Friday, October 31, 2008

SMS is Silaturahmi

On a hot October 14th, an SMS inboxed my cellphone. Ah, my dear Sugie_hmum… eh, Sugie_hapik is on the other part of the island.

Sugie_hapik : Hei… I’m on my way to Batavia :)
Matahari : Wow! Ada kursus lagi dari Kompas? Bareng Bimbim?
Sugie_hapik : Uji kompetensi naik tingkat jadi peneliti muda sesi wawancara (semoga lulus!) Yup, ma Bimbim nginep di Santika. Tetapi kali ini kamu ga bisa datang dengan bawa skantong cemilan berharap ngobrol semaleman hahaha…
Matahari : Hmmm, I wonder why…
Sugie_hapik : Not because there is a husband. It’s because a ring in my finger. Hehehehe, ga penting banget. Aku balik 16 pagi. Kabar2 aja sapa tau bisa just stopping by.
Matahari : Lho, who said anything about you? I thought Bim brings his wife. Are you sure it’s just the ring, not the thing called love and commitment?
Sugie_hapik : Hihihihi, nope, no couples this time. Just a thing that symbolize everything (or anything). But it’s OK to go out late at night with someone’s wife :P

Jah, I thought the true phrase is “laki-laki baik-baik gak kluyuran malam-malam sama istri-istri orang”*. Oh, Mr. Husband, something is wrong with your wife’s head.

*A gentleman never go out late with anyone’s wifes

Thursday, October 23, 2008

Gak Mumet Lagi

Menyapa seorang teman beberapa bulan lalu. Tampak ada sedikit perubahan dari log in sebelumnya. Dari yang tadinya Sugie_hmumet* ke Sugie_hapik**, gak banyak perubahan yang terjadi kan? Walaupun begitu, perubahan tersebut cukup fundamental. Perlu diketahui bahwa statusnya skarang adalah penganten baru. Waktu itu gw sempet datang ke nikahannya di Semarang. Aih, aih, tetapi gak gw sangka perubahan statusnya sampe di dunia maya.

Matahari : saiki YM-mu iki?
Matahari : ora sing mumet?
Sugie_hapik : kan udah ga mumet lagi
Sugie_hapik : ;))
Sugie_hapik : :”>
Sugie_hapik : bawa optimisme baru duong
Matahari : jadi obat mumetnya apa ini? ;))

Pertanyaan retoris yang akhirnya gw reka-reka jawabannya sendiri. Obat mumet ya kawin duoooonnng! Kwkokwokwowk….

* mumet (bahasa Jawa) : pusing
** apik (bahasa Jawa) : baik, sehat

Tuesday, October 21, 2008

Orbituari Pohon Beringin

Salah satu hal yang gw suka dari Jakarta Pusat adalah masih ada rerimbunan pohon yang meneduhkan. Baik dari jalur hijau yang memang diperuntukkan buat taman di Jalan Raya Kwitang (menyingkirlah kau wahai SPBU Kwitang fuhfuhfuh…), pohon2 yang terawat dari balik pagar bangunan Pemerintahan di sepanjang jalan Ridwan Rais dan Taman Tugu Tani, pohon2 liar yang tumbuh besar mengakar di beberapa lahan kosong, maupun pohon2 tua yang setia menaungi Menteng.

Karena berkat pohon2 inilah Jakarta masih isa bernafas di sela smog yang menggantung siang malam. Di bawah dedaunan itulah Penghuni Jakarta sejenak melepas penat. Melalui daun2nyalah lembar demi lembar sejarah tercatat dan dapat diputar kembali.

Maka tibalah pada bagian seperti yang tertulis di setiap cerita ninabobok, “…dan manusia pun menjadi congkak”.

Tiga bulan lalu, gw masih isa menikmati kerindangan beringin di Menteng Raya. Tetapi pas gw lewat tempat yang sama sebelum mudik ini, gw enggak nemu keteduhan yang biasanya gw rasain. Selidik punya selidik, ternyata pohon beringin yang biasanya bercokol di pinggir jalan, sudah tinggal batangnya aja. Hohoho, kejutan!

Memang, sebuah pohon di depan SPBU merupakan halangan sirkulasi maupun halangan visual. Benar, daun yang berguguran mengurangi estetika sebuah SPBU. Betul sekali jika akar pohon Beringin akan melemahkan struktur dan berbahaya bagi tangki timbun. Tentu saja itu semua buruk untuk bisnis. Bisnis? Hari gini kok enggak berpikir materialistis? Hari gini kok masih pake pendekatan romantis?

Siapa yang peduli bahwa pohon yang malang itu mungkin pernah jadi saksi perjuangan pemuda di Gedung Juang di Jalan Menteng Raya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat ia tumbuh?

Siapa yang pernah telaten menghitung berapa banyak karbondioksida yang pernah dia hisap dan oksigen yang pernah dia hasilkan selama dia hidup?

Siapa yang peduli di akar2nya banyak menyimpan air hujan sehingga orang2 yang menggunakan gedung2 sekitarnya masih isa menyiram jamban sehabis kencing dan berak?

Siapa yang bakal ngertiin bahwa setiap pohon punya hak yang sama kek manusia? Mencari makan, beranak pinak, mewariskan nilai2 kepada generasi selanjutnya, dan bertasbih atas nama Allah!

Nobody gives a sh*t coz it’s just a f*cking tree!!

Catatan kecil:
Jadi inget aksi yang digelar di lobi depan Gedung A kampus JAFT (gedung perpustakaan, pengajaran, dan ruang dosen). Aksi yang dimotori oleh salah seorang dosen yang berempati dengan ditebangnya pohon Nangka di belakang kampus untuk bikin perluasan gedung kuliah Kampus Planologi. Hal yang seharusnya isa dipikirkan dengan arif karena arsitektur adalah bagaimana ruang isa mewadahi aktivitas segenap penghuninya.

Wednesday, October 15, 2008

Baju Baru, Alhamdulillah (?)

Ya, sore itu gw liat tivi. Jangan salahin gw karena status jadi ‘pengangguran sementara’-lah gw jadi terpapar sama yang namanya infotainment (tayangan gosip ato apapun namanya itu). Artis yang tempo hari melakukan pencemaran pantai Ancol atas nama buang sial, kini nongol lagi di tivi. Kali ini doi lagi nyari baju baru buat Lebaran (liputan yang penting sekali, bukan?).

Sang Artis : gw udah siapin baju bersih, baru, wangi, beli dari Arab pulak! (dengan mata berbinar-binar dan muka berseri-seri) <<< seandainya aktingnya isa seekspresif ini, dia mungkin isa jadi aset seni peran bangsa.

Wow kakak, wooooow. Baju beli di Arab, ya? Udah liat labelnya blom? Kali aja buatan Cibinong.

Thursday, October 09, 2008

Hikmah Ramadhan (?)

Ramadhan telah berlalu, tetapi ada hal-hal yang datang mengetuk kesadaran gw hasil munajat sebulan penuh itu.

1. Zakat dan sedekah
Perbedaan dasar antara zakat dan sedekah terletak pada hukum yang mengikat keduanya. Jika sedekah tidak ada peraturan yang mengatur, sedangkat zakat ada terms n conditions yang berlaku. Jika saja orang2 mau memahami aturan2 yg benar, mungkin kejadian menyedihkan yang terjadi di Jawa Timur isa dihindari. Tetapi, ketika semua orang menyerukan untuk membagikan zakat melalui lembaga yang sudah ditunjuk, Gubernur DKI malah membagikan “zakat” sama seperti pembagian “zakat” di Jawa Timur. Jika pembagian zakat melalui amil (badan) zakat memang harus dilakukan, alangkah baiknya seorang Gubernur melakukan hal tersebut sebagai contoh untuk semua umat.

Mau berbentuk infaq, sedekah, zakat, hibah, wakaf, dan lain sebagainya, semoga aja bikin kita gak termasuk orang2 yang kuat menggenggam harta. Karena harta gak dibawa mati dan takut gak isa mempertanggungjawabkan kelak nanti di hari perhitungan akhir.

2. Puasa melatih diri
Menjaga hati, lisan, pikiran, dan segala tindakan. Lebih sabar, lebih isa melihat situasi dan kondisi. Duh Kanjeng Ibu, ingkang putra nyuwun gunging pangaksami. Hiks….

