Sunday, December 27, 2009

Putu dan Putu


Lihat Senyuman Mereka

Fuuuuuuuuuuuu…

Bunyi nyaring uap panas yang terlepas dari kaleng bekas biskuit memaksaku menoleh ke arah pintu depan. Penjual kue putu sedang beraksi tepat di depan halaman rumahku. Yang membuat kesempatan itu menjadi spesial adalah kehadiran lima anak balita yang mengerumuni tukang kue putu. Bukannya tanpa alasan mereka tampak sangat senang berkumpul di sekitar tukang kue putu. Mereka berkerumun tak lain tak bukan adalah karena dikumpulkan oleh Bapak. Senyum lebar mereka terpancar disertai dengan pertunjukan gigi-gigi mereka yang sebagian digerogoti oleh permen berpewarna dan berbahan pengawet, “gigis”.

Kesenangan anak-anak tadi berlipat-lipat. Bukan hanya saja asyik melihat Tukang Putu menunjukkan kebolehannya mengolah tepung dalam tabung bambu yang tengahnya disusupi sekerat gula jawa, mereka juga masing-masing dijanjikan mendapat jatah satu atau dua kue putu yang dicukongi oleh Bapak. Bahkan seorang anak yang semula menolak tak kuasa menampik pesona kue putu gratisan.

Setelah kue putu panas tersaji lengkap dengan taburan parutan kelapa tua yang gurih, sebuah pembagian yang adil dilakukan di antara mereka. Pasukan cilik tersebut langsung membubarkan diri dengan membahanakan “Terima kasih, Eyang!” sekenanya tanpa komando.

Bapak dan Putu

Perlahan aku cerna adegan ini: Bapak membeli kue putu untuk anak-anak yang memanggilnya Eyang. Akan menjadi lebih shahih kalau mereka juga disebut “putu”, cucu.

Alamakjang, bagi lajang sepertiku, hal ini adalah sebuah pertanda!


Share

Saturday, December 26, 2009

Perjalanan Baru


Istiqlal di Depan Mata

Pendingin ruangan di kantor ini seakan menggigit sampai ke tulang sungsum. Usahaku menghangatkan diri dengan membenamkan kedua tanganku ke dalam saku celana tampaknya sia-sia. Pergumulan antara tanganku yang beku, lipatan amplop, rentengan anak kunci, dan ponsel di dalamnya tidak sedikit pun dapat membantu. Hampir menyerah, aku tarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Memang tidak berhasil menaikkan suhu tubuh, tetapi dingin yang beberapa saat lalu mendekam di hatiku berhasil aku usir.

Dari jendela lantai 10 kantor ini aku lihat awan hujan bersekutu bergumpal-gumpal seperti kembang gula arum manis sedang dikumpulkan dalam sebuah panci pasar malam. Hanya yang ini jauh dari warna merah muda, rasa manis, dan menyenangkan bagi yang memakannya. Melihatnya saja membuat perutku merasa mulas.

Beberapa larik sinar matahari sore kekuningan yang berhasil membebaskan diri dari belenggu arum manis kelabu itu membuat dinding Masjid Istiqlal di depanku memantulkan aura keemasan. Kontras dengan keadaan redup yang sedang terkumpul di penghujung tahun.

Demi melihat hamparan pemandangan tersebut, aku teringat seseorang pernah bilang bahwa arsitektur itu adalah “frozen music”, musik yang membeku. Aku seperti melihat konser Johan Sebastian Bach yang dibumbui oleh aroma keelokan surgawi.

Betapa tidak? Blok masif bangunan utama dipecah oleh garis-garis lurus yang kuat tetapi dilembutkan oleh lengkung kubah yang diusungnya seolah-olah mejadi intro konser. Dak atap selasar yang pejal diselaraskan oleh kolom-kolom kotak yang membuat bingkai rapi sebagai chorus. Tangga melingkar yang tersembunyi di balik menara adzan membuat aksen spiral yang sedikit demi sedikit membawa musik ke tempo yang semakin cepat dan akhirnya permainan tata cahaya surgawi menyambut akhir dari perjalanan konser musik tersebut.

