Thursday, April 10, 2008

Kegatelan

Suatu sore setelah perjalanan dari dinas luar kota, gw nyamber tabloid dari tumpukan teratas koran bekas yang mau dijual sama ibu kos. Ihikihik, soalnya gw kan gak modal kalo soal beli-membeli koran, apalagi apalagi tabloid gosip konsumsi ibu2, ABG, dan pembantu. Tapi krn gak ada bacaan ringan yang menghibur, jadilah malam itu gw habisin dengan ngebaca tabloid itu.

Artikelnya banyak “ngemengin” tentang orang2 yang banyak muncul di TV. Entah apa yang mereka lakukan selain kawin-cerai dan bicara setinggi langit, yang pasti wajah mereka muncul di berbagai media dengan label “artis”. Ugh, Affandi n Basuki Abdullah pasti menangis dalam kuburnya. Tapi yang paling menarik perhatian n bikin gw gatel buat komen adalah surat pembaca dari salah satu pemerhati ”dunia lain” ini.

Bagaimana Nasib Anak-anak?

Aku ngomentarin aksi MFI
yang ingin Badan Sensor dihapuskan. Untuk Mbak Dian Sastro, kalau memang
mensensor film adalah suatu pembodohan, bagaimana dengan nasib anak-anak di
bawah umur?

Contoh untuk film Kawin Kontrak. Begitu banyak anak-anak
yang di bawah umur menonton film itu. Apa itu bukan suatu perusakan generasi
bangsa?

Nama dan alamat ada pada tabloid yg udah gw balikin ke tumpukan
koran bekas.

Aihaih, gak ngerti gw. Sebagai catatan, gw gak ngerti banyak tentang organisasi MFI n apa yang mereka perjuangin. Makanya gw pengen review dari kacamata gw aja. Gw setuju kalo anak2 menonton film yang berisi kekerasan n seks secara vulgar merupakan salah satu tindakan perusakan generasi bangsa. Tapi antisipasinya yang pas lah. Masih ada pilihan untuk menyeleksi penontonnya alih-alih memotong-motong filmnya untuk ”layak tonton”.

Yang gw tau, film isa dikelompokin jadi beberapa kelompok; Segala umur, Remaja, Dewasa. Masak film ”300”, ”Saw”, atopun ”Resident Evil” mau dipotong2 sampe ratingnya jadi segala umur? Kalopun sensor film melakukan tugasnya dengan benar, film2 tadi akan tayang dng durasi 30 menit. Lagian, mana mungkin bikin film yang temanya zombie pemakan daging manusia yang matinya cuma dengan ngeledakin kepala zombie sampe otaknya terburai kemana2 jadi film yang boleh ditonton anak TK macem Dora the Explorer? (garuk2 kpala)

Peta, peta! Jembatan, hutan, gunung! Kita sudah sampai! Sekarang hancurkan kepala zombie-nya.

Sebenernya apa yang ditakutin penulis surat pembaca tadi gak perlu terjadi kalo anak2 di bawah umur tadi sama sekali enggak diperbolehkan nonton film Kawin Kontrak dan terima nasib saja untuk menonton Dora the Explorer, Go Diego, Disney Channel, ato Nickelodeon. Sedangkan tontonan seperti Spongebob, Cat-Dog, the Simpsons, Fashion TV, merupakan konsumsi orang yang sudah cukup umur (beruntungnya kita :P).

Karena gw pernah kerja jadi seniman (aiiiiiiih, seniman), gw jadi punya empati sama si pembuat film. Udah susah2 bikin film dengan cerita yang utuh, tau2 pas tayang dipotong2 demi dapat predikat ”layak tonton”. Punya rasa hormat dikit lah sama karya seni.

No comments: