Wednesday, December 31, 2008

Dari Atas Sini

Dari atas sini, Semarang selalu tampak berbeda. Dari parkiran atap Plasa Simpang Lima, gw gak ngeliat Semarang datar seperti biasanya. “Bird eye view” ini menampilkan bentuk tiga dimensi yang jelas dari Kota Loenpia ini.


Di bawah sana, Lapangan Pancasila Simpang Lima bersinar meriah. Di hadapan sisi utara lapangan berdiri hotel dan Citraland mall yang tampaknya menjadi pusar tempat gaul orang Semarang. Di sisi barat, Masjid Baiturrahman selalu menjadi ikon religius kota ini. Di sebelah selatan, di hadapanku, gedung kantor Bank Indonesia berdiri berlatar belakang Bukit Siranda. Berada seratusan meter sebelah barat Gedung BI, sebuah gedung yang mempunyai atap lebih luas dari lantai dasarnya dan mempunyai gubahan massa seperti berlian terpotong serta berdiri angkuh adalah Gedung Berlian, Gedung DPRD Jawa Tengah. Seperti terpahat dari bukit Siranda, grid tegas hotel Siranda yang tutup berbisnis karena ditinggalkan peminatnya muncul dari tebing menyerupai sarang lebah. Satu demi satu, “city scape” dari Semarang bangkit dari peta yang selama ini gw pahami.


Bukan cuma bentuk tiga matra ini yang tampil, tetapi kenangan-kenangan itu juga merembes keluar seiring gerimis malam itu.


Dari atap inilah gw pernah hunting foto bersama rekan-rekan AF, Arsitektur Fotografi, berusaha merekam gambar Simpang Lima di waktu malam. Di tempat ini jugalah gw serta kawan-kawan seangkatan Arsitektur Universitas Diponegoro mencari tambahan dana Kuliah Kerja Lapangan dengan menyelenggarakan lomba gambar. Citraland Mall adalah tempat alternatif melepas lelah setelah bosan melihat tandusnya Kampus Tembalang dan sapi yang berkeliaran di dalamnya. Masjid Baiturrahman selalu menjadi pelipur lara ketika harus beradu argumen di Lapangan Pancasila. Gedung Berlian mempunyai arti penting buat gw karena gedung itu merupakan tonggak sejarah dimulainya kehidupan gw sebagai seorang mahasiswa Arsitektur. Tepat dimulai dari sketsa cepat Gedung Berlian sebagai salah satu tugas OSPEK tahun 1998. Sedangkan Gedung BI memutar waktu lebih cepat ke depan, waktu ketika gw sebagai mahasiswa yang lebih dulu ambil beberapa mata kuliah desain berusaha menularkan sedikit ilmu Gambar Arsitektur kepada mahasiswa-mahasiswa baru.


Simpang Lima merupakan pansieve pot-ku.


Matahari : Kau tulis namaku dan namanya di kertas gambarnya, kan?

Ruli : Haha, mau inget-inget kenangan yang itu?

Matahari : Hehe, yang sedih-sedih jangan lah…

Ruli : Sesedih apapun kenangan itu, tetep masih jadi kenangan manis bukan?

Matahari : (senyum kecil) He eh…


Gerimis mulai menjadi deras. Sebuah Karimun hitam berpenumpang dua orang yang disatukan persahabatan turun dari atap Plasa Simpang Lima untuk menyusuri Semarang sekali lagi. Dua dimensi, rata, dan datar.


NB: Uf, maaf karena memakai banyak istilah arsitektur.

Thursday, December 18, 2008

Go To Sleep

Something for the rag and bone man
Over my dead body
Something big is gonna happen
Over my dead body
Someone saw someone's daughter
Over my dead body
This is how I ended up sucked in
Over my dead body
I'm gonna go to sleep
And let this wash all over me
We don't really want a monster taking over
Tip toeing, tying down
We don't want the loonies takin' over
Tip toeing, tying down our arms

Come to you as you sleep
I'm not gonna to sleep
And let this wash over me

Friday, December 12, 2008

Mendhoan for Everybody

Salah satu oleh2 yang gw bawa dari Semarang waktu balik ke Jakarta adalah resep mendhoan dari Bapak yang sudah lama gak gw cicipin. Maksud hati sih pas mudik mau minta dibikinin mendhoan, apa daya waktu dan kesempatan ga berpihak ke gw karena Ibu sudah sibuk dengan segala persiapan Lebaran. Jadinya Bapak ngebawain resep mendhoan biar gw isa bikin sendiri kapan pun gw pengen mengingat di kosan tersedia dapur lengkap dengan peralatan masaknya. Nah, silakan mencatat, print screen, ato co-paste resep berikut ini.


Resep Mendhoan

Mendhoan diambil dari kata “mendho” yang berarti setengah (matang) tetapi sebenarnya sudah matang. Bila digoreng kering disebut kripik.


Bahan2:

1. Tempe usahakan menggunakan tempe tipis yang satu bungkus hanya berisi satu tempe. Bila menggunakan tempe tebal, iris tipis2.

2. Tepung – gunakan tepung terigu, tepung beras, tepung kanji, atau campuran dari tepung2 tersebut

3. Minyak goreng

4. Bumbu – daun bawang diirs tipis2, ketumbar, jinten, bawang putih, garam (terserah menurut selera)


Cara menggoreng:

Bumbu2, tepung, dicampur dengan air secukupnya sampai kental. Tempe dicelupkan ke dalam adonan. Kemudian goreng ke dalam wajan dengan panas tertentu. Sebelum matang benar, angkat mendhoan. Mendoan siap disajikan dengan kecap plus potongan cabai.


Hehehe, kalo diliat memang resepnya sama sekali gak ada takarannya. Memang dibutuhkan kreatifitas dan cita rasa sendiri untuk membuat masakan lezat. Jadi feel free aja untuk memasak. Mungkin ini yang menyebabkan masakan Ibu pasti merupakan masakan yang paling lezat di dunia.


Mendhoan Banyumasan pada saat hujan2 kek gini selalu membawa romantisme sendiri. Ada yang mau nyoba bikin mendhoan?


Catatan kecil:

Percaya gak percaya, pada pagi harinya setelah semalam nulis postingan ini, gw menemukan setumpuk mendhoan di kantin belakang waktu sarapan. Hehehe, ternyata hanya masalah rajin mencari dan rajin pasang mata untuk menemukan mendhoan di ibu kota ini.