Kukeluarkan tangan kananku dari kantong celana dan meletakkan telapak tanganku lurus-lurus ke depan kaca jendela. Alih-alih dapat menyerap pemandangan yang menakjubkan tersebut dengan indera peraba, aku cuma menambah rasa dingin yang ternyata disimpan oleh kaca jendela sedari tadi pagi.

Aku memang ingin menyimpan semua pemandangan itu dalam lipatan kenangan seperti lipatan-lipatan koran yang bertumpang tindih di meja kerjaku. Karena pemandangan inilah yang mungkin tidak akan aku lihat lagi dalam waktu yang lama.

Di antara profesionalisme yang mati-matian aku jaga, mungkin inilah kali pertama kalinya aku melamun pada jam kerja. Melamun tentang beberapa kilasan kenangan yang terekam oleh dinding dan langit-langit kantor ini, berseling dengan rasa rakus ingin menjejalkan apa yang masih bisa aku lihat sekarang, dan ketakutan-ketakutan tentang apa yang mungkin akan terjadi. Semuanya berdesak-desakan tumpang tindih walaupun mungkin sumber dari semua itu tersusun rapi dalam amplop dalam kantong celanaku.

Di dalam amplop tersebut berisikan tiga lembar kertas; surat keputusan mutasi, surat perjalanan dinas tak kembali, dan tiket satu arah ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Rapi jali, semuanya sudah diatur dari siapa yang akan mengantar kepergianku ke bandara, siapa yang akan menjemput ketika mendarat nanti, bahkan fasilitas kendaraan dan rumah dinas pun tampaknya telah dipersiapkan. Tetapi kenapa hati dan kepalaku masih simpang siur juga?

Mutasi bukan hal baru dalam sejarah karierku. Aku pernah ditempatkan di Jogja selama tiga tahun untuk kemudian dimutasi ke Surabaya. Belum genap satu tahun di Kota Pahlawan, aku dimutasi ke Jakarta untuk memperkuat Kantor Pusat sampai dengan sekarang. Dua tahun di Jakarta berlalu sangat cepat, terhisap pusaran kebisingan di antara keangkuhan gedung-gedung tinggi dan kesombongan segenap penghuninya.

Tetapi mutasi 18° ke arah Timur berarti meninggalkan Pulau Jawa. Pulau tempat aku berjuang untuk bertahan hidup selama ini. Tempat Bapa dan Biyung menunggu kabar dari putra-putra mereka yang jarang mengisi energi di kota tempat mereka dilahirkan, Semarang. Tepi luar sebelah tenggara kepulauan Indonesia tampaknya cukup jauh untuk dijangkau oleh daya nalar sederhana mereka. Ataukah ternyata akulah yang mempunyai nalar yang sederhana?

Lima tahun kuliah di universitas negeri di Semarang dengan IPK di atas rata-rata ternyata tidak lantas membuatku berpikir bahwa mutasi ini adalah sebuah kesempatan emas. Kenyamananku di Jakarta membuat nalarku “cupet”, sempit. Mimpiku yang tergantung besaput sarang laba-laba untuk melanjutkan belajar di luar negeri tentunya tidak bakal bisa aku dapatkan selama aku ngendon di Tanah Jawa. Kupang adalah kesempatanku belajar segenap arti kemandirian. Dorongan dari Bapak yang terdengar bangga ketika aku punya kesempatan untuk melihat bagian timur Indonesia seharusnya langsung melecut semangatku kuat-kuat.

Kembali kuhela nafas panjang. Wejangan dari Bapak kesimpan menjadi inti titik api. Pelan-pelan kuatur hatiku menjadi sekam kering. Agar kelak, api kecil itu akan menjadi api yang menyala berkobar-kobar.


Share

Tuesday, December 22, 2009

Paint it Black

Untuk hari ini, blog ini akan berwarna hitam.


Share

Thursday, December 17, 2009

Petualangan Baru di Pulau Timor

Hari ini hari pertama kali kerja setelah menginjakkan kaki di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Banyak masalah dan pekerjaan yg pending dan harus segera dikerjakan. Semoga tetap sabar, tabah, semangat, dan senantiasa dilindungi oleh-Nya.

Amien.


Share

Saturday, December 05, 2009

Good Morning Sunshine, the Earth Says “Hello!”

Bangun pagi-pagi karena ada telpon dari Bapak – Ibu yang nanyain kenapa semingguan ini gw gak telpon ke rumah. Sudahkah seminggu? Aduh, sepertinya memang sudah seminggu sejak terakhir gw telpon rumah. Lebih tepat kalau kala itu adalah sebelum gw mau take off dari Semarang. Ternyata sehabis itu gw gak pernah telpon kalau udah landing sampe sekarang ya, Mah? Huhuhu, iya deh, Mamahku yang paling cantik seduniaaaaa. Lain kali anakmu yang “mbeling” ini akan lebih rajin nelpon ke rumah (brapa kali udah janji kek gini ya? :P).

Koneksi telepon diputus. Kesepian itu kembali menggenangi hati.

Heeeh, lupakanlah masalah rutinitas sejenak. Hari ini gw dan Si Kecil mau jalan ke Ambasador. Mau liat barang2 yang sekiranya isa diangkut. Si Kecil kepengin tas warna hitam agar gampang matching sama koleksi wardrobe-nya dan gw kepengin CD dorama Jepang atau anime (udah kekurangan stok) plus barang2 elektronik yang tampak menggiurkan. Yang ada di kepala sih mau beli external hardisk yang 300 GB :P huahahaha, buat bakal nyimpen apaan ya? Padahal di kos udah ada yang 250 GB. Kalau dituruti, kemauan orang itu emang ga ada habisnya.

Tadi malam memang malam yang melelahkan buat gw dan Si Kecil. Gak cuma emang lelah menumpuk selama satu minggu, tetapi mungkin juga ditambah dengan kekhawatiran2 tentang masa yang akan datang. Malam yang kami lewatkan di beranda depan kosannya mengingatkan kembali tentang point of no return dan deadline yang telah kami tentukan setelah sepakat untuk melangkah lebih jauh. Yang mungkin akan menjadi ujian terakhir untuk memenuhi target tersebut adalah jarak sejauh 18° Bujur Timur yang memisahkan kami. Janji kami pun setidaknya harus melewati dua zona waktu Indonesia hanya untuk bertemu. Gw harus menegakkan layar melawan tiupan Angin Barat yang mengembusku sampai ke ujung tenggara Nusantara ini hanya untuk merasakan hangat dekap kasihnya.

Purnama ketujuh dan angka 101010 mendadak menjadi sangat penting untuk kami. Saat-saat seperti inilah jabat erat dan doa para sahabat merupakan hal yang kami perlukan.

Untuk Pelangi Kecil yang menanti Matahari Timur, sebuah lagu didendangkan untuk menemanimu. Lagu yang sama yang dinyanyikan seseorang di pantai pulau tenggara beratap langit gemintang. Semoga cinta kita dapat bersanding untuk menikmati sepotong sinar mentari dan secangkir teh di beranda sebuah gubuk yang kita sebut rumah.

Empty-armed and half a soul to go

And all I wanted was you here next to me
A little sunshine and sympathy

Now everybody knows
That I've been hanging down so low
'Cause now I'm feeling up
Soon I'll be feeling out so cold
Wondering, will you call
And now I'm feeling high
Soon I'll be feeling left for dead
Sometimes someone saying yes
Changes what you'll bet

And all I wanted was just to hold you close
A little sunshine just to butter my toast
And your love next to mine

I had to let you know
That we were meant to be just right
Heaven sent, not sympathized
By everybody's lie
And now I'm feeling high
Now I'm feeling left so dead
Kicking up the dust in bed
Wondering, I guess

Sunshine, sunshine, sunshine
And some tea

And your love, your love
Your love next to mine

I had to let you know
I had to let you go so I
Could see my lie fade from your eyes
And to my surprise

That's what I wanted, it's all I wanted
It's what I wanted, me and you

Sunshine, sunshine, sunshine
And some tea

That's all I wanted, it's all I wanted
That's all I wanted, it's all I wanted


Lirik "El Sol" oleh Zwan,
Diambil dari
www.azlyrics.com.

Share

Wednesday, December 02, 2009

Me & My Big Mouth

Melati and I found our self chatting in the corner of the table when Mr Manager took the whole employees for a birthday treat. It was not a proper place to talk, but I was so disturbed by the situation at the office. I have got to talk to human being or otherwise I could explode.

