Friday, November 21, 2008

Yang Mana Yang Pribumi?

Suatu sore di dalam bajaj pada perjalanan pulang dari hari kerja kantoran yang melelahkan. Bajaj yang gw tumpangin bersama seorang teman tengah ber-zigzag ria di tengah kemacetan Taman Patung Pak Tani ketika supir bajaj memberikan pertanyaan yang membuat pikiran kami berpikir ulang mengenai “kebanggaan terhadap nilai luhur ketimuran” yang sering diagung2kan masyarakat bangsa ini.


Pak Bajaj : Mas, mas tau gak gedung yang ada Satpamnya itu gedung apa?

Matahari : Gedung yang mana, Pak? Gedung yang menghadap ke Gambir itu Kedutaan Besar Vatikan.

Pak Bajaj : Bukan itu, Mas. Yang itu tuh (nunjuk ke gedung di sebelah Disnakertrans). Yang dijaga Satpam.

Matahari : Ooo, orang bilang sih itu Gudang Arsip Kedutaan Besar Amerika. Emang knapa, Pak?

Pak Bajaj : (konsentrasinya tetap kearah jalanan walopun kliatan jelas dia agak gusar) Satpamnya belagu. Masak saya mogok di sana disuruh cepet nyingkir. Suruh maju-maju terus. Akhirnya malah disuruh ngeluarin KTP.

Matahari : Terus, Pak?

Pak Bajaj : Ya saya bilang saya gak ada KTP. Emang sapa dia suruh2 ngliatin KTP? Gak liat apa saya lagi kesusahan mogok.

Matahari : Mogoknya tadi, Pak?

Pak Bajaj : Iya, waktu itu saya nganterin penumpang ke Atrium Senen. Pas saya bilang saya gak ada KTP, Satpamnya bilang ‘Dasar lu pribumi gembel’.

Matahari : Dia bilang gitu, Pak? (mlongo dengan ekspresi ‘what the f**k did you say?’ yang sempurna)

Pak Bajaj : Iya, emang gak liat kalo dia juga pribumi? Hampir aja dia saya pukul pake besi starter yang ada di bajaj. Emang kalo sudah kebanyakan dikasi makan sama orang asing jadi kaya gitu ya, Mas?

Matahari : ….


Yang mana yang pribumi?


Dalam darah gw mengalir darah Bapak yang berasal dari Banyumas dan Ibu dari Kendal. Brarti gw memang gak isa dibantahkan dikelompokkan pribumi Jawa. Tetapi ngeliat leluhur Ibu yang ada di Pesisir Jawa Bagian Utara kok gw gak yakin kalo tidak ada dari mereka yang berasal dari Tanah Sabrang Lor. Atau malah kalo liat dari kuatnya pengaruh Islam di Kendal, gw jadi agak ragu kalo dibilang gak ada dari leluhur gw yang datang dari daratan Tiongkok.


Gw yakin pulak bahwa gak sedikit yang ngalamin kerancuan serupa. Katanya Batak tetapi ibunya orang Semarang dan lahir di Semarang tetapi gede di Bali. Katanya Padang tetapi lahir dan gede di Bandung, lebih lancar bilang “peuyeum” daripada ngomong “ayam pop”, malah lebih apal jalan ke Ciumbuleuit daripada ke Limapuluh Koto. Trus, bagaimana dengan mereka yang punya Bapak orang Jerman plus Ibu Jogja tetapi lahir di Washington DC?


Sekali lagi, pribumi itu yang mana?


Amerika saja punya Presiden blasteran keturunan Kenya yang pernah tinggal di Indonesia. Ya, negara mulia yang tempat arsip kedutaannya dijaga oleh Satpam itu sekarang punya Presiden berkulit hitam. Padahal penduduk asli (native) Amerika adalah bangsa kulit merah. Sekarang masih zaman ya ngomong “pribumi”?


Atau mungkin bener kata Adi Andojo Soetjipto, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang kehilangan harga diri (Kompas/13 November 2008)? Apakah penderitaan dijajah bangsa lain, pahitnya dikhianati para pemimpin bangsa, himpitan ekonomi, dan kenyataan bahwa warisan penjajahan ternyata masih dilestarikan oleh bangsa sendiri adalah hal2 yang menyebabkan bangsa ini kehilangan harga dirinya? Bagaimana mungkin sebuah bangsa lebih permisif terhadap bangsa lain tetapi represif terhadap rekan sebangsa dan setanah airnya? (polos mode: on!)


Kalo tuh Satpam udah terdoktrinasi atau udah dicuci otaknya sama yang ngasih duid perbulan buat ngejagain gerbang Selamatangkep beserta jalan masuknya, itu jadi masalah yang lain. Kalo ngerasa gak punya utang sama Negara ini walopun masih isa bebas bernafas, lepas berkentut, tiap malem kalo gak kena jaga malam masih isa ng*nt*t di dalam kamar rumah hasil kreditan KPR di Perumnas, pergi tugas jaga dari rumah lewat jalan mulus naik motor kreditan yang diisi pake bensin subsidi, makan minum masak pake minyak tanah subsidi, nyolok tivi isi sinetron pake listrik murah meriah, anak2nya masih isa sekolah di SD Inpres dengan fasilitas sekadarnya tetapi tentunya juga subsidi, dan guru2nya walopun dibayar murah tetapi statusnya PNS itu sih jadi masalah yang beda lagi.


Masalahnya bukan cuma “kehilangan harga diri kebangsaan” tetapi udah jadi masalah gak tau diuntung. Karena yang subsidi2 tadi gak lain dan gak bukan diambil dari pajak kristalisasi perasan keringet kuli2 yang dikatain “pribumi gembel” tadi.


Hiduplah Indonesia Raya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

3 comments:

Luthvi said...

yah mas, masih banyak kali orang yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain. Menganggap derajatnya lebih dari orang lain, ibarat kalimat kacang lupa kulitnya.

Seharusnya menjadi 1 keluarga malahan jadi musuhan. Mungkin mengingatkan kembali sebagai satu keluarga itu penting...:)

kapan wisata kulinernya?

juliach said...

Bapaknya anak I-ku orang perancis yang merupakan keturunan spanyol (bapak) dan perancis (ibu). Untuk masalah warga negara di perancis dan spanyol tidak susah dan gratis. Sehingga dia bisa hidup dan bersekolah di Perancis dan mendapatkan pelajaran bhs spanyol gratis dari kedubes spanyol.
Sedangkan untuk mencari warga negara RI, harus bayar dan repot pula. Begitu pula untuk berkunjung ke Indonesia, juga repot karena dia harus cari visa dan jika tinggal lama di Indonesia setiap bulan harus berurusan dgn Imigrasi dan polisi setempat yang biayanya sungguh aduhai.

ngodod said...

wogh..., dasar antek.