Monday, February 18, 2008

Mama Bernyanyi?

Ruang keluarga gw adalah ruang serba guna. Apa mau dikata? Jika rumah kalian berukuran 3 m x 20 m ke belakang, kalian akan mengetahui arti sebenarnya dari arti kata ‘ruang serba guna’. Gak banyak yang isa dibualkan, tapi ‘ruang serba guna’ ini telah mencetak huruf A pada transkrip nilai mata kuliah Seminar jaman kuliah dulu.

Ah, cukup ngelanturnya.

Ruang itu dipakai untuk belajar, menggambar, menonton TV, makan, menerima tamu, membaca buku, bahkan untuk membuat maket. Memang ada beberapa aktivitas yang gak isa dilakukan bebarengan. Misalnya bikin maket sambil nonton TV atau tidur sambil terima tamu. Tapi tidur, makan, n baca buku mungkin isa dilakukan bebarengan karena tidak membutuhkan banyak ruang. Tidak seperti halnya jika sedang membuat maket yang bisa menyita hampir seluruh ruang depan (ruang keluarga n ruang tamu). Hal2 inilah yang dibahas pada seminar gw tadi. Halah, kok bahasannya jadi balik lagi?

Inti cerita yang sudah dilanturkan ke mana-mana ini adalah kejadian yang terjadi pada suatu malam ketika gw asyik di depan Mary-Star n Mama sedang nonton tivi. Gak jelas apa judul sinetron itu; Cinta Indah, Azizah, Namaku Mentari, ataukah sederet nama2 aneh lain yang jadi judul sinetron tersebut. Yang jelas adalah dari sekilas soundtrack yang terdengar, gw isa ngenalin bahwa sinetron tersebut ngambil ‘Munajat Cinta’ dari ‘The Rock’ sebagai opening theme. Seketika itu juga terdengar seperti orang menggumam di sebelah gw.

Pasti jahat banget kelihatannya kalo gw bilang itu adalah gumaman, tapi itu juga bukan senandung. Kalo gw bilang deheman pasti bakal lebih kliatan jadi anak durhako. Apapun itu, keknya Mama sedang berusaha ngikutin syair ‘Munajat Cinta’.

Kanjeng Ibu itu ibu rumah tangga yang konservatif. Beruntung mendapat suami yang egaliter, liberal , tapi religius kek Kanjeng Rama. Kalo enggak, mungkin hidupnya cuma akan dihabiskan di dapur, kamar mandi, tempat cucian, ruang makan, dan depan tivi. Walopun dari dulu sampe sekarang Mama melakukan rutinitas rumah tangga yang menyita tenaga dan waktunya, Mama masih sempet aktif di arisan RT, arisan RW, Posyandu, maupun PKK.

Sepanjang hayat dikandung badan, gw tau bahwa Mama cuma isa nyanyi lagu2 wajib yang fardhu ‘ain dihapal anak2 SD produk Orde Baru, beberapa tembang Jawa dolanan anak, Topi Saya Bundar, Pok Ame-ame, Naik-naik ke Puncak Gunung, Naik Kereta Api, Balonku Ada Lima, n mars PKK.

Mas Dhani Ahmad, Anda memang Te O Pe Be Ge Te!

Sepiring Mendoan dan Kecap Lombok

Ajakan Bapak n Ibu untuk berkunjung ke rumah Bulik (adik perempuan Bapak) di Cilacap gw sambut antusias. Hehehe, soalnya emang udah lama gak ketemu Bulik. Selain itu, gw pikir ini adalah kesempatan untuk napak tilas mengunjungi tempat leluhur gw, tanah Banyumas.

Berangkat pukul delapan pagi, kami sampai di Cilacap pukul dua siang, tepat pada saat makan siang. Saat yang paling tepat untuk memulai napak tilas. Ya, napak tilas kuliner lokal. Di atas meja itu memang tak banyak pilihan, tapi menu yang disajikan benar2 membuat dahaga ini terpuaskan. Terhidang sayur jantung (bunga pisang yang masuh kuncup), sayur lodeh, sambal tomat, dan ayam goreng. Nyam, nyam, menu luar biasa yang gak bakal isa mudah ditemui di Semarang, apalagi di Jakarta. Apalagi dimasak dengan teknologi sederhana oleh koki setempat, inilah yang dinamakan masakan asli. Otentik!

Tetapi yang gw tunggu baru disajikan keesokan harinya. Saat embun masih bergelayut di ujung daun, disajikanlah makanan kesukaan gw. Tempe mendoan n kecap lombok. Betapa nikmat dunia ini terasa. Kalo merasa kecanduan gorengan di pinggir jalan, jangan keburu2 nyebut tempe goreng itu adalah tempe mendoan. Yang dijual oleh tukang gorengan itu tak lain adalah tempe kemul terigu (tempe dibalut terigu), bukan tempe mendoan.

Tempe mendoan adalah tempe yang dihasilkan oleh fermentasi kedelai lokal. Bentuknya tidak akan bagus jika memakai kedelai impor yang berbiji besar2. Biasanya hanya terdiri dari satu lapis kedelai yang difermentasi sehingga menghasilkan tempe yang benar2 tipis. Tempe mendoan tak pernah mengenal sayatan pisau. Biasanya dibungkus oleh daun pisang yang dibebat dengan serat bambu. Tempe mendoan pantang dibungkus dengan plastik. Adonannya pun menggunakan tepung beras dan tepung gandum dengan takaran tertentu sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan kenyal. Penambahan rempah2 dan potongan daun bawang pada adonan akan menambah legit pada setiap gigitan. Ketika dimakan bersama kecap lombok, rasanya dada ini pecah dengan kegembiraan yang meletup2. Akhirnya cemilan sebelum makan pagi itu pun merusak selera sarapanku.

Rasanya nyesel udah ngegadaiin perut ke pelukan pizza, kentang goreng, sosis, dan ayam goreng tepung.