Matahari : ….in that case, I think that’s not a proper way to reassign someone to other region.
Melati : Yess, I agree, Mas.

Both of us had our silence. Rethinking about what a b#tch life can be when suddenly someone said…

Mawar : Who’s going to be reassigned?

Mawar who was sitting next to Melati eavesdropped us.

Matahari : Umm, apparently I was not talking to you, Mbak. So, it means “Sorry, it is none of your business.”
Mawar : Woooaaaaaah, you are so cruel, Mas.
Matahari : Well, when I’m not talking to you doesn’t mean that I am cruel, does it?

The moral of the story is, stay focus with your meal. It’s a finger licking “Medan Baru” steamed fish head, for God sake!!


Share on Facebook

Sunday, November 22, 2009

What’s in a Name?

I love Pizza

Tonight, Kecil and I decided to go to dine at EX. We chose Pizza Hut over the others because the restaurant is near the center stage so we can still hear the live performance from “we never heard before” bands. When we enter the hut, it was blues jam by a trio (two or them expartriats, we presumed) which was playing 15 or (30 minutes) non stop blues.

One of the hut’s waitress greeted us and then lead us where to sit.

“Here you are, sir. Have a menu. If you want to order, please kindly contact me, Rina” said the waitress.

Kecil wanted a lasagna and I wanted a taste of beef spaghetti. In a flick of a hand, I call for an assistance. A waiter approached.

“Ready to order, Sir?” said the waiter.

“We would like to have lasagna, beef spaghetti, chicken wing, ice lemon tea, and mocca float, please”.

“Perfect choice, Sir. Please wait for 14 minutes to complete your order. If you have anything else to ask, please contact me, Panji.” said Panji the Waiter showing his name tag.

A little chit and a bunch of chat, Kecil dan I built that evening until all of our order served. Another waiter showed up in the middle of dinner to place extra napkin on our table.

“Here are extra napkins, Sir. Are all of your orders served, Sir?” said the waiter.

“Hhmmm, yeah (munch munch munch).” I can’t talk much when my mouth is full :D

“Well then, if you want to order ice cream for desert, please do contact me, Yan.” then he left.

I looked at Kecil and said, “Ay, we have been here for not more than half an hour, yet we already have to memorize three of the employees. I guess when we leave the restaurant in an hour, we will know all of the employees and their managements.”


Share on Facebook

Wednesday, November 18, 2009

Hidupku Menyedihkan (??)


Terpapar Komputer


Sedikit ilustrasi kehidupan gw setiap hari:

1. Pukul 05.00 : Bangun pagi,

2. Pukul 05:30 : Masih menggeliat di kasur,

3. Pukul 06:00 : Mandi pagi,

4. Pukul 06:30 : Berangkat ke kantor,

5. Pukul 07:00 : Mulai bekerja,

6. Pukul 11:30 : Istirahat,

7. Pukul 12.30 : Mulai bekerja,

8. Pukul 15:30 : Jam pulang tetapi masih bekerja,

9. Pukul 18:00 : Biasanya baru bisa pulang,

10. Pukul 18:30 : Nyampe kosan,

11. Pukul 19:00 : Cari makan + ngapel,

12. Pukul 22:00 : Balik ke kosan + lain-lain,

13. Pukul 24:00 : Baru bisa tidur.

Mari kita lihat, aktifitas sehari-hari yang berarti harus berinteraksi dengan komputer adalah nomor 5,7,8, dan 12. Jika gak ngapel seperti hari ini, maka nomor 10 dan 11 harus terpaksa dimasukkan ke dalam kelompok kegiatan tersebut. Kalau dihitung-hitung dalam sehari, 9.5 – 13 jam gw terpapar radiasi komputer.

Dengan kenyataan ini, keknya gw harus ikut program terapi penyembuhan kecanduan komputer dan internet. Ada referensi bagus yang bisa dikontak?


