Tuesday, October 21, 2008

Orbituari Pohon Beringin

Salah satu hal yang gw suka dari Jakarta Pusat adalah masih ada rerimbunan pohon yang meneduhkan. Baik dari jalur hijau yang memang diperuntukkan buat taman di Jalan Raya Kwitang (menyingkirlah kau wahai SPBU Kwitang fuhfuhfuh…), pohon2 yang terawat dari balik pagar bangunan Pemerintahan di sepanjang jalan Ridwan Rais dan Taman Tugu Tani, pohon2 liar yang tumbuh besar mengakar di beberapa lahan kosong, maupun pohon2 tua yang setia menaungi Menteng.

Karena berkat pohon2 inilah Jakarta masih isa bernafas di sela smog yang menggantung siang malam. Di bawah dedaunan itulah Penghuni Jakarta sejenak melepas penat. Melalui daun2nyalah lembar demi lembar sejarah tercatat dan dapat diputar kembali.

Maka tibalah pada bagian seperti yang tertulis di setiap cerita ninabobok, “…dan manusia pun menjadi congkak”.

Tiga bulan lalu, gw masih isa menikmati kerindangan beringin di Menteng Raya. Tetapi pas gw lewat tempat yang sama sebelum mudik ini, gw enggak nemu keteduhan yang biasanya gw rasain. Selidik punya selidik, ternyata pohon beringin yang biasanya bercokol di pinggir jalan, sudah tinggal batangnya aja. Hohoho, kejutan!

Memang, sebuah pohon di depan SPBU merupakan halangan sirkulasi maupun halangan visual. Benar, daun yang berguguran mengurangi estetika sebuah SPBU. Betul sekali jika akar pohon Beringin akan melemahkan struktur dan berbahaya bagi tangki timbun. Tentu saja itu semua buruk untuk bisnis. Bisnis? Hari gini kok enggak berpikir materialistis? Hari gini kok masih pake pendekatan romantis?

Siapa yang peduli bahwa pohon yang malang itu mungkin pernah jadi saksi perjuangan pemuda di Gedung Juang di Jalan Menteng Raya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat ia tumbuh?

Siapa yang pernah telaten menghitung berapa banyak karbondioksida yang pernah dia hisap dan oksigen yang pernah dia hasilkan selama dia hidup?

Siapa yang peduli di akar2nya banyak menyimpan air hujan sehingga orang2 yang menggunakan gedung2 sekitarnya masih isa menyiram jamban sehabis kencing dan berak?

Siapa yang bakal ngertiin bahwa setiap pohon punya hak yang sama kek manusia? Mencari makan, beranak pinak, mewariskan nilai2 kepada generasi selanjutnya, dan bertasbih atas nama Allah!

Nobody gives a sh*t coz it’s just a f*cking tree!!

Catatan kecil:
Jadi inget aksi yang digelar di lobi depan Gedung A kampus JAFT (gedung perpustakaan, pengajaran, dan ruang dosen). Aksi yang dimotori oleh salah seorang dosen yang berempati dengan ditebangnya pohon Nangka di belakang kampus untuk bikin perluasan gedung kuliah Kampus Planologi. Hal yang seharusnya isa dipikirkan dengan arif karena arsitektur adalah bagaimana ruang isa mewadahi aktivitas segenap penghuninya.

2 comments:

esha di birulangit said...

Kadang saya membayangkan kalau di setiap jalan tumbuh pepohonan dalam jarak yang beraturan...enak kali ya....

iyha said...

cerita yang menarik