Saturday, April 19, 2008

Bagaimana Cara Membunuh Fantasi?

Ada yang tahu caranya?
Karena aku sudah terlalu lelah

Dulu aku terbang dalam fantasi
Tapi aku memotong sayapku
Karena orang bilang fantasi tak dibutuhkan orang yang telah dewasa

Kini apa bagusnya aku?
Tak bersayap tapi terus berfantasi

Adakah yang tahu bagaimana cara membunuh fantasi?

Karena getir kenyataan merongrong jiwa
Karena pahit kejujuran adalah katalis korosi cinta

Beritahu caranya
Agar aku bisa hidup selayaknya manusia normal
Tak mempunyai jiwa dan penuh cinta yang berkarat

Akhir dari Keliling Indonesia 2008

Rangkaian akhir dari Workshop Kantor yang dilakukan di setiap Region mengalami sedikit penyesuaian. Workshop yang seharusnya diadakan di Manado akhirnya dijadwalkan ulang di Surabaya. Hal ini dikarenakan adanya pembekalan Sales Representatif (SR)yang baru diangkat tahun 2008 oleh Bapak Vice President (VP). Sempet dibikin pusing karena harus menyesuaikan jadwal workshop dan konfirmasi kehadiran para peserta.

Workshopnya sendiri berlangsung sukses. Walaupun hanya terselenggara selama satu jam dari satu hari yang seharusnya dijadwalkan. Hal itu karena acara pembekalan molor tak karuan. Acara2 dadakan yang gak ketahuan tujuan dan hasilnya terus bermunculan di tengah acara. Alhasil, acara workshop baru terselenggara pukul 17.30. Padahal pukul 19.00 acara dilanjutkan makan malam di Restoran Handayani di tengah Kota Surabaya. Maunya sih datang tepat waktu, tapi kalo diitung2, jam 18.30 acara workshop baru kelar, ngopi2 bahan 15 menit, perjalanan dari kantor k hotel 15 menit, naik ke kamar 15 menit turun lagi ke resepsionis karena kunci kamar gak isa buat ngebuka kamar 5 menit, nunggu pemrograman kunci 10 menit, naik lagi ke kamar 5 menit, ganti pakaian sekenanya n turun ke loby 10 menit. Wew, baru pukul 19.45 gw baru isa berangkat dari hotel. Lupakan bus yang sudah berangkat 15 menit sebelum gw turun ke loby. Untungnya ada temen SR yang nungguin gw.

Acara makan malam yang ceria cepat berubah menjadi Karaoke Showdown. Dari temen2 SR masing2 Region dipanggil bergiliran untuk memanaskan panggung. Sebagai penutup, Bapak VP sendiri yang menggoyang massa. Seperti masih kurang, SR yang semuanya anak2 muda kurang pergaulan yang ditempatkan di pelosok Indonesia ini melanjutkan acara Karaoke Showdown ke InulVizta deket hotel. Beruntungnya kami yang menginap di Town Square Suites. Pukul 1.30 lewat tengah malam, acara berakhir dengan menghasilkan badan capek, mata perih akibat rokok, n tenggorokan serak akibat menjerit2 (siapa bilang di tempat karaoke itu kita menyanyi?).

Pukul 9 pagi gw bangun dengan kepala seperti diinjek2 gajah. Mungkin terlalu capek, menyanyi sampe gila, n pil Decolgen memang gak cocok untuk upaya penyembuhan influenza. Akhirnya gw sarapan dengan modal menyikat gigi, mencuci muka, n ngabasahin rambut ala kadarnya. Rombongan orang2 kantor udah pada cabut ke Batu untuk wisata agro memetik apel. Tapi gw punya agenda sendiri; ngebenerin kopor yang rusak, packing, n brangkat k bandara buat balik ke Jakarta dengan pesawat pukul 13.00.

Dengan sedikit tenaga, kopor itu akhirnya dapat dibuka dengan benar. Sebelumnya, kunci kopor gak mau ngebula. Jadi gw harus ngebuka resluiting dengan paksa buat ngeluarin baju. Setelah packing sekenanya, gw siap jalan ke bandara.

Sesampainya di bandara, ternyata dengan alasan operasional, penerbangan pukul 13.00 kudu ditunda sampai jam 14.50. Dua jam luntang-lantung di Bandara Juanda ternyata bikin mood gw jadi agak jongkok. Apalagi ternyata sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta gw disambut sama hujan deres. Entah hilang ke mana saja waktu gw, tapi begitu gw duduk di bus, jam sudah nunjuk ke angka 17.30. Masih di tempat yang sama, gw ngeliat pelan2 jam di atas tempat sopir nunjuk ke angka 18.00. Bah, mau sampe kapan ini bus ngendon di sini? Pukul 18.15 bus mulai bergerak.

Berangkat ke Jakarta?
Benar, tapi jangan lupa, bus ini harus memutar ke Terminal Kedatangan 2 dulu sebelum masuk ke jalan tol.

Menunggu lagi dong?
Benar sekali.

Setengah delapan malam, bus sudah masuk ke area parkir Stasiun Gambir. Artinya, sekali lagi gw harus pindah moda transportasi untuk sampe ke kosan. Gw pikir, mungkin kali ini gw pilih naik bajaj. Karena taksi gak bakal isa sampe ke depan kos persis, padahal badan gw capek n kpala masih ngalamin sensasi yang dirasain Mie Remez kalo mau dimakan.

Ah, home sweet home. Biar plafon teras kamar masih bolong krn hujan, tapi kamar sudah dalam keadaan rapi (sebentar lagi pasti berantakan) karena sudah dirapiin oleh pembantu ibu kos selama gw pergi. Heeeh, rencananya malam ini habis mandi trus minum Decolgen. Bukan buat ngusir flu, tapi pil ajaib itu adalah obat yang ampuh buat ngedatengin kantuk.

Wednesday, April 16, 2008

A Bump in the Head

Ibnu-sensei : Udah, lu ke Pontianak aja. Jadi WP (Wira Penjualan)* ikut gw. Ngapain lama-lama di Pusat?
Ari-sensei : Hahahaha, iya, Lon. Lu ke Pontianak aja ikut Pak Ibnu.


Heee, ucapan seperti yang dibilang Ibnu-sensei gw denger hampir tiap kali gw nyamper ke kota yang gw datengin. Sebuah tawaran untuk menjadi WP, satu posisi strategis yang banyak didamba para pekerja perusahaan ini, yang berdatangan dari Sales Area Manager maupun dari General Manajer Bahan Bakar Minyak Retail setempat. Maklum saja, pada organisasi baru perusahaan ini, perlu banyak Sumber Daya Manusia yang sayangnya gak sesuai dng timgkat ketersediaannya. Akibatnya setiap unit operasi seolah berebut untuk mendapatkan orang yang kompeten buat mengisi posisi kosong dalam organisasinya.

Anyway, gw di Pontianak? Makjaaaaaaaaaaaannngggggg........

Moral cerita kali ini adalah masih banyak kesempatan, guys. Tetaplah berusaha.

*Sekarang disebut SR – Sales Representatif

Monday, April 14, 2008

Hangat Hujan Di Pinggir Kramat Raya

Perempuan tua dalam jilbab lusuh
Lamunannya mengambang di atas api tungku tambal ban
Cahaya yang lemah berkejap di sela2 hujan
Memantulkan kegundahan dalam tiap percik airnya
Nggrejih

Langit merah Jakarta tak menunjukkan keramahan
Bahwa hujan akan segera berhenti

Bau minyak tanah dan karet terbakar adalah penebusan akan hangat nyala api
Sehangat itulah yang ia dapat
Sampai nyala api mengecil
Tandas bersama sisa minyak tanah

Malam masih sangat muda di Kramat Raya

Sunday, April 13, 2008

Legenda Urban; Seni Menawar Oleh-oleh

Sopir bus yang gw tumpangin dalam perjalanan menuju Pasar Seni Sukawati mengingatkan kepada semua penumpang, “jika nanti menawar, tawarlah 30% dari harga pembukaan dari penjual.”

Seperti mendapat rabat 70% saja. Siapa yang gak ngiler? Berasa memperoleh keringanan dari formula harga tersebut, banyak dari kamerad sejawat manjadi gelap mata. Paying, baju, kalung, tas, topi, sandal sampai hal2 yang gak berguna pun tak luput dari lapar mata. Maka banyaklah duid berpindah dari kocek para pelancong ke pundi2 penjual oleh2 n karya seni di pasar tersebut. Pelancong pun senang hati karena mendapat barang yang luar biasa murah dengan kepiawaiannya menawar.

Tapi kalau gw isa dapet tas seharga Rp 65.000 dengan membayar Rp 12.000 aja n sandal Rp 45.000 dengan harga Rp 10.000, apakah ini tidak berarti sesuatu?

Bukan, ini bukan berarti gw yang pinter nawar.

Berarti, tas harga tersebut hanya 18,5% dari harga awal dan sandal tersebut gw dapet 22,2%-nya aja. Jadi, ditawar sampe 20% pun sebenernya penjual masih dapet untung karena toh barangnya boleh dibeli. Secara rata2 kalo pembeli memakai formula 30%, sebenernya penjual masih punya marjin 10% per item.

Pertanyaannya adalah, ke kantong siapakah 10% tersebut akan mengendap?

Ah, masak iya sih penjual karya seni segitu pelitnya sampai enggak ngasih bagian ke para pengiklannya? Siapa? Ya itu, orang yang menyebarkan legenda urban ‘formula 30%’ untuk pertama kali.

Friday, April 11, 2008

Tour de Indonesia

Jadilah gw muter2 Indonesia dalam dua minggu ini. Karena kebutuhan pekerjaan, gw harus ke Bandung, Jogja, Bali, Medan, Palembang, Balikpapan, n Manado. Gawean gede ini dibagi jadi dua tahap. Tahap I ke Bandung, Jogja, n Bali dijadwalkan 23-29 Maret 2008, sedangkan sisanya digeber tanggal 5-12 April 2008.

Capek pastinya pindah-pindah dari satu kota untuk kemudian besoknya berpindah lagi ke kota lainnya. Gw pengen nikmatin perjalanan ini. Itung-itung anggep aja sebagai liburan. Ongkos yang harus ditebus mungkin ada satu dua barang yang tercecer ato tertinggal selama perjalanan, tapi ya sudahlah. Coba jalani apa yang ada di depan mata.

Thursday, April 10, 2008

Fancy for a Sushi or Two?

Matahari : “Do you have an empty space for a sushi or two?”
Restless Mell : “Do you mean an empty space in my stomach? Of course I have!”

SMS tadi berarti tanda jadi untuk mencoba sebuah restoran sushi kecil di Legian, Bali, yang lain hari direkomendasiin sama Restless Mell, temen Freakschool yang saat ini cari penghidupan di Bali. Yang bikin gw tertarik adalah promosi Mell bahwa harga satu sushi set hanya berbanderol Rp 45.000 aja. Bahkan di negeri asalnya, sushi bukanlah makanan yang murah karena kesegaran bahan2nya harus dijaga benar2.

Sushi Set

Begitulah, obrolan mengalir begitu saja ditemani berpiring-piring sushi, sake, ocha, gohan, n mie soba. Sampai pada saat kita sadar bahwa restoran itu memutar Degung, gamelan Sunda, sebagai latar pembangkit suasana di tempat itu. Jadilah hari itu kami makan sushi, dengan background Degung, di Legian, Bali.

Selamat datang globalisasi.

Bali, Bali, Bali!!

Salah satu alasan Sunshowers lama gak ada update-an selain kemalasan gw adalah gw kudu ke Bali untuk rapat yang diadain di The Patra Bali; Resort & Villas, Bali. The Patra Bali ini berada di dekat Bandara Ngurah Rai, tepat di sebelah DPPU (Depot Pengisian Pesawat Udara) Ngurah Rai, dan di pinggir pantai yang terhubung langsung dengan Pantai Kuta yang hanya berjarak 20 menit jalan kaki menyusuri pantai dari belakang hotel.