Share on Facebook

Tuesday, November 10, 2009

Eyes On Me

Tak sengaja kursor ini memasuki folder yang lama tak pernah terbuka. Kapsul waktu dari tahun 1998 ini seolah2 membuka kembali lembaran2 kenangan pada masa2 pertama kali kuliah. File2 karya tulis, tugas2 konsep Studio Perancangan, gambar2 kerja berekstensi DWG, orasi2 membara, musik2 dari zaman yang berbeda, dan tentu saja foto2 lama. Lucunya, saat ini musik2 itu tampak lebih menarik memento yang lain.

Dengan segera, mata ini tertuju pada Eyes On Me yang dibawakan oleh Faye Wong sebagai musik latar game yang beken di tahun 1998, Final Fantasy VIII. Lucunya, walaupun ngefans banget sama cerita yang mengusung tokoh utama Rinoa Heartilly dan Squall Leonhart ini, gw gak pernah maenin game-nya sampe tamat. Motion sick. Hehehe, blom lima menit maen gw udah puyeng duluan liat layar. Maklumlah, lemah perut :P

Suara Faye Wong yang empuk bikin lagu Eyes On Me langsung terngiang2 dan terpahat dalam ingatan. Sepertinya jika mendengarkan lagu ini sambil memejamkan mata, perasaan haru dan bahagia menyusup dalam hati. Hehehe, berlebihan.

Mari, silakan bernyanyi.


Whenever sang my song
On the stage, on my own
Whenever said my words
Wishing they would be heard.
I saw you smiling at me
Was it real or just my fantasy
You'd always be there in the corner
Of this tiny little bar

My last night here for you
Same old songs, just once more
My last night here with you?
Maybe yes, maybe no.
I kind of liked it your way
How you shyly placed your eyes on me
Oh did you ever know?
That I have mine on you

Darling, so there you are
With that look on your face
As if you're never hurt
As if you're never down.
Shall I be the one for you
Who pinches you softly but sure
If frown is shown then
I will know that you are no dreamer

So let me come to you
Close as I wanna be
Close enough for me
To feel your heart beating fast.
And stay there as I whisper
How I loved your peaceful eyes on me
Did you ever know
That I have mine on you

Darling, so share with me
Your love if you have enough
Your tears if you're holding back
Or pain if that's what it is
How can I let you know
I'm more than the dress and the voice
Just reach me out then
You would know that you're not dreaming

Lirik diambil dari
www.metrolyrics.com


Share on Facebook

Sunday, November 01, 2009

P atau V?

Nopember???
Selamat ganti bulan.

Tetapi ada yang sedikit mengusik. Liat di pojok kanan monitor kok ada yang ngganjel ya? setelah di-cek, ternyata nih OS bilang kalau hari ini adalah tanggal 1 Nopember 2009. Nopember, dengan “P”.

Hari gini masih banyak yang nulis November dengan Nopember atau
Februari dengan Pebruari di berbagai literatur, surat-menyurat birokrat, karya ilmiah,dan tulisan resmi lainnya. Kalau memang cinta Indonesia, harusnya malu buat pake bahasa yang masih “pating njekithut”. Padahal baru beberapa hari dari hari Sumpah Pemuda yang mengakui Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Menurut
Pusat Bahasa Diknas, November (No·vem·ber /NovĂ©mber/ n) adalah nama bulan ke-11 dl tahun Masehi (30 hari). Jadi yang diakui oleh Pusat Bahasa dan dibakukan adalah “November” dengan “V”.

Blog ini memang gak ditulis dengan gaya bahasa baku karena merupakan terjemahan luwes dari kepala agar gak kaku kek karya ilmiah. Tetapi sebisa mungkin, (paling tidak) hal-hal baku seperti nama bulan, pemakaian titik–koma, ataupun pemakaian awalan–akhiran akan mengikuti gaya penulisan baku yang ditetapkan.

Jadi, bebas itu bertanggung jawab, Kawan. Bebaslah berkreasi, tetapi pegang dulu pokok intinya.

Ngomong2, tadi malem gw Halloween-an dengan menikmati sajian Google Doodle menyambut Halloween 2009. Lucu banget idenya. Tampilan awal adalah G-O-O-G-L yang putih transparan dan kehantu-hantuan serta huruf E yang diganti permen Jack-o-Lantern.

Click or Treat 1

Kalau di klik kedua, tampilan berubah dengan susunan permen menggantikan huruf2 Google.

