Saturday, November 29, 2008

Seperti Ada yang Salah

Dua bulan lalu. Ketika matahari sedang garang membakar Jakarta. Bau saluran Ciliwung menyengat. Hitam air dan buih entah apa gak menyurutkan niat sekelompok anak2 untuk menikmati riangnya bermain air. Sampai seorang pemuda yang sedikit terganggu dengan sedikit keceriaan diantara impitan riuh Ibu Kota memanggil Polisi Lalu Lintas. Dari senyum lebar pemuda itu, gw kira dia hanya mencoba menakut-nakuti anak2 itu dengan memanggil sosok Polisi. Pak Polisi yang tadinya sedang sibuk mengatur lalu lalang serta merta membunyikan priwitan yang kemudian disusul dengan suaranya yang menggelegar. Memperingatkan anak2 itu untuk segera keluar dari saluran Ciliwung.


Si pemuda tertawa2 senang melihat anak2 kecil itu berserabutan cepat2 keluar dari “kolam renang” tersebut. Secepatnya mereka memakai pakaian yang mereka tanggalkan di tepian saluran. Tetapi malang, si pemuda tidak hanya berhenti di situ saja. Dengan sigap, dia mengambil salah satu pakaian kumal itu dan mencoba menyembunyikannya di balik jaket yang dia kenakan.


Satu anak meringkuk di pinggir saluran, menggigil kedinginan di bawah terik matahari, di tengah hiruk pikuk Jakarta, dalam keadaan bugil. Teraniaya dan tak berdaya. Malu dan bingung harus menjelaskan kepada Bapak-Ibu kalau harus pulang tanpa pakaian.


Sepertinya ada yang salah sama penggalan kejadian yang terlalu sedih untuk terjadi.


Gw harus ngasih pekerjaan rumah buat Tata Kota Ibu Kota tercinta untuk membuat Ibu Kota ini lebih ramah dengan penghuninya. Jika anak2 sudah main gundu di trotoar, main bola di tengah jalan, dan menggunakan saluran buangan limbah sebagai kolam bermain, pasti ada yang salah sama perencanaan tata kota.


Gak seharusnya pula manusia sebagai manusia dewasa yang berakal sehat menyembunyikan pakaian anak2 yang mengakibatkan anak tersebut harus bugil sebagai suatu gurauan. Menurut gw (yang ngasal ini) hal itu bakal bikin dampak buruk bagi pengalaman masa kecil si anak. Gw kira ini sebagai salah satu contoh masyarakat yang sudah sakit.


Pak Polisi mungkin berniat baik dengan melarang anak2 itu bermain di saluran air. Karena bermain di saluran yang dalam, kotor, berwarna hitam, dan berbau busuk tentu saja membahayakan keselamatan anak2. Tetapi citra yang ditunjukkan Pak Polisi dengan segala atributnya plus priwitan dan suara menggelegar tentu saja membuat anak2 ketakutan. Apakah gak ada cara lain yang lebih arif untuk lebih mendekatkan polisi dengan penghuni suatu kota sehingga terjadi satu simbiosis mutualisme?

Friday, November 21, 2008

Yang Mana Yang Pribumi?

Suatu sore di dalam bajaj pada perjalanan pulang dari hari kerja kantoran yang melelahkan. Bajaj yang gw tumpangin bersama seorang teman tengah ber-zigzag ria di tengah kemacetan Taman Patung Pak Tani ketika supir bajaj memberikan pertanyaan yang membuat pikiran kami berpikir ulang mengenai “kebanggaan terhadap nilai luhur ketimuran” yang sering diagung2kan masyarakat bangsa ini.


Pak Bajaj : Mas, mas tau gak gedung yang ada Satpamnya itu gedung apa?

Matahari : Gedung yang mana, Pak? Gedung yang menghadap ke Gambir itu Kedutaan Besar Vatikan.

Pak Bajaj : Bukan itu, Mas. Yang itu tuh (nunjuk ke gedung di sebelah Disnakertrans). Yang dijaga Satpam.

Matahari : Ooo, orang bilang sih itu Gudang Arsip Kedutaan Besar Amerika. Emang knapa, Pak?

Pak Bajaj : (konsentrasinya tetap kearah jalanan walopun kliatan jelas dia agak gusar) Satpamnya belagu. Masak saya mogok di sana disuruh cepet nyingkir. Suruh maju-maju terus. Akhirnya malah disuruh ngeluarin KTP.

Matahari : Terus, Pak?

Pak Bajaj : Ya saya bilang saya gak ada KTP. Emang sapa dia suruh2 ngliatin KTP? Gak liat apa saya lagi kesusahan mogok.

Matahari : Mogoknya tadi, Pak?

Pak Bajaj : Iya, waktu itu saya nganterin penumpang ke Atrium Senen. Pas saya bilang saya gak ada KTP, Satpamnya bilang ‘Dasar lu pribumi gembel’.

Matahari : Dia bilang gitu, Pak? (mlongo dengan ekspresi ‘what the f**k did you say?’ yang sempurna)

Pak Bajaj : Iya, emang gak liat kalo dia juga pribumi? Hampir aja dia saya pukul pake besi starter yang ada di bajaj. Emang kalo sudah kebanyakan dikasi makan sama orang asing jadi kaya gitu ya, Mas?

Matahari : ….


Yang mana yang pribumi?


Dalam darah gw mengalir darah Bapak yang berasal dari Banyumas dan Ibu dari Kendal. Brarti gw memang gak isa dibantahkan dikelompokkan pribumi Jawa. Tetapi ngeliat leluhur Ibu yang ada di Pesisir Jawa Bagian Utara kok gw gak yakin kalo tidak ada dari mereka yang berasal dari Tanah Sabrang Lor. Atau malah kalo liat dari kuatnya pengaruh Islam di Kendal, gw jadi agak ragu kalo dibilang gak ada dari leluhur gw yang datang dari daratan Tiongkok.


Gw yakin pulak bahwa gak sedikit yang ngalamin kerancuan serupa. Katanya Batak tetapi ibunya orang Semarang dan lahir di Semarang tetapi gede di Bali. Katanya Padang tetapi lahir dan gede di Bandung, lebih lancar bilang “peuyeum” daripada ngomong “ayam pop”, malah lebih apal jalan ke Ciumbuleuit daripada ke Limapuluh Koto. Trus, bagaimana dengan mereka yang punya Bapak orang Jerman plus Ibu Jogja tetapi lahir di Washington DC?


Sekali lagi, pribumi itu yang mana?


Amerika saja punya Presiden blasteran keturunan Kenya yang pernah tinggal di Indonesia. Ya, negara mulia yang tempat arsip kedutaannya dijaga oleh Satpam itu sekarang punya Presiden berkulit hitam. Padahal penduduk asli (native) Amerika adalah bangsa kulit merah. Sekarang masih zaman ya ngomong “pribumi”?


Atau mungkin bener kata Adi Andojo Soetjipto, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang kehilangan harga diri (Kompas/13 November 2008)? Apakah penderitaan dijajah bangsa lain, pahitnya dikhianati para pemimpin bangsa, himpitan ekonomi, dan kenyataan bahwa warisan penjajahan ternyata masih dilestarikan oleh bangsa sendiri adalah hal2 yang menyebabkan bangsa ini kehilangan harga dirinya? Bagaimana mungkin sebuah bangsa lebih permisif terhadap bangsa lain tetapi represif terhadap rekan sebangsa dan setanah airnya? (polos mode: on!)


Kalo tuh Satpam udah terdoktrinasi atau udah dicuci otaknya sama yang ngasih duid perbulan buat ngejagain gerbang Selamatangkep beserta jalan masuknya, itu jadi masalah yang lain. Kalo ngerasa gak punya utang sama Negara ini walopun masih isa bebas bernafas, lepas berkentut, tiap malem kalo gak kena jaga malam masih isa ng*nt*t di dalam kamar rumah hasil kreditan KPR di Perumnas, pergi tugas jaga dari rumah lewat jalan mulus naik motor kreditan yang diisi pake bensin subsidi, makan minum masak pake minyak tanah subsidi, nyolok tivi isi sinetron pake listrik murah meriah, anak2nya masih isa sekolah di SD Inpres dengan fasilitas sekadarnya tetapi tentunya juga subsidi, dan guru2nya walopun dibayar murah tetapi statusnya PNS itu sih jadi masalah yang beda lagi.


Masalahnya bukan cuma “kehilangan harga diri kebangsaan” tetapi udah jadi masalah gak tau diuntung. Karena yang subsidi2 tadi gak lain dan gak bukan diambil dari pajak kristalisasi perasan keringet kuli2 yang dikatain “pribumi gembel” tadi.


Hiduplah Indonesia Raya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

Tuesday, November 18, 2008

Negeri Para Pendongeng

Gw denger dari orasi dan gw baca dari tulisan tuan-tuan serta nyonya-nyonya yang intelek nan berpikiran luas. Dari mereka yang mencoba menbangkitkan sejumput rasa kebanggaan atas bangsa ini maupun yang hanya berbual berharap mendapat tempat di Senayan.



Bahwa negeri ini sebetulnya tidak kekurangan energi sama sekali. Indonesia memiliki banyak sumber-sumber energi yang beragam jenisnya. Mulai dari minyak, gas, batu bara, panas bumi (geothermal), sampai nuklir. Belum lagi energi terbarukan lainnya seperti angin, air, matahari, biofuel, dan biogas.


Semuanya tersebar merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Tak sejengkal pun tanah di bumi Nusantara ini yang tidak mengandung karunia Tuhan. Semuanya dapat menghasilkan sesuatu bagi kebutuhan dan perkembangan manusia Indonesia. Bahkan bagi kebutuhan umat di dunia! Tongkat ditancapkan tumbuh pohon. Bukan lautan hanya kolam susu.


Gw yang apatis ini hanya bisa menggantungkan tanda tanya dalam kepala. Kira2 mereka semua itu menggunakan data yang berasal dari Biro Pusat Statistik ataukah dari Buku Dongeng Pengantar Tidur Anak, ya? Mungkin ide bagus jika menambahkan “dan akhirnya semua orang berbahagia selamanya” pada bagian akhir (mungkin) orasi keilmuan atau (sepertinya) essai ilmiah tersebut.


Kata orang pintar, data dapat mencerdaskan bangsa.

Tuesday, November 11, 2008

Bad

Suatu hari sebelum keberangkatan ke Makassar, sebuah SMS persiapan akomodasi nyamper ke inbox.

Sekretaris Centil : Mas, hotel yang di Imperial adanya 'double bad', mau ga? Sebab aku mau confirm sama sekretaris GM di sana.
Matahari : Double bad? Mau nyediain sekretaris d kamar hotel yang bad-nya double? Boleh pesen yang pake borgol dan cambuk?

Gw langsung kepengen cari tali pramuka dan kostum kulit.