mikirin rumah. Gw tepis pikiran2 buruk yang ada di kepala. Gw coba ngasih sugesti positif. Rasa lega menyeruak ketika gw liat kunang2 Semarang mulai menari di kegelapan dari balik jendela.

Kaki gw seakan gak nginjek runway yang basah oleh sisa air hujan. Gw terlalu bersemangat untuk segera sampai di rumah. Sesegera roda2 taksi menggilas aspal menepikan malam.

Gerombol Pacar Banyu, Adenium, Tapak Dara, dan sebuah pintu jati di balik rumpun Melati hiruk pikuk di pelupuk mata. Ada cinta menunggu di balik sana.

“Assalamualaikum!”

Friday, September 26, 2008

dari Kwitang ke Semarang

Hari terakhir bekerja di penghujung Ramadhan. Tinggal menunggu beberapa jam sebelum keberangkatan ke kampung halaman. Pikiran udah gak konsen ke pekerjaan. Ada beberapa surat yang harus ditindak lanjuti. Tapi pikiran gw lebih asyik berkelana ke ”Apa yang bakal gw lakuin nanti di rumah” atau ”Gimana reaksi Bapa-Biyung?” atau ”Mau ngapain aja sama Bapa-Biyung selama liburan?”.

Ah, pengen cepet2 sampe rumah mungil di pinggir kali. Membuka pintu jati dan berteriak, ”Assalamualaikum!!”

sahur dalam sms

SMS yg aneh dari dedekecil waktu gw coba ingetin dia buat sahur.


Sahur, Sahur...
Sayur, sayur...
Kalo sahur jangan lupa pake sayur
Jangan sahur di tempat tidur
Apalagi di atas kasur
Ayo segera ke dapur terus sahur
Baru lanjutin tidur


lha, sholat Subuhnya kapan? Huehuehuehuehehu...

Tuesday, September 23, 2008

ketawa sore hari

matahari: lebaran sebentaaaaaaaarrrrrrrrr lagi :D :D
mia: SENANGNYA YANG PULKAM
matahari: ihhh, hirooooooo (ngeliat avatar yg bergambar anak mia yg baru berusia 5 bulan bugil abis mandi)

matahari: lu gak balik?
mia: gak lon,
mia: kasian hironya
mia: takute macet ntar dia kecapean di jalan
matahari: iya sih
matahari: naik pesawat aja
mia: halah!
mia: bertiga berapa???????
matahari: tergantung, mau turun di bandara ato turun di tengah jalan?
matahari: wokwokwokwowkokwokwowkow =)) =))

Tuesday, September 09, 2008

Gw dan Disain Grafis

Bermula dari disposisi Boss Besar yang (hanyaTuhan yang tahu dari mana “transformasi” ini bisa dimulai) langsung nunjuk ke bagian gw untuk bikin kerjaan tahunan yang menjadi sangat penting di Indonesia, terutama Jawa. Setiap tahunnya, menjelang Ramadhan berakhir dan beberapa minggu setelah itu, mudik selalu menjadi fenomena besar. Karena bagian gw ngurusin peta-petaan, makanya langsung tunjuk hidung bahwa tahun ini jalur mudik harus dapat di-akses secara on-line.

Jadilah beberapa minggu ini gw ngiter antara Jakarta-Bandung buat konsolidasi bikin situs jalur mudik. Sementara program diolah, cara mengemas peta dalam situs juga harus dipikirkan. Atas inisiatif sendiri krn kepepet, gw akhirnya ngoprek adobe illustrator dan sotopop lagi untuk bikin layout web-nya. Keknya idup gw emang ga boleh jauh2 dari dua piranti lunak ini. Apa mungkin harus dilengkapi dengan dreamweaver? Lengkap sudah penderitaan ini.

Oioi, gw pemasar retail neeeeeeeeh!?!? (apakah nanti bakal balik lagi ke desain? Hikhikhik, tunggu saja tanggal mainnya).

Ah, apapun itu, gw dengan bangga mempersembahkan Info SPBU Jalur Mudik 2008. Silakan akses, mohon kritik dan saran.

Tuesday, September 02, 2008

Sesedih Judulnya

Dini hari 11 Agustus 2008, gw terbangun krn ada SMS masuk ke inbox. Gw lirik jam pada pojok layar ponsel, masih pukul 3:40. Gw pun memutuskan untuk terlelap lagi, tak kuasa menahan kantuk malam itu.

Baru esok pagi gw buka SMS tersebut. SMS dari Oyabun Ray untuk semua anggota grup Komikers rupanya. Sepenting itukah sehingga harus mengirim SMS pada dini hari? Segera gw puaskan rasa ingin tau gw.

Hai, teman2. Hari ini komikers telah resmi dibubarkan! Saya Rayteda memohon maaf sebesar2nya jika ada kesalahanselama 5 tahun terakhir ini ^__^ saya berterima kasih sebanyak bintang di langit untuk pertemanan kita selama ini, team work, dan segalanya! Tentunya nanti kalau ada royalty masuk akan saya kabari! (beserta scan bukti terima royalty, tlg sms alamat email kalian dan no rekening, ya!). teruskan perjuangan kalian di komik, guys. Semoga suatu (hari nanti) kita bisa bertemu lagi sejajar sebagai sama2 komikus! Okay! Gutlak dan tengkyu…. Buat teman2 yang masih jalan project-nya, pastinya nanti masih saya bantu ^__^

PS: tolong teman2 yang lain dikasi tau, yah! Dan juga, mulai beberapa hari ke de[an, e-mail Komikers, Yahoo Messenger, website, dan nomer HP ini sudah tidak saya pakai lagi, nanti kalau saya sudah menemukan nomer yang bagus akan saya kabari lagi hehehe…

See you!

Best regards – RaytedA/AdetyaR

FAQ: rayteda@yahoo.com , friendster.com/komikers, komikers.deviantart.com

Sangat gamblang dan jelas. Komikers bubar jalan. Setelah menjadi saksi pecah kongsi lima tahun silam, gw harus menjadi saksi tenggelamnya Komikers. Gw sendiri memang gak isa jadi artis yang baik. Gak produktif sama sekali sejak empat tahun yang lalu. Mungkin inilah yang terjadi pada banyak artis Komikers. Apalagi tersiar kabar bahwa Elexmedia Computindo enggak lagi terima naskah anak2 negeri sendiri. Gw bayangin Oyabun Ray harus menghadapi halangan dan rintangan macam ini. Belum lagi ancaman pecah kongsi dengan artis Komikers sendiri.

Well, gudluk Oyabun Ray. Mungkin gw gak isa nemenin jalan lo, tetapi gw tunggu elo di padang rumput Prontera. Di mana kita isa pergi ke mana saja, seiring angin Midgard berhembus.

Sunday, August 31, 2008

Persiapan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan yang dimulai dari awal bulan membuat Atrium Senen semakin padat. Gaji sudah masuk rekening dan adanya alasan untuk membelanjakan duid, mengharuskan gw antri panjang di antara orang yang (semoga saja) mempersiapkan diri menyambut bulan suci.

Persiapan gw antara lain:
1. potong rambut cepak abis (rambut sudah sangat merepotkan dan rambut cepak mudah merawatnya)
2. sekantung bubur instan, susu cair, panci kecil untuk menjerang air
3. telpon Bapa – Biyung sambil bales2in sms Ramadhan yang masuk ke inbox
4. mandi besar
5. dan tentu saja (ah, mana dia?) Al Quran mungil, sarung, plus sajadah

Resolusi tahun ini gak muluk2. Cukup makin rajin plus khusuk sholat, baca Al Quran, dan ngilangin kebiasaan pundung.

Ari-sensei pernah bilang ke gw. Kalo sebelum Ramadhan, bisa dipastikan akan turun hujan. Mungkin saja cuma omongan dari kampung yang bersangkutan, tetapi sore ini, Jakarta diguyur hujan. Sangat menyejukkan.

Ok, kalo begitu. Mari menyambut Ramadhan.

selamat menempuh bulan ramadhan

Nanti malam sudah tarawih pertama di bulan Ramadhan tahun ini
Beberapa dari kita beruntung mendapatkan keluarga baru untuk bersama-sama menempuh bulan suci ini
Tetapi beberapa juga harus mulai melewati Ramadhan tanpa orang yang mereka cintai
Gw kangen Bapa n Biyung
Kali ini Ramadhan kedua yang harus mereka lewati tanpa anak2nya
Heeeeh, may the force be with us
Selamat menempuh Ramadhan tahun ini

Saturday, August 23, 2008

secret smile

Ditinggal sejak dari tengah minggu, gw cuma isa nyanyi2 sendiri di kamar kecil, sumpek, nan berantakan. Humph.... Bawain oleh2 dari Bali, ya. Senyuman segar dari kampung halaman mungkin?

Nobody knows it but you've got a secret smile
And you use it only for me
Nobody knows it but you've got a secret smile
And you use it only for me

So use it and prove it
Remove this whirling sadness
I'm losing, I'm bluesing
But you can save me from madness

Nobody knows it but you've got a secret smile
And you use it only for me
Nobody knows it but you've got a secret smile
And you use it only for me

So save me I'm waiting
I'm needing, hear me pleading
And soothe me, improve me
I'm grieving, I'm barely believing now, now

When you are flying around and around the world
And I'm lying alonely
I know there's something sacred and free reserved
And received by me only


sumber: www.lyrics007.com

Thursday, August 07, 2008

Something is Missing

Lain kali, jika kamu menginginkannya
Terbungkus rapi dengan pita mungil sebagai penghiasnya
Tersedia di meja riasmu sebelum kamu memulai hari
Katakan saja
Tetapi jangan sebut aku tak pernah memberikannya padamu
Karena pengingkaran selalu menyakitkan

Friday, June 13, 2008

Ada Kamar Murah untuk Disewa?

Karena kenaikan harga listrik, kosan tempat gw ngendon membuat kebijakan untuk menaikkan harga sewa kamar. Gak nanggung, harga kenaikan ini sampe setengah juta rupiah sendiri.

Kamar yang gw pake ini adalah kamar “subsidi”. Maksudnya, kamar ini ditawarkan dengan harga AC, tetapi boleh gw sewa dengan harga non-AC. Berarti si induk semang harus rela merugi investasi yang gak balik atas pemasangan AC tadi. Padahal, karena memasang AC berentengan, berarti voltase yang dia pakai di rumah ini cukup untuk membuat PLN mengklasifikasikan rumah ini kena tarif listrik non-subsidi. Jadi, karena alasan itulah, harga kamar harus naik 200k dan gw harus menyewa kamar lengkap dengan AC-nya (artinya tambahan 300k untuk sewa AC). Secara total, gw harus ngeluarin 1,25 jt setiap bulan untuk isa ngendon di kamar tersebut.

Beuh, dengan harga segini, keknya sebenernya cukup untuk mencicil kredit rumah sederhana di kampung.

Hear yee, hear yee, adakah kamar murah untuk disewa di sekitar Kwitang?

Wednesday, June 11, 2008

Gw Direktur?



Sejak kapan gw jadi direktur? Ya sudahlah, dianggap doa saja. Amiiiiiiiiiiiiiiiieeeeeeeennnnn.

Monday, June 02, 2008

Before the Gig

Behind the stage of a small club in Seattle just before the Smashing Pumpkins' gig. The Smashing Pumpkins performed with 50 professional clowns on the stage playing ‘Geek USA’. James Iha n Nathan Larson from the band Shutter gave instructions to the clowns what was the gig is all about n what is funny.

James Iha : What we wanna do is kinda incorporate clown, funny thing, with the rock and roll vibe
Nathan Larson : An alternative rock
James Iha : Right…
Nathan Larson : Scenario with the…
James Iha : The big, the big nose is funny, yes it is funny
Nathan Larson : The big nose is funny
Nathan Larson : The big pants, the big pants are funny
Nathan Larson : The big tie is funny
Nathan Larson : That hats are, uh, perhaps could go
Nathan Larson : Now, have I mentioned?
Nathan Larson : People, those people who smoke, remember that the, uh, funny noses are indeed flammable
James Iha : Funny noses…
Nathan Larson : Now, fire is, fire is funny, but a flaming clown…
James n Nathan : Is not funny
Clown Manager : All right, all right, you clown. Let’s go now
James Iha : Okay…
Nathan Larson : All right…
Nathan Larson : It’s time to go.
Clown Manager : C’mon, c’mon
James Iha : People, let’s have a good day today
Billy Corgan : Let’s go kill ’em

(the scene was taken from the Smashing Pumpkins 1991-2000 Greatest Hits Video Collection)

Sunday, May 18, 2008

Akurasi, Akurasi, Akurasi

Gw masih inget dinding ruang putih berplafon gipsum itu terpasang plakat berjajar. Sebagian berisi motivasi diri, sebagian lain berisi aturan2 ’emas’ jurnalistik. Sedikit banyak gw ngerasa gak semestinya gw ada di ruangan ini. Tapi kala itu, program pelatihan kantor mengharuskan gw bersama kru produksi redaksi menghabiskan jadwal pelatihan grafis bersama GM Sudharta selama beberapa hari.

Yang paling menarik adalah salah satu plakat yang bertuliskan kata2 mutiara dari Pulitzer, seorang tokoh jurnalistik yang namanya diabadikan menjadi penghargaan tinggi di bidang jurnalistik. Tertulis dengan ukuran huruf besar-besar ’Akurasi, akurasi, akurasi’. Betapa kata ’akurasi’ merupakan hal dasar yang teramat penting sehingga harus diulang tiga kali dalam satu kalimat. Gw rasa media massa memang sepatutnya memegang teguh prinsip tersebut mengingat efek media yang luar biasa terhadap khalayak ramai.

Masih seperti ada di depan gw, salah seorang editor senior koran terkemuka di Jogja pernah bilang, ”Akurat n gak akurat itu seperti gol dalam sepak bola. Walopun tipis bedanya, gol dan hampir gol punya perbedaan prinsip yang sangat dalam. Membuahkan nilai atau tidak sama sekali. Akurat, atau tidak akurat sama sekali”.

Keakuratan adalah hal yang gak gw temuin di salah satu majalah mingguan terkemuka di Indonesia yang gw baca sembari menunggu boarding di Bandara Ngurah Rai, Bali. Pada sepotong artikel tentang konversi minyak tanah ke LPG di Jakarta yang menarik perhatian gw. Ada sedikit hal mengganggu di dalam tubuh berita tentang penyebutan nara sumber yang dikutip majalah tersebut. Djaelani Sutomo bukanlah Direktur Bahan Bakar Minyak Pertamina, bahkan gak ada jabatan seperti tersebut di dalam tubuh organisasi Pertamina.

Memang remeh sekali. Salah sebut jabatan, gelar, tempat, ato UTBHGPL (Urusan Tata Bahasa dan Hal Gak Penting Lainnya) memang jamak terjadi di media massa. Mungkin memang gak sebegitu penting dibandingkan dengan nilai dari berita tersebut. Bisa saja (mungkin kalo redaksi majalah tersebut paham kesalahan yang mereka perbuat ato setelah ada surat keluhan resmi dari yang bersangkutan) majalah terbitan terbaru hanya memuat ralat bahwa Djaelani Sutomo itu bukanlah Direktur Bahan Bakar Minyak Pertamina, melainkan Vice President Pemasaran Bahan Bakar Minyak Retail. Tapi ketika satu sisi berita sudah tidak akurat, apalagi yang isa kita percayai dari berita tersebut? ’Akurat, atau tidak akurat sama sekali’.

Catatan: Semakin hari, gw semakin sensitif sama yang namanya berita tentang minyak dan gas. Tanyalah kenapa.

Kenalan Gak Kenalan, Itulah Pertanyannya

Hampir tengah malam saat sebuah message YM muncul di layar;

poppin lof: lo msh sm tika khan??
ulat_busuk: masih
ulat_busuk: napa lo tanya kek gitu
ulat_busuk: /?
poppin lof: di fs loe kyknya status loe singel dah
ulat_busuk: dari dulu status gw single
ulat_busuk: emang gw udah kawin?
ulat_busuk: lagian, apa status di frenster itu penting?
poppin lof: ha ha ha ha
poppin lof: iya siy
ulat_busuk: napa lo nanyain status gw?
ulat_busuk: ada hi quality jomblo?
poppin lof: he he
poppin lof: banyak kali di tans
poppin lof: tapi gue belum banyak kenal juga siy
ulat_busuk: halah
ulat_busuk: percuma lo kerja 16 jam sehari selama 3 bulan ini kalo lom kenal cewe2 trans ato pengisi acaranya
ulat_busuk: bah!
poppin lof: he he he
poppin lof: jadi malu
poppin lof: tenang brooo
poppin lof: give me more time

Kali lain setelah obrolan gak penting itu;

ulat_busuk: piye, udah kenalan sama Mbak2 di Trans?
poppin lof: udah sebagian
ulat_busuk: bagian yg mana?
poppin lof: pi gak kenalan gitu
ulat_busuk: wardrobe?
ulat_busuk: itu mah bencoooonnnnnggggggg
poppin lof: bukan
poppin lof: ha ha ha ha ha
ulat_busuk: halah, kok gak kenalan?
ulat_busuk: lo cuma ngliatin dari jauh aja?
poppin lof: gak kenalan nama
poppin lof: cuma sama2 tau aja
poppin lof: dy user
poppin lof: gue editor
poppin lof: he he he he

Sepertinya gak ada peningkatan T____T

Saturday, April 19, 2008

Bagaimana Cara Membunuh Fantasi?

Ada yang tahu caranya?
Karena aku sudah terlalu lelah

Dulu aku terbang dalam fantasi
Tapi aku memotong sayapku
Karena orang bilang fantasi tak dibutuhkan orang yang telah dewasa

Kini apa bagusnya aku?
Tak bersayap tapi terus berfantasi

Adakah yang tahu bagaimana cara membunuh fantasi?

Karena getir kenyataan merongrong jiwa
Karena pahit kejujuran adalah katalis korosi cinta

Beritahu caranya
Agar aku bisa hidup selayaknya manusia normal
Tak mempunyai jiwa dan penuh cinta yang berkarat

Akhir dari Keliling Indonesia 2008

Rangkaian akhir dari Workshop Kantor yang dilakukan di setiap Region mengalami sedikit penyesuaian. Workshop yang seharusnya diadakan di Manado akhirnya dijadwalkan ulang di Surabaya. Hal ini dikarenakan adanya pembekalan Sales Representatif (SR)yang baru diangkat tahun 2008 oleh Bapak Vice President (VP). Sempet dibikin pusing karena harus menyesuaikan jadwal workshop dan konfirmasi kehadiran para peserta.

Workshopnya sendiri berlangsung sukses. Walaupun hanya terselenggara selama satu jam dari satu hari yang seharusnya dijadwalkan. Hal itu karena acara pembekalan molor tak karuan. Acara2 dadakan yang gak ketahuan tujuan dan hasilnya terus bermunculan di tengah acara. Alhasil, acara workshop baru terselenggara pukul 17.30. Padahal pukul 19.00 acara dilanjutkan makan malam di Restoran Handayani di tengah Kota Surabaya. Maunya sih datang tepat waktu, tapi kalo diitung2, jam 18.30 acara workshop baru kelar, ngopi2 bahan 15 menit, perjalanan dari kantor k hotel 15 menit, naik ke kamar 15 menit turun lagi ke resepsionis karena kunci kamar gak isa buat ngebuka kamar 5 menit, nunggu pemrograman kunci 10 menit, naik lagi ke kamar 5 menit, ganti pakaian sekenanya n turun ke loby 10 menit. Wew, baru pukul 19.45 gw baru isa berangkat dari hotel. Lupakan bus yang sudah berangkat 15 menit sebelum gw turun ke loby. Untungnya ada temen SR yang nungguin gw.

Acara makan malam yang ceria cepat berubah menjadi Karaoke Showdown. Dari temen2 SR masing2 Region dipanggil bergiliran untuk memanaskan panggung. Sebagai penutup, Bapak VP sendiri yang menggoyang massa. Seperti masih kurang, SR yang semuanya anak2 muda kurang pergaulan yang ditempatkan di pelosok Indonesia ini melanjutkan acara Karaoke Showdown ke InulVizta deket hotel. Beruntungnya kami yang menginap di Town Square Suites. Pukul 1.30 lewat tengah malam, acara berakhir dengan menghasilkan badan capek, mata perih akibat rokok, n tenggorokan serak akibat menjerit2 (siapa bilang di tempat karaoke itu kita menyanyi?).

Pukul 9 pagi gw bangun dengan kepala seperti diinjek2 gajah. Mungkin terlalu capek, menyanyi sampe gila, n pil Decolgen memang gak cocok untuk upaya penyembuhan influenza. Akhirnya gw sarapan dengan modal menyikat gigi, mencuci muka, n ngabasahin rambut ala kadarnya. Rombongan orang2 kantor udah pada cabut ke Batu untuk wisata agro memetik apel. Tapi gw punya agenda sendiri; ngebenerin kopor yang rusak, packing, n brangkat k bandara buat balik ke Jakarta dengan pesawat pukul 13.00.

Dengan sedikit tenaga, kopor itu akhirnya dapat dibuka dengan benar. Sebelumnya, kunci kopor gak mau ngebula. Jadi gw harus ngebuka resluiting dengan paksa buat ngeluarin baju. Setelah packing sekenanya, gw siap jalan ke bandara.

Sesampainya di bandara, ternyata dengan alasan operasional, penerbangan pukul 13.00 kudu ditunda sampai jam 14.50. Dua jam luntang-lantung di Bandara Juanda ternyata bikin mood gw jadi agak jongkok. Apalagi ternyata sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta gw disambut sama hujan deres. Entah hilang ke mana saja waktu gw, tapi begitu gw duduk di bus, jam sudah nunjuk ke angka 17.30. Masih di tempat yang sama, gw ngeliat pelan2 jam di atas tempat sopir nunjuk ke angka 18.00. Bah, mau sampe kapan ini bus ngendon di sini? Pukul 18.15 bus mulai bergerak.

Berangkat ke Jakarta?
Benar, tapi jangan lupa, bus ini harus memutar ke Terminal Kedatangan 2 dulu sebelum masuk ke jalan tol.

Menunggu lagi dong?
Benar sekali.

Setengah delapan malam, bus sudah masuk ke area parkir Stasiun Gambir. Artinya, sekali lagi gw harus pindah moda transportasi untuk sampe ke kosan. Gw pikir, mungkin kali ini gw pilih naik bajaj. Karena taksi gak bakal isa sampe ke depan kos persis, padahal badan gw capek n kpala masih ngalamin sensasi yang dirasain Mie Remez kalo mau dimakan.

Ah, home sweet home. Biar plafon teras kamar masih bolong krn hujan, tapi kamar sudah dalam keadaan rapi (sebentar lagi pasti berantakan) karena sudah dirapiin oleh pembantu ibu kos selama gw pergi. Heeeh, rencananya malam ini habis mandi trus minum Decolgen. Bukan buat ngusir flu, tapi pil ajaib itu adalah obat yang ampuh buat ngedatengin kantuk.

Wednesday, April 16, 2008

A Bump in the Head

Ibnu-sensei : Udah, lu ke Pontianak aja. Jadi WP (Wira Penjualan)* ikut gw. Ngapain lama-lama di Pusat?
Ari-sensei : Hahahaha, iya, Lon. Lu ke Pontianak aja ikut Pak Ibnu.


Heee, ucapan seperti yang dibilang Ibnu-sensei gw denger hampir tiap kali gw nyamper ke kota yang gw datengin. Sebuah tawaran untuk menjadi WP, satu posisi strategis yang banyak didamba para pekerja perusahaan ini, yang berdatangan dari Sales Area Manager maupun dari General Manajer Bahan Bakar Minyak Retail setempat. Maklum saja, pada organisasi baru perusahaan ini, perlu banyak Sumber Daya Manusia yang sayangnya gak sesuai dng timgkat ketersediaannya. Akibatnya setiap unit operasi seolah berebut untuk mendapatkan orang yang kompeten buat mengisi posisi kosong dalam organisasinya.

Anyway, gw di Pontianak? Makjaaaaaaaaaaaannngggggg........

Moral cerita kali ini adalah masih banyak kesempatan, guys. Tetaplah berusaha.

*Sekarang disebut SR – Sales Representatif

Monday, April 14, 2008

Hangat Hujan Di Pinggir Kramat Raya

Perempuan tua dalam jilbab lusuh
Lamunannya mengambang di atas api tungku tambal ban
Cahaya yang lemah berkejap di sela2 hujan
Memantulkan kegundahan dalam tiap percik airnya
Nggrejih

Langit merah Jakarta tak menunjukkan keramahan
Bahwa hujan akan segera berhenti

Bau minyak tanah dan karet terbakar adalah penebusan akan hangat nyala api
Sehangat itulah yang ia dapat
Sampai nyala api mengecil
Tandas bersama sisa minyak tanah

Malam masih sangat muda di Kramat Raya

Sunday, April 13, 2008

Legenda Urban; Seni Menawar Oleh-oleh

Sopir bus yang gw tumpangin dalam perjalanan menuju Pasar Seni Sukawati mengingatkan kepada semua penumpang, “jika nanti menawar, tawarlah 30% dari harga pembukaan dari penjual.”

Seperti mendapat rabat 70% saja. Siapa yang gak ngiler? Berasa memperoleh keringanan dari formula harga tersebut, banyak dari kamerad sejawat manjadi gelap mata. Paying, baju, kalung, tas, topi, sandal sampai hal2 yang gak berguna pun tak luput dari lapar mata. Maka banyaklah duid berpindah dari kocek para pelancong ke pundi2 penjual oleh2 n karya seni di pasar tersebut. Pelancong pun senang hati karena mendapat barang yang luar biasa murah dengan kepiawaiannya menawar.

Tapi kalau gw isa dapet tas seharga Rp 65.000 dengan membayar Rp 12.000 aja n sandal Rp 45.000 dengan harga Rp 10.000, apakah ini tidak berarti sesuatu?

Bukan, ini bukan berarti gw yang pinter nawar.

Berarti, tas harga tersebut hanya 18,5% dari harga awal dan sandal tersebut gw dapet 22,2%-nya aja. Jadi, ditawar sampe 20% pun sebenernya penjual masih dapet untung karena toh barangnya boleh dibeli. Secara rata2 kalo pembeli memakai formula 30%, sebenernya penjual masih punya marjin 10% per item.

Pertanyaannya adalah, ke kantong siapakah 10% tersebut akan mengendap?

Ah, masak iya sih penjual karya seni segitu pelitnya sampai enggak ngasih bagian ke para pengiklannya? Siapa? Ya itu, orang yang menyebarkan legenda urban ‘formula 30%’ untuk pertama kali.

Friday, April 11, 2008

Tour de Indonesia

Jadilah gw muter2 Indonesia dalam dua minggu ini. Karena kebutuhan pekerjaan, gw harus ke Bandung, Jogja, Bali, Medan, Palembang, Balikpapan, n Manado. Gawean gede ini dibagi jadi dua tahap. Tahap I ke Bandung, Jogja, n Bali dijadwalkan 23-29 Maret 2008, sedangkan sisanya digeber tanggal 5-12 April 2008.

Capek pastinya pindah-pindah dari satu kota untuk kemudian besoknya berpindah lagi ke kota lainnya. Gw pengen nikmatin perjalanan ini. Itung-itung anggep aja sebagai liburan. Ongkos yang harus ditebus mungkin ada satu dua barang yang tercecer ato tertinggal selama perjalanan, tapi ya sudahlah. Coba jalani apa yang ada di depan mata.

Thursday, April 10, 2008

Fancy for a Sushi or Two?

Matahari : “Do you have an empty space for a sushi or two?”
Restless Mell : “Do you mean an empty space in my stomach? Of course I have!”

SMS tadi berarti tanda jadi untuk mencoba sebuah restoran sushi kecil di Legian, Bali, yang lain hari direkomendasiin sama Restless Mell, temen Freakschool yang saat ini cari penghidupan di Bali. Yang bikin gw tertarik adalah promosi Mell bahwa harga satu sushi set hanya berbanderol Rp 45.000 aja. Bahkan di negeri asalnya, sushi bukanlah makanan yang murah karena kesegaran bahan2nya harus dijaga benar2.

Sushi Set

Begitulah, obrolan mengalir begitu saja ditemani berpiring-piring sushi, sake, ocha, gohan, n mie soba. Sampai pada saat kita sadar bahwa restoran itu memutar Degung, gamelan Sunda, sebagai latar pembangkit suasana di tempat itu. Jadilah hari itu kami makan sushi, dengan background Degung, di Legian, Bali.

Selamat datang globalisasi.

Bali, Bali, Bali!!

Salah satu alasan Sunshowers lama gak ada update-an selain kemalasan gw adalah gw kudu ke Bali untuk rapat yang diadain di The Patra Bali; Resort & Villas, Bali. The Patra Bali ini berada di dekat Bandara Ngurah Rai, tepat di sebelah DPPU (Depot Pengisian Pesawat Udara) Ngurah Rai, dan di pinggir pantai yang terhubung langsung dengan Pantai Kuta yang hanya berjarak 20 menit jalan kaki menyusuri pantai dari belakang hotel.

Beruntungnya gw yang blom melakukan reservasi sebelumnya, kamar gw terpaksa di-upgrade dari tipe deluxe ke tipe studio. Tarifnya gila. Tipe deluxe “cuma”
$200/malam sedangkan tipe studio $250/malam. Tanpa dibayarin kantor, mimpi aja gw gak berani nginep di sini. Lumayanlah, dibayarin kantor buat nginep dari Minggu sampai Jumat (itu enam hari, brarti 6x$250 = $1500 = 1500xRp 9.800,- = Rp 14.700.000,-). Nolnya banyak banget. Gw rela nginep di tempat sodara ato hotel ecek2 asal duid penginepan tadi dikasih mentahannya.

Pemandangan Belakang Kamar


Huahahahaha, jumlah biaya enam hari nginep bahkan lebih gede dari dua kali pendapatan gw tiap bulannya.

Kamar gw berada di paling ujung belakang hotel. Itu berarti kamar gw berhadapan dengan pantai secara langsung dan tiap hari gw memandangi lautan n menikmati matahari terbenam Bali yang terkenal itu. Hidup terasa tenang dan damai. Kalo lagi di kamar, gw paling seneng ngebuka pintu geser kamar agar hawa laut n hangat matahari masuk lewat celah2 daun kelapa.


Sunset

Tetapi masih ada pemandangan lain selain pemandangan surgawi belakang kamar. Pasalnya, menurut kakak ipar gw yang bekerja di DPPU Ngurah Rai, sebelah kamar gw di balik tembok pagar hotel, terdapat tampungan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) DPPU Ngurah Rai. Artinya itu adalah limbah buangan yang beracun n berbahaya bagi lingkungan. Serta tentu saja DPPU itu punya beberapa tangki timbun, dan bukan kejutan pula kalau tangki timbun tersebut berdiri gak jauh dari kamar gw. Atap tangki timbun akan kelihatan jika gw berdiri di tembok taman. Berita yang agak menenangkan adalah bahwa K3LL (Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan) DPPU Ngurah Rai sudah bersertifikat ISO n kenyataan bahwa avtur(1) mempunyai flash point(2) yang tinggi.

Surga dan neraka memang tipis bedanya.

Selain rapat, agenda gw selama di Bali adalah tur de family (ke rumah Pak Dhe (kakak Kanjeng Ibu), ke rumah kakak sepupu (anak Pak Dhe), n ke rumah kakak ipar (yang kerja di DPPU tadi, suami anak perempuan kakak Kanjeng Ibu)), ketemuan sama Restless Melanie (temen lama, anak Freakschool), jalan2 ke Kuta, makan di pinggir Pantai Jimbaran, ngelongok Tanah Lot, n gak lengkap kalo gak blanja di Pasar Seni Sukowati.


Menu di Jimbaran

Oleh2nya? Cerita n foto di blog aja kali, ya? Huehuaheuaheuaheua…..

Pasar Seni


Keterangan:
(1) Avtur (aviation turbine) : termasuk dalam spesifikasi kerosene, di Indonesia lebih terkenal dengan nama Minyak Tanah, banyak dipakai untuk bahan bakar kompor dapur, flash point minimal: 38o Celcius atau 100o Fahrenheit
(2) flash point (titik nyala) : suhu terendah ketika uap bahan bakar yang perbandingannya telah cukup dengan udara akan menimbulkan nyala api (menurut uji Abel)

Java Jazz Anyone?

Seperti yang kita ketahui semuanya, Java Jazz tengah digelar di Jakarta tanggal 7-9 Maret 2008 ini. Sementara di kantong gw cuma ada gundu, gelang karet, dan remahan biskuit. Sama sekali gak ada duid. Terpaksa harus puas dengan ngebaca laporan di Koran Kompas tiap harinya. Biar gak isa nonton langsung, gw punya cara lain buat nikmatin Jazz. Gw buka semua file MP3 Jazz yang gw punya, gw urutin di playlist n Mary-Star gak henti2nya nge-Jazz dari pagi sampai larut malem. Menyedihkan sekali…

Kegatelan

Suatu sore setelah perjalanan dari dinas luar kota, gw nyamber tabloid dari tumpukan teratas koran bekas yang mau dijual sama ibu kos. Ihikihik, soalnya gw kan gak modal kalo soal beli-membeli koran, apalagi apalagi tabloid gosip konsumsi ibu2, ABG, dan pembantu. Tapi krn gak ada bacaan ringan yang menghibur, jadilah malam itu gw habisin dengan ngebaca tabloid itu.

Artikelnya banyak “ngemengin” tentang orang2 yang banyak muncul di TV. Entah apa yang mereka lakukan selain kawin-cerai dan bicara setinggi langit, yang pasti wajah mereka muncul di berbagai media dengan label “artis”. Ugh, Affandi n Basuki Abdullah pasti menangis dalam kuburnya. Tapi yang paling menarik perhatian n bikin gw gatel buat komen adalah surat pembaca dari salah satu pemerhati ”dunia lain” ini.

Bagaimana Nasib Anak-anak?

Aku ngomentarin aksi MFI
yang ingin Badan Sensor dihapuskan. Untuk Mbak Dian Sastro, kalau memang
mensensor film adalah suatu pembodohan, bagaimana dengan nasib anak-anak di
bawah umur?

Contoh untuk film Kawin Kontrak. Begitu banyak anak-anak
yang di bawah umur menonton film itu. Apa itu bukan suatu perusakan generasi
bangsa?

Nama dan alamat ada pada tabloid yg udah gw balikin ke tumpukan
koran bekas.

Aihaih, gak ngerti gw. Sebagai catatan, gw gak ngerti banyak tentang organisasi MFI n apa yang mereka perjuangin. Makanya gw pengen review dari kacamata gw aja. Gw setuju kalo anak2 menonton film yang berisi kekerasan n seks secara vulgar merupakan salah satu tindakan perusakan generasi bangsa. Tapi antisipasinya yang pas lah. Masih ada pilihan untuk menyeleksi penontonnya alih-alih memotong-motong filmnya untuk ”layak tonton”.

Yang gw tau, film isa dikelompokin jadi beberapa kelompok; Segala umur, Remaja, Dewasa. Masak film ”300”, ”Saw”, atopun ”Resident Evil” mau dipotong2 sampe ratingnya jadi segala umur? Kalopun sensor film melakukan tugasnya dengan benar, film2 tadi akan tayang dng durasi 30 menit. Lagian, mana mungkin bikin film yang temanya zombie pemakan daging manusia yang matinya cuma dengan ngeledakin kepala zombie sampe otaknya terburai kemana2 jadi film yang boleh ditonton anak TK macem Dora the Explorer? (garuk2 kpala)

Peta, peta! Jembatan, hutan, gunung! Kita sudah sampai! Sekarang hancurkan kepala zombie-nya.

Sebenernya apa yang ditakutin penulis surat pembaca tadi gak perlu terjadi kalo anak2 di bawah umur tadi sama sekali enggak diperbolehkan nonton film Kawin Kontrak dan terima nasib saja untuk menonton Dora the Explorer, Go Diego, Disney Channel, ato Nickelodeon. Sedangkan tontonan seperti Spongebob, Cat-Dog, the Simpsons, Fashion TV, merupakan konsumsi orang yang sudah cukup umur (beruntungnya kita :P).

Karena gw pernah kerja jadi seniman (aiiiiiiih, seniman), gw jadi punya empati sama si pembuat film. Udah susah2 bikin film dengan cerita yang utuh, tau2 pas tayang dipotong2 demi dapat predikat ”layak tonton”. Punya rasa hormat dikit lah sama karya seni.

Friday, April 04, 2008

UTBHGPL

Matahari : Kenapa nulisnya Pebruari? Kan menurut EYD harusnya Februari?
Sekretaris Centil : Pebruari, Mas. Kalo pake “F”, belakangnya harus pake “Y”. February.
Matahari : Masa sih? (ngobok2 internet nyari bukti yang syah untuk nyelesaiin perdebatan berkepanjangan ini).
Sekretaris Centil : Iya, Mas. Menurut buku panduan dari OSM begitu kok cara penulisannya.
Matahari : Nah ini! (nemu situs Kamus Besar Bahasa Indonesia online) Tuh kan, ini situs bikinan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, masa tulisan Februari di kata sambutannya salah? Tuh, tulisannya “Februari”.
Sekretaris Centil : Tapi kita pakainya “Pebruari”. Nih, memo dari OSM kek gini nih (nunjukin tanggal surat di memo resmi OSM, tertulis “20 Pebruari 2007”.
Matahari : Lha kalo yang ditulis di KBBI online ini bahasa Indonesia yang baku, kita pake bahasa bangsa mana, Mbak?

Moral cerita kali ini adalah jangan malu berbahasa asing secara nabrak2, wong pake bahasa bangsa sendiri aja masih juga nabrak2. Ugh, gw lebih baik masuk divisi UTBHGPL kali ya? Pinjam istilah dari temen; Urusan Tata Bahasa dan Hal Gak Penting Lainnya.

Tuesday, April 01, 2008

Luna Sang Penggoda (Commercial Spin Off)

Mari kita berkenalan dengan Luna. Seorang gadis desa biasa yang ceria. Dia biasa bercengkrama dengan hewan2 di hutan yang mengingatkan kita kepada Putih Salju sebelum dia memakan apel beracun yang diberikan Ibu Ratu Jahat.

Suatu hari Luna menemukan batu berwarna ungu yang berbau harum yang ternyata sebuah sabun. Sabun itu serta merta mengubah gaya dan penampilan Luna dari gadis biasa2 saja menjadi gadis yang luar biasa. Seberapa luar biasa? Mari kita lihat lebih dekat.

Pertama, Luna menggosokkan sabun ke betisnya sehingga membuat kelinci kecil lucu pingsan tak kuat menahan birahi melihat selangkangan Luna yang terpapar jelas dari cara pemakaian sabun yang sangat demonstratif tersebut.

Kedua, Luna mulai memakai pakaian seronok serta berjalan dengan pola ’Selangkah Tiga Goyang’. Parfum semerbak akibat sabun itu membuat Paman Tukang Kebun pingsan dalam birahi.

Ketiga, sembari melangkah lebih dalam menuju desa, tiga orang pemuda malah berebutan keok akibat kemolekan instan yang dimiliki Luna.

Keempat, Luna berjalan ke arah Bar, Hotel, Diskotik, dan tempat2 yang mempunyai lampu2 LED terang yang berkerjap2 mengundang hidung belang seperti laron datang ke arah nyala api.

Moral dari iklan ini adalah gak susah untuk menjadi sundal. Cukup dengan pemakaian sabun batangan yang diiklankan sebanyak dua kali sehari secara teratur, aura Anna Nicole Smith akan didapat secara otomatis.

(Sekali Lagi) Ayat-ayat Cinta

Kalo gw review Ayat-ayat Cinta (AAC) di sini, pasti akan terlihat seperti manfaatin apa yang sedang marak untuk kepentingan statistik blog. Capek ngeliat pro-kontra panjang lebar di forum-forum n blog-blog tetangga. Apresiasi kok didekati dengan benar ato salah?

Bagi yang nge-fans sama AAC (baik film maupun novelnya) dan semua buah karya Habiburrahman El Shirazy, gw saranin buat nambah perbendaharaan pustaka dengan ngebaca Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Buya Hamka, Robohnya Surau Kami karya AA Navis, Antara Wangon-Jatilawang karya Ahmad Tohari, ato buah karya Musthofa Bisri. Setelah itu mari kita ngobrol tentang karya sastra Islami dalam perbincangan hangat dalam balutan aroma kopi hitam.

Tuesday, March 25, 2008

Empat Buku, Cinta Lama Bersemi Kembali


Kemaren Sabtu gw n Kecil ke Karawaci, Tangerang karena ada acara kumpul2 di tempat Mas Diro. Dimeriahkan oleh penampilan artis dari Keluarga Besar Siswodharsono, makanan melimpah, anak2 kecil yang berlari2, dan tak ketinggalan pula buku besar Silsilah Keluarga Besar Siswodharsono sebagai pegangan wajib. Acara senang2 yang melelahkan itu berakhir tengah malam ketika semua sodara pulang berbekal bungkusan jamuan, cinderamata, (sebagian) lebih kaya sekian ratus ribu krn narik arisan dan (yang lainnya) harus merelakan dompetnya menipis membayar uang iurannya.

Tapi gw gak ngomongin tentang acara itu. Gw pengen ngomongin keesokan harinya, hari Minggunya.

Pagi itu kami sarapan dan mandi pagi cepat2. Pasalnya, putra bontot Mas Diro, Ganis, manggung bersama bandnya di BSD Junction untuk mendapatkan tiket kompetisi di acara sekolahnya. Kehebohan pagi2 yang disusul dengan kepanikan krn sampai dipanggil oleh pembawa acara, Ganis dan kawan2 blom nongol juga. Untunglah tepat saat juri berpikiran untuk mendiskualifikasi, anak2 itu berhamburan ke atas panggung dan menunjukkan kebolehan mereka bermusik. Memang boleh juga.

Tapi gw juga gak mau ngomongin tentang musik anak2 tanggung itu. Gw pengen ngomongin pameran buku yang digelar di sisi lain hall utama BSD Junction, Gelar Buku Gramedia 10% off. Sama dengan potongan harga yang gw dapetin dengan nunjukin ID-card Kompas waktu beli buku di Gramedia lebih setahun silam.

Karena kali ini gak usah pake ID-card yang udah gak gw miliki, gw jadi gelap mata. Agak kecewa krn gak banyak ‘buku bagus’ yang digelar, tapi tetep aja gw nyisir rak satu demi satu. Ngiler liat Taiko, pengen beli koleksi buku petualangan (gw lupa judulnya), gak jadi beli Elder krn gak ada Eragon, dan akhirnya mata gw tertuju ke tumpukan buku anak2. Empat buku berwarna cerah dengan nama paten di sampul bukunya, Tony Wolf. Ah, gw nemu harta karun!

The Farm, The Sea, The City, n Woodland adalah beberapa karya2 terbaik Tony Wolf (ato mungkin juga karena gw jatuh cinta sama infografik, gw jadi nge-fans berat?). Buku2 ini merupakan buku anak2 berwarna yang menceritakan persis seperti judulnya dengan bantuan ilustrasi yang lucu.

Gw kenal (karya) Tony Wolf belasan tahun silam, saat gw berlibur ke tempat Pakdhe Amin di Jogja. Yang gw suka dari rumah Pakdhe adalah ruangan2nya yang luas dan koleksi2 bukunya yang banyak n tersimpan dalam rak lemari yang besar2. Buku2 yang gak bakal sanggup dibeli Bapak-Ibu; biografi pahlawan nasional, seri ensiklopedi, seri Indonesia Merdeka, seri ketrampilan tangan, dan buku2 lainnya yang gak boleh dibeli kecuali membeli keseluruhan seri dalam satu kali transaksi. Tampak indah mentereng karena urutan gambar yang ada di punggung cetakannya berderet2 ketika disusun. Gw suka sekali menghilang dalam keramaian perpustakaan Pakdhe. Diantara deretan buku itu terdapatlah seri Binatang Hutan dan Bajang yang berisi cerita kehidupan binatang hutan, peri ajaib, penyihir, raksasa dengan gambar2 yang menakjubkan goresan tangan Tony Wolf.

Sejak saat itulah gw menahbiskan diri sebagai pecinta karya Tony Wolf. Hutan itu adalah salah satu tempat gw melarikan diri. Berteduh dalam rumah berbentuk jamur sambil meminum coklat panas di bawah rintik hujan, memanen kacang polong, mengendus2 bersama tikus pondok, dan menebar serbuk ajaib bersama penyihir hutan yang baik hati. Tempat gw gak mau tumbuh dewasa. Neverland gw. Sanctuary gw.
Harganya? Ehem, walopun diskon 10%, gw kudu rela ngerogoh kocek dalam2 buat nebus empat buku tersebut. Terbilang minus Rp 248.400,- pada rekening tabungan gw. Alamak, harga yang harus ditanggung demi kecintaan pada karya seseorang.

Munculnya Sebuah Ide

Sebuah lampu yang menggantung 20 sentimeter di atas kepala menyala terang. Ide lain telah lahir dan gak isa disembunyiin dalam otak sempit ini. Harus keluar, harus keluar, harus dikeluarkan walopun cuma sebatas coret2 di kertas buram atau lebih beruntung dengan menuliskannya di dalam komputer. Gak isa istirahat sampai sari ide itu telah mentas dari angan. Hasilnya jangan ditanya, hampir seluruhnya absurd.

Begitu pula yang ide satu ini. Memikirkannya aja bikin dada mengembang lebih besar dari biasanya. Gw menghirup oksigen lebih banyak dan lebih segar dari biasanya. Kaki ini melangkah ringan, alih2 belepotan lumpur jalanan bekas hujan sore tadi, gw seperti terbang menginjak awan. Walopun gw berjalan ke depan, tapi perjalanan ini gak isa dijelaskan lewat pendekatan ilmu pasti. Gw berbelok2 lebih tajam dari cahaya yang dipengaruhi lubang hitam dan gw melaju lebih cepat dari cahaya hanya dengan memakai energi sebesar manusia membalikkan telapak tangan. Mustahil.

Cepat2 gw buka Mary-Star, gw pindahin nyala lampu ini ke dalam diskdrive-nya. Biar tetap menyala sampai tiba waktu menambah nyala terangnya.


(ternyata gw udah lama absen dari tulis menulis blog, ah, pekerjaanlah yg akhirnya jadi kambing item)

Monday, February 18, 2008

Mama Bernyanyi?

Ruang keluarga gw adalah ruang serba guna. Apa mau dikata? Jika rumah kalian berukuran 3 m x 20 m ke belakang, kalian akan mengetahui arti sebenarnya dari arti kata ‘ruang serba guna’. Gak banyak yang isa dibualkan, tapi ‘ruang serba guna’ ini telah mencetak huruf A pada transkrip nilai mata kuliah Seminar jaman kuliah dulu.

Ah, cukup ngelanturnya.

Ruang itu dipakai untuk belajar, menggambar, menonton TV, makan, menerima tamu, membaca buku, bahkan untuk membuat maket. Memang ada beberapa aktivitas yang gak isa dilakukan bebarengan. Misalnya bikin maket sambil nonton TV atau tidur sambil terima tamu. Tapi tidur, makan, n baca buku mungkin isa dilakukan bebarengan karena tidak membutuhkan banyak ruang. Tidak seperti halnya jika sedang membuat maket yang bisa menyita hampir seluruh ruang depan (ruang keluarga n ruang tamu). Hal2 inilah yang dibahas pada seminar gw tadi. Halah, kok bahasannya jadi balik lagi?

Inti cerita yang sudah dilanturkan ke mana-mana ini adalah kejadian yang terjadi pada suatu malam ketika gw asyik di depan Mary-Star n Mama sedang nonton tivi. Gak jelas apa judul sinetron itu; Cinta Indah, Azizah, Namaku Mentari, ataukah sederet nama2 aneh lain yang jadi judul sinetron tersebut. Yang jelas adalah dari sekilas soundtrack yang terdengar, gw isa ngenalin bahwa sinetron tersebut ngambil ‘Munajat Cinta’ dari ‘The Rock’ sebagai opening theme. Seketika itu juga terdengar seperti orang menggumam di sebelah gw.

Pasti jahat banget kelihatannya kalo gw bilang itu adalah gumaman, tapi itu juga bukan senandung. Kalo gw bilang deheman pasti bakal lebih kliatan jadi anak durhako. Apapun itu, keknya Mama sedang berusaha ngikutin syair ‘Munajat Cinta’.

Kanjeng Ibu itu ibu rumah tangga yang konservatif. Beruntung mendapat suami yang egaliter, liberal , tapi religius kek Kanjeng Rama. Kalo enggak, mungkin hidupnya cuma akan dihabiskan di dapur, kamar mandi, tempat cucian, ruang makan, dan depan tivi. Walopun dari dulu sampe sekarang Mama melakukan rutinitas rumah tangga yang menyita tenaga dan waktunya, Mama masih sempet aktif di arisan RT, arisan RW, Posyandu, maupun PKK.

Sepanjang hayat dikandung badan, gw tau bahwa Mama cuma isa nyanyi lagu2 wajib yang fardhu ‘ain dihapal anak2 SD produk Orde Baru, beberapa tembang Jawa dolanan anak, Topi Saya Bundar, Pok Ame-ame, Naik-naik ke Puncak Gunung, Naik Kereta Api, Balonku Ada Lima, n mars PKK.

Mas Dhani Ahmad, Anda memang Te O Pe Be Ge Te!

Sepiring Mendoan dan Kecap Lombok

Ajakan Bapak n Ibu untuk berkunjung ke rumah Bulik (adik perempuan Bapak) di Cilacap gw sambut antusias. Hehehe, soalnya emang udah lama gak ketemu Bulik. Selain itu, gw pikir ini adalah kesempatan untuk napak tilas mengunjungi tempat leluhur gw, tanah Banyumas.

Berangkat pukul delapan pagi, kami sampai di Cilacap pukul dua siang, tepat pada saat makan siang. Saat yang paling tepat untuk memulai napak tilas. Ya, napak tilas kuliner lokal. Di atas meja itu memang tak banyak pilihan, tapi menu yang disajikan benar2 membuat dahaga ini terpuaskan. Terhidang sayur jantung (bunga pisang yang masuh kuncup), sayur lodeh, sambal tomat, dan ayam goreng. Nyam, nyam, menu luar biasa yang gak bakal isa mudah ditemui di Semarang, apalagi di Jakarta. Apalagi dimasak dengan teknologi sederhana oleh koki setempat, inilah yang dinamakan masakan asli. Otentik!

Tetapi yang gw tunggu baru disajikan keesokan harinya. Saat embun masih bergelayut di ujung daun, disajikanlah makanan kesukaan gw. Tempe mendoan n kecap lombok. Betapa nikmat dunia ini terasa. Kalo merasa kecanduan gorengan di pinggir jalan, jangan keburu2 nyebut tempe goreng itu adalah tempe mendoan. Yang dijual oleh tukang gorengan itu tak lain adalah tempe kemul terigu (tempe dibalut terigu), bukan tempe mendoan.

Tempe mendoan adalah tempe yang dihasilkan oleh fermentasi kedelai lokal. Bentuknya tidak akan bagus jika memakai kedelai impor yang berbiji besar2. Biasanya hanya terdiri dari satu lapis kedelai yang difermentasi sehingga menghasilkan tempe yang benar2 tipis. Tempe mendoan tak pernah mengenal sayatan pisau. Biasanya dibungkus oleh daun pisang yang dibebat dengan serat bambu. Tempe mendoan pantang dibungkus dengan plastik. Adonannya pun menggunakan tepung beras dan tepung gandum dengan takaran tertentu sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan kenyal. Penambahan rempah2 dan potongan daun bawang pada adonan akan menambah legit pada setiap gigitan. Ketika dimakan bersama kecap lombok, rasanya dada ini pecah dengan kegembiraan yang meletup2. Akhirnya cemilan sebelum makan pagi itu pun merusak selera sarapanku.

Rasanya nyesel udah ngegadaiin perut ke pelukan pizza, kentang goreng, sosis, dan ayam goreng tepung.