Click or Treat 2

Klik ketiga, lebih banyak permen (Bapaknya si Willy Wonka bakal ngamuk2).


Click or Treat 3

Klik keempat akan memperlihatkan sisa bungkus permen yang udah dibuka. Wondering sampah2 ini mau di-recycle ke mana ya? Hehehe….


Click or Treat 4

Saturday, October 31, 2009

Kramat Raya 81 Tahun Lalu

Kongres Pemuda II

“Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia,
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia,
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Tiga baris kalimat hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi
Indonesia (Kongres Pemuda II) menggema di Kramat Raya 81 tahun yang lalu. Pada penghujung acara, Pemuda Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu tanpa diiringi syair dengan biolanya yang kelak kemudian hari lagu ini akan dikenal sebagai lagu kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga semangat yang dipancarkan dari 81 tahun lampau masih dapat merasuk kepada para pemuda saat ini. Di tengah segala kemudahan dan fasilitas yang memabukkan dan membelenggu kemauan keras untuk maju.

Fun Fact:
1. Tempat dibacakannya Sumpah Pemuda adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong di Jalan Kramat Raya 106,
2. Diprakarsai oleh
AR Baswedan, pemuda keturunan Arab di Indonesia pada tanggal 4-5 Oktober 1934 mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab,
3. Selama 2 tahun 2 bulan ngekos di Kwitang, gw belom pernah sekalipun masuk ke Museum Sumpah Pemuda.


Sumber : disarikan dan foto diambil dari Wikipedia.

Share on Facebook

Sunday, October 25, 2009

I Miss Bapak

Bapak and His Old Desk

Stumbled upon this picture I took December last year. This is pretty much what Bapak does in these recent years. Reading and writing on that old desk of his. I hope I can go to Semarang next week to get an energy recharge.


Share on Facebook

Saturday, October 24, 2009

Para Penyerobot Antrian: Komplain atau Tidak?

Poffertjes

Malam itu gw berada di dalam antrian untuk ngambil es krim poffertjes di pesta kawinan anak orang kantor. Menghadapi masalah yang sama di manapun dalam keadan seperti ini, para penyerobot antrian.

Tau2 ada segerombolan anak2 berseragam pager ayu seumuran ponakan gw yang kelas 6 SD atau SMP yang jejer di sebelah gw dan merangsek terus ke depan. Gw berusaha ngingetin dengan ngomong kalau mau antri sebaiknya dari belakang. Tetapi Si Pager Ayu yang paling depan melengos dengan tampang jutek bilang bahwa apa yang mereka lakukan adalah mengantri juga.

Pendekatan yang gw pake dalam sistem antrian adalah siapa yang datang duluan dapat pelayanan duluan. Gak liat lo orang dewasa maupun junior yang sedang menapak dewasa. Kalau orang dewasa yang melakukan serobotan, gw nilai orang tersebut gagal dalam mengerti sistem dan tatanan sosial. Dalam hal ini, gw curiga bahwa Para Penyerobot Antrian Poffertjes (PPAP) tersebut merupakan buah dari orang2 yang gagal dalam mengerti sistem dan tatanan sosial tersebut.

Buah? Yup, karena dalam belajar, meniru adalah bentuk yang paling gampang memberikan pengaruh. Kalau anak sulit tidur karena anak kepengen nonton sinetron, mungkin ada baiknya orang tua matiin tivi yang isinya sinetron buat ngelonin anak2. Kalau anak2 sulit belajar karena pengen nonton film kartun di tivi, mungkin ada baiknya orang tua ikutan baca atau (kalau mungkin) ikutan belajar alih-alih nonton infotainment. Kalau anak suka nyampah di mana2, mungkin sebaiknya orang2 dewasa di sekitarnya mulai menyimpan semua sampah di tempatnya. Dan seterusnya dan seterusnya.

Intinya adalah, PPAP tersebut mengamati bahwa menyerobot antrian adalah hal yang lumrah karena orang2 dewasa di sekitar mereka melakukan hal tersebut dan baik2 saja dengan sistem seperti itu. Tidak ada kontrol yang membuat mereka berpikir bahwa keseimbangan antara hak dan kewajiban merupakan cara menemukan keselarasan dalam kehidupan sosial.