Beruntungnya gw yang blom melakukan reservasi sebelumnya, kamar gw terpaksa di-upgrade dari tipe deluxe ke tipe studio. Tarifnya gila. Tipe deluxe “cuma”
$200/malam sedangkan tipe studio $250/malam. Tanpa dibayarin kantor, mimpi aja gw gak berani nginep di sini. Lumayanlah, dibayarin kantor buat nginep dari Minggu sampai Jumat (itu enam hari, brarti 6x$250 = $1500 = 1500xRp 9.800,- = Rp 14.700.000,-). Nolnya banyak banget. Gw rela nginep di tempat sodara ato hotel ecek2 asal duid penginepan tadi dikasih mentahannya.

Pemandangan Belakang Kamar


Huahahahaha, jumlah biaya enam hari nginep bahkan lebih gede dari dua kali pendapatan gw tiap bulannya.

Kamar gw berada di paling ujung belakang hotel. Itu berarti kamar gw berhadapan dengan pantai secara langsung dan tiap hari gw memandangi lautan n menikmati matahari terbenam Bali yang terkenal itu. Hidup terasa tenang dan damai. Kalo lagi di kamar, gw paling seneng ngebuka pintu geser kamar agar hawa laut n hangat matahari masuk lewat celah2 daun kelapa.


Sunset

Tetapi masih ada pemandangan lain selain pemandangan surgawi belakang kamar. Pasalnya, menurut kakak ipar gw yang bekerja di DPPU Ngurah Rai, sebelah kamar gw di balik tembok pagar hotel, terdapat tampungan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) DPPU Ngurah Rai. Artinya itu adalah limbah buangan yang beracun n berbahaya bagi lingkungan. Serta tentu saja DPPU itu punya beberapa tangki timbun, dan bukan kejutan pula kalau tangki timbun tersebut berdiri gak jauh dari kamar gw. Atap tangki timbun akan kelihatan jika gw berdiri di tembok taman. Berita yang agak menenangkan adalah bahwa K3LL (Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan) DPPU Ngurah Rai sudah bersertifikat ISO n kenyataan bahwa avtur(1) mempunyai flash point(2) yang tinggi.

Surga dan neraka memang tipis bedanya.

Selain rapat, agenda gw selama di Bali adalah tur de family (ke rumah Pak Dhe (kakak Kanjeng Ibu), ke rumah kakak sepupu (anak Pak Dhe), n ke rumah kakak ipar (yang kerja di DPPU tadi, suami anak perempuan kakak Kanjeng Ibu)), ketemuan sama Restless Melanie (temen lama, anak Freakschool), jalan2 ke Kuta, makan di pinggir Pantai Jimbaran, ngelongok Tanah Lot, n gak lengkap kalo gak blanja di Pasar Seni Sukowati.


Menu di Jimbaran

Oleh2nya? Cerita n foto di blog aja kali, ya? Huehuaheuaheuaheua…..

Pasar Seni


Keterangan:
(1) Avtur (aviation turbine) : termasuk dalam spesifikasi kerosene, di Indonesia lebih terkenal dengan nama Minyak Tanah, banyak dipakai untuk bahan bakar kompor dapur, flash point minimal: 38o Celcius atau 100o Fahrenheit
(2) flash point (titik nyala) : suhu terendah ketika uap bahan bakar yang perbandingannya telah cukup dengan udara akan menimbulkan nyala api (menurut uji Abel)

Java Jazz Anyone?

Seperti yang kita ketahui semuanya, Java Jazz tengah digelar di Jakarta tanggal 7-9 Maret 2008 ini. Sementara di kantong gw cuma ada gundu, gelang karet, dan remahan biskuit. Sama sekali gak ada duid. Terpaksa harus puas dengan ngebaca laporan di Koran Kompas tiap harinya. Biar gak isa nonton langsung, gw punya cara lain buat nikmatin Jazz. Gw buka semua file MP3 Jazz yang gw punya, gw urutin di playlist n Mary-Star gak henti2nya nge-Jazz dari pagi sampai larut malem. Menyedihkan sekali…

Kegatelan

Suatu sore setelah perjalanan dari dinas luar kota, gw nyamber tabloid dari tumpukan teratas koran bekas yang mau dijual sama ibu kos. Ihikihik, soalnya gw kan gak modal kalo soal beli-membeli koran, apalagi apalagi tabloid gosip konsumsi ibu2, ABG, dan pembantu. Tapi krn gak ada bacaan ringan yang menghibur, jadilah malam itu gw habisin dengan ngebaca tabloid itu.

Artikelnya banyak “ngemengin” tentang orang2 yang banyak muncul di TV. Entah apa yang mereka lakukan selain kawin-cerai dan bicara setinggi langit, yang pasti wajah mereka muncul di berbagai media dengan label “artis”. Ugh, Affandi n Basuki Abdullah pasti menangis dalam kuburnya. Tapi yang paling menarik perhatian n bikin gw gatel buat komen adalah surat pembaca dari salah satu pemerhati ”dunia lain” ini.

Bagaimana Nasib Anak-anak?

Aku ngomentarin aksi MFI
yang ingin Badan Sensor dihapuskan. Untuk Mbak Dian Sastro, kalau memang
mensensor film adalah suatu pembodohan, bagaimana dengan nasib anak-anak di
bawah umur?

Contoh untuk film Kawin Kontrak. Begitu banyak anak-anak
yang di bawah umur menonton film itu. Apa itu bukan suatu perusakan generasi
bangsa?

Nama dan alamat ada pada tabloid yg udah gw balikin ke tumpukan
koran bekas.

Aihaih, gak ngerti gw. Sebagai catatan, gw gak ngerti banyak tentang organisasi MFI n apa yang mereka perjuangin. Makanya gw pengen review dari kacamata gw aja. Gw setuju kalo anak2 menonton film yang berisi kekerasan n seks secara vulgar merupakan salah satu tindakan perusakan generasi bangsa. Tapi antisipasinya yang pas lah. Masih ada pilihan untuk menyeleksi penontonnya alih-alih memotong-motong filmnya untuk ”layak tonton”.

Yang gw tau, film isa dikelompokin jadi beberapa kelompok; Segala umur, Remaja, Dewasa. Masak film ”300”, ”Saw”, atopun ”Resident Evil” mau dipotong2 sampe ratingnya jadi segala umur? Kalopun sensor film melakukan tugasnya dengan benar, film2 tadi akan tayang dng durasi 30 menit. Lagian, mana mungkin bikin film yang temanya zombie pemakan daging manusia yang matinya cuma dengan ngeledakin kepala zombie sampe otaknya terburai kemana2 jadi film yang boleh ditonton anak TK macem Dora the Explorer? (garuk2 kpala)

Peta, peta! Jembatan, hutan, gunung! Kita sudah sampai! Sekarang hancurkan kepala zombie-nya.

Sebenernya apa yang ditakutin penulis surat pembaca tadi gak perlu terjadi kalo anak2 di bawah umur tadi sama sekali enggak diperbolehkan nonton film Kawin Kontrak dan terima nasib saja untuk menonton Dora the Explorer, Go Diego, Disney Channel, ato Nickelodeon. Sedangkan tontonan seperti Spongebob, Cat-Dog, the Simpsons, Fashion TV, merupakan konsumsi orang yang sudah cukup umur (beruntungnya kita :P).

Karena gw pernah kerja jadi seniman (aiiiiiiih, seniman), gw jadi punya empati sama si pembuat film. Udah susah2 bikin film dengan cerita yang utuh, tau2 pas tayang dipotong2 demi dapat predikat ”layak tonton”. Punya rasa hormat dikit lah sama karya seni.

Friday, April 04, 2008

UTBHGPL

Matahari : Kenapa nulisnya Pebruari? Kan menurut EYD harusnya Februari?
Sekretaris Centil : Pebruari, Mas. Kalo pake “F”, belakangnya harus pake “Y”. February.
Matahari : Masa sih? (ngobok2 internet nyari bukti yang syah untuk nyelesaiin perdebatan berkepanjangan ini).
Sekretaris Centil : Iya, Mas. Menurut buku panduan dari OSM begitu kok cara penulisannya.
Matahari : Nah ini! (nemu situs Kamus Besar Bahasa Indonesia online) Tuh kan, ini situs bikinan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, masa tulisan Februari di kata sambutannya salah? Tuh, tulisannya “Februari”.
Sekretaris Centil : Tapi kita pakainya “Pebruari”. Nih, memo dari OSM kek gini nih (nunjukin tanggal surat di memo resmi OSM, tertulis “20 Pebruari 2007”.
Matahari : Lha kalo yang ditulis di KBBI online ini bahasa Indonesia yang baku, kita pake bahasa bangsa mana, Mbak?

Moral cerita kali ini adalah jangan malu berbahasa asing secara nabrak2, wong pake bahasa bangsa sendiri aja masih juga nabrak2. Ugh, gw lebih baik masuk divisi UTBHGPL kali ya? Pinjam istilah dari temen; Urusan Tata Bahasa dan Hal Gak Penting Lainnya.

Tuesday, April 01, 2008

Luna Sang Penggoda (Commercial Spin Off)

Mari kita berkenalan dengan Luna. Seorang gadis desa biasa yang ceria. Dia biasa bercengkrama dengan hewan2 di hutan yang mengingatkan kita kepada Putih Salju sebelum dia memakan apel beracun yang diberikan Ibu Ratu Jahat.

Suatu hari Luna menemukan batu berwarna ungu yang berbau harum yang ternyata sebuah sabun. Sabun itu serta merta mengubah gaya dan penampilan Luna dari gadis biasa2 saja menjadi gadis yang luar biasa. Seberapa luar biasa? Mari kita lihat lebih dekat.

Pertama, Luna menggosokkan sabun ke betisnya sehingga membuat kelinci kecil lucu pingsan tak kuat menahan birahi melihat selangkangan Luna yang terpapar jelas dari cara pemakaian sabun yang sangat demonstratif tersebut.

Kedua, Luna mulai memakai pakaian seronok serta berjalan dengan pola ’Selangkah Tiga Goyang’. Parfum semerbak akibat sabun itu membuat Paman Tukang Kebun pingsan dalam birahi.

Ketiga, sembari melangkah lebih dalam menuju desa, tiga orang pemuda malah berebutan keok akibat kemolekan instan yang dimiliki Luna.

Keempat, Luna berjalan ke arah Bar, Hotel, Diskotik, dan tempat2 yang mempunyai lampu2 LED terang yang berkerjap2 mengundang hidung belang seperti laron datang ke arah nyala api.

Moral dari iklan ini adalah gak susah untuk menjadi sundal. Cukup dengan pemakaian sabun batangan yang diiklankan sebanyak dua kali sehari secara teratur, aura Anna Nicole Smith akan didapat secara otomatis.

(Sekali Lagi) Ayat-ayat Cinta

Kalo gw review Ayat-ayat Cinta (AAC) di sini, pasti akan terlihat seperti manfaatin apa yang sedang marak untuk kepentingan statistik blog. Capek ngeliat pro-kontra panjang lebar di forum-forum n blog-blog tetangga. Apresiasi kok didekati dengan benar ato salah?

Bagi yang nge-fans sama AAC (baik film maupun novelnya) dan semua buah karya Habiburrahman El Shirazy, gw saranin buat nambah perbendaharaan pustaka dengan ngebaca Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Buya Hamka, Robohnya Surau Kami karya AA Navis, Antara Wangon-Jatilawang karya Ahmad Tohari, ato buah karya Musthofa Bisri. Setelah itu mari kita ngobrol tentang karya sastra Islami dalam perbincangan hangat dalam balutan aroma kopi hitam.