3. Trik sahur anak kos
Lebih praktis membeli sahur sehabis tawarih sehingga gak perlu kluar pagi2 buat cari sahur. Karena emang masih ngantuk atau daerah tempat kos jarang ada warung yang buka pas sahur. Tentu saja dengan sedikit trik, makanan yang sudah dingin tersebut isa menjadi tampak menggiurkan. Dengan memisahkan bumbu dengan sate, terbukti mampu membuat rasa sate menjadi lebih awet daripada dicampur.

4. Pemesanan tiket mudik
Atas nama kemudahan, pertimbangan harga, dan menghindari ngantri yang tidak masuk akal, rencanakanlah pembelian tiket mudik secara seksama. Pesanlah tiket sesegera mungkin setelah jadwal satgas diumumkan TT__TT

5. Pengaturan jadwal libur di kampung
Karena waktu libur yang terbatas, sebuah daftar harus dibuat. Sebuah daftar yang memuat apa saja yang bakal dilakuin, sapa aja yang mau dikunjungi, dan selalu buat rencana cadangan (penting sekali). Karena ketika temanmu bilang “Ya, nanti kita kontak-kontakan lagi”, itu artinya rencana cadangan harus langsung jadi prioritas utama. Karena gak akan terjadi kontak-kontakan seperti yang dijanjikan. Gak akan pernah terjadi walopun ditunggu sampe Lebaran Monyet pun. Not ever.

Saturday, October 04, 2008

Selingan Bulan Puasa

Panasnya September Jakarta membuat berpuasa menjadi lebih menantang. Di tempat yang tingkat derajat ke-terserah gw-an yang tinggi ini membuat semuanya isa terjadi. Shits happen in Jakartalah pokoknya. Orang dengan cueknya makan minum di trotoar, pengemudi gak sabaran membelok sana-sini, yang kreatif menaiki trotoar demi menghindari kemacetan, sementara yang lain membunyikan klakson tak kalah sengit. Ikhlas dan sabar menjadi komoditas yang langka.

Siang itu gw selese mencari barang2 bahan pokok untuk sedekah ke panti asuhan. Karena susah mencari lift ke lantai 5 dengan troli, alih2 menaikkan barang, kami mutusin nurunin mobil ke lantai ground. Gw dan temen yang berperan sebagai pengemudi (gw kan gak isa nyetir, teuteup…) menuju lantai 5 tempat mobil terparkir. Setelah melewati lautan massa (gw gak melebih2kan), akhirnya sampai juga di elevator naik ke lantai 5. Gw baru sadar kalo lantai 5 adalah food court. Serta merta aja gw rapal lagi niat puasa biar niatan gw kembali lurus.

Nawaitu souma godhin ‘an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati fardholillahi ta’aala… amien. Alhamdulillah.

Tetapi ternyata temen gw malah ngasi reaksi yang lain.

Sobri : Lon, kalo kaya gw sekarang (seorang suami), godaan terberat bukan menahan lapar dan dahaga. Kalo itu mah keciiiilll.
Matahari : Nah, trus?
Sobri : Kalo sekarang lebih susah menahan syahwat.
Berdua : Wuakakakaka…

Oooo, begitu, ya? Sebuah informasi yang berharga :D :D

Friday, October 03, 2008

Salam dari Depan Pintu

Satu jam terombang-ambing dalam kabin Mandala bikin gw terus mikirin rumah. Gw tepis pikiran2 buruk yang ada di kepala. Gw coba ngasih sugesti positif. Rasa lega menyeruak ketika gw liat kunang2 Semarang mulai menari di kegelapan dari balik jendela.

Kaki gw seakan gak nginjek runway yang basah oleh sisa air hujan. Gw terlalu bersemangat untuk segera sampai di rumah. Sesegera roda2 taksi menggilas aspal menepikan malam.

Gerombol Pacar Banyu, Adenium, Tapak Dara, dan sebuah pintu jati di balik rumpun Melati hiruk pikuk di pelupuk mata. Ada cinta menunggu di balik sana.

“Assalamualaikum!”