Yang lebih trenyuh adalah ketika kantor gw bikin acara buka puasa bersama anak2 yatim Ramadhan silam. Seorang penyerobot antrian dewasa entah dari mana datang sok2an akrab dengan barisan tepat di depan gubuk nasi campur. Setelah itu dengan tangkas dia ngambil piring dan langsung ambil nasi campur dengan meninggalkan gondok di leher pengantri lainnya. Keberatan terbesar gw bukanlah karena gw dilangkahin, tetapi di antrian belakang gw banyak anak2 dari panti asuhan yang sedang tertib mengantri. Tidak hanya gagal dalam mengerti sistem dan tatanan sosial, tetapi juga dzalim terhadap anak2 yatim. Acara tersebut ada karena anak2 tersebut, for God sake!

Budaya tertib antri sepertinya masih jauh dari ideal. Tetapi mungkin jika dimulai dari diri sendiri dan kemudian ditularkan kepada orang lain, budaya beradab tersebut akan dapat menjadi jati diri manusia Indonesia.


foto poffertjes diambil dari sini


Share on Facebook

Thursday, October 15, 2009

Horehore 4 Tahun Loenpia: Ngeri Thok, Ndaaaaa!!*

Selamat hari jadi ke-4, Loenpia! Semoga tambah “ngeri thok, ndaaaaa!!”

Loenpia adalah paguyuban (kata halus dari sindikat) para blogger yang mempunyai ikatan batin dengan Semarang. Sebanyak 1.034 anggotanya tergabung dan berinteraksi di dalam milis Loenpia. Sebagian mungkin memang cuma aktif di milis, jadi blogger abal-abal, atopun sangat dimungkinkan adalah aktivis blogger yang militan (kata lain seleblog), atopun spam.

Belumlah syah dan benar-benar menjadi anggota Loenpia sebelum mendaftarkan diri dan berkenalan di milis plus berperan serta dalam kopi darat (kopdar) yang bisa dijadwalkan sewaktu-waktu. Keanggotaan gw sendiri terdaftar pada 7 Desember 2006 walaupun kenyataannya baru ikutan kopdar tahun 2009.

Yang bikin gw salut adalah semangat dari teman2 Loenpia yang menyebut diri mereka Jeruk untuk yang laki-laki dan Apel untuk yang perempuan. Dari mereka tercetus usaha2 untuk ikut menyumbang upaya mencerdaskan bangsa. Bisa dilihat dari upaya memelekkan masyarakat pada internet dengan pelatihan blog maupun program FORCE yang pada intinya mencari dana untuk membantu anak2 yang mempunyai potensi akademik tinggi tetapi kekurangan dana untuk belajar.

Program FORCE inilah yang sedianya akan diusung untuk menjadi tema utama Leonpia pada Pesta Blogger 2009. Dukung kami menemukan dan mengasah mutiara2 terpendam dari Semarang dengan ikut serta dalam Program FORCE. Besar atau kecilnya dukungan tidak masalah, yang terpenting adalah niat, kemauan keras, dan usaha untuk mewujudkannya.

Salut untuk kepedulian anak2 Loenpia. Ditunggu program2 selanjutnya yang pastinya akan tambah “ngeri thok, ndaaaaaa!!”

* ngeri thok, ndaaaaa :
1. tag line ulang tahun ke-4 Loenpia,
2. bahasa gaul Semarangan, biasanya diucapkan untuk mengagumi sesuatu yang sangat luar biasa.


NB: pada saat ini sedang berlangsung pesta tirakatan dengan cara posting serempak memeringati hari jadi ke-4 Loenpia. Sampai detik ini, inilah deretan temen2 yg sudah posting. Silakan menikmati, sumangga:

Thursday, October 08, 2009

wolak-walike jaman

Sambil menanti kerjaan kelar, iseng2 buka warta internet. Cukup bikin shock untuk sore yg tenang ini.


Artis Bunuh Mahasiswi

Kamis, 8 Oktober 2009 | 08:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com— Setelah dua puluh hari menjadi misteri, kasus pembunuhan Novita Purnamasari (19), mahasiswi Universitas Trisakti yang ditemukan tewas di apartemennya malam takbiran lalu, terungkap. Dia dihabisi oleh seorang pemain sinetron karena uang Rp 200.000.

selengkapnya baca di sini

OMG, betapa murahnya nyawa manusia itu. Air susu dibalas dengan air tuba, sudah dihutangi malah ngilangin nyawa si kreditur. Jah, wolak-walike jaman. Ada yg tau profilnya orang "sakit" ini?

Share on Facebook

Saturday, October 03, 2009

Hari Batik Sedunia

Parang Barong

Tanggal 2 Oktober 2009 adalah hari yang spesial buat Bangsa Indonesia. Karena pada saat itulah Lembaga PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) bakal menetapkan batik sebagai warisan budaya dari Indonesia (the world cultural heritage of humanity from Indonesia). Hal yang perlu digaris bawahi adalah kata “dari Indonesia” karena hal ini merupakan “kemenangan” atas salah satu isu sensitif yang merebak terutama setelah adanya klaim dari negara tetangga tentang asal usul dan hak kekayaan intelektual atas batik.

Gerakan Memakai Batik tanggal 2 Oktober 2009 sudah digulirkan dari jauh-jauh hari. Getok tular dari mulut ke mulut, dari mulut ke mulut, dari e-mail ke e-mail, dan tentu saja dari milis ke milis. Akibatnya “Batik Craze” merajalela di Indonesia. Batik yang pada umumnya digunakan untuk pakaian sekarang dimodifikasi dengan segenap kreatifitas yang dimiliki seperti niatan beberapa blogger untuk mengganti template blog mereka menjadi bermotif batik dan para biker yang mengecat helm mereka sehingga bermotifkan batik.

Para anggota Loenpia.net pun sepertinya gak mau ketinggalan buat memperingati hari yang bersejarah ini dengan mengumpulkan foto segenap anggotanya di seluruh kolong langit yang memakai batik pada tanggal 2 Oktober 2009. Hasilnya silakan diliat sendiri.

Loenpia Mendadak Batik

Gw sendiri cuma pilih buat pake batik (sebenernya sih tiap Jumat juga pake batik :P) dan ngubah banner jadi bermotifkan batik. Motif yang gw pilih untuk nampang di banner adalah motif Parang Barong. Pada jaman feodal Jawa, motif Parang Barong ini hanya boleh dipakai oleh Bendara atau Anak Turun Bangsawan lainnya. Tetapi karena telah terjadi pergeseran tata nilai, maka norma yang mengatur bahwa motif2 yang tadinya menunjukkan kelas status sosial si pemakai tersebut sekarang menjadi agak mengendur. Kecuali pada kelompok masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi, hal ini tentu saja masih menjadi tabu. Kalau gak percaya silakan tanya Abdi Dalem di Jogja sana.

Batik adalah warisan budaya dari Indonesia yang diakui UNESCO setelah wayang (2003) dan keris (2005). Sedangkan warisan budaya dari Indonesia selanjutnnya yang sedang diusulkan adalah angklung.

sumber: foto "Loenpia Mendadak Batik" diambil dari koleksi foto Saudara Pepeng Escoret

Wednesday, September 30, 2009

Take Me Down

Terbangun pukul 5 pagi dan terantuk dengan lagu ini. Sepertinya memang Mellon Collie & Infinite Sadness sangatlah pas membingkai semua perasaan gw.

Take Me Down
(by the Smashing Pumpkins)


take me down, to the underground
won't you take me down, to the underground
why oh why, there is no light
and if i can't sleep, can you hold my life
and all i see is you


take my hand, i lost where i began
in my heart i know all of my faults
will you help me understand


and i believe in you
you're the other half of me
soothe and heal...
when you sleep, when you dream,
i'll be there if you need me, whenever i hear you sing...


there is a sun, it'll come, the sun, i hear them call me down
i held you once, a love that once, and life had just begun
and you're all i see...


and trumpets blew, and angels flew on the other side
and you're all i see, and you're all i'll need
there's a love that god puts in your heart

Wednesday, September 23, 2009

Ayam yang Bagaimana?

Sehari sebelum lebaran, Ibu minta anter ke Pasar Kobong untuk beