Sunday, May 18, 2008

Akurasi, Akurasi, Akurasi

Gw masih inget dinding ruang putih berplafon gipsum itu terpasang plakat berjajar. Sebagian berisi motivasi diri, sebagian lain berisi aturan2 ’emas’ jurnalistik. Sedikit banyak gw ngerasa gak semestinya gw ada di ruangan ini. Tapi kala itu, program pelatihan kantor mengharuskan gw bersama kru produksi redaksi menghabiskan jadwal pelatihan grafis bersama GM Sudharta selama beberapa hari.

Yang paling menarik adalah salah satu plakat yang bertuliskan kata2 mutiara dari Pulitzer, seorang tokoh jurnalistik yang namanya diabadikan menjadi penghargaan tinggi di bidang jurnalistik. Tertulis dengan ukuran huruf besar-besar ’Akurasi, akurasi, akurasi’. Betapa kata ’akurasi’ merupakan hal dasar yang teramat penting sehingga harus diulang tiga kali dalam satu kalimat. Gw rasa media massa memang sepatutnya memegang teguh prinsip tersebut mengingat efek media yang luar biasa terhadap khalayak ramai.

Masih seperti ada di depan gw, salah seorang editor senior koran terkemuka di Jogja pernah bilang, ”Akurat n gak akurat itu seperti gol dalam sepak bola. Walopun tipis bedanya, gol dan hampir gol punya perbedaan prinsip yang sangat dalam. Membuahkan nilai atau tidak sama sekali. Akurat, atau tidak akurat sama sekali”.

Keakuratan adalah hal yang gak gw temuin di salah satu majalah mingguan terkemuka di Indonesia yang gw baca sembari menunggu boarding di Bandara Ngurah Rai, Bali. Pada sepotong artikel tentang konversi minyak tanah ke LPG di Jakarta yang menarik perhatian gw. Ada sedikit hal mengganggu di dalam tubuh berita tentang penyebutan nara sumber yang dikutip majalah tersebut. Djaelani Sutomo bukanlah Direktur Bahan Bakar Minyak Pertamina, bahkan gak ada jabatan seperti tersebut di dalam tubuh organisasi Pertamina.

Memang remeh sekali. Salah sebut jabatan, gelar, tempat, ato UTBHGPL (Urusan Tata Bahasa dan Hal Gak Penting Lainnya) memang jamak terjadi di media massa. Mungkin memang gak sebegitu penting dibandingkan dengan nilai dari berita tersebut. Bisa saja (mungkin kalo redaksi majalah tersebut paham kesalahan yang mereka perbuat ato setelah ada surat keluhan resmi dari yang bersangkutan) majalah terbitan terbaru hanya memuat ralat bahwa Djaelani Sutomo itu bukanlah Direktur Bahan Bakar Minyak Pertamina, melainkan Vice President Pemasaran Bahan Bakar Minyak Retail. Tapi ketika satu sisi berita sudah tidak akurat, apalagi yang isa kita percayai dari berita tersebut? ’Akurat, atau tidak akurat sama sekali’.

Catatan: Semakin hari, gw semakin sensitif sama yang namanya berita tentang minyak dan gas. Tanyalah kenapa.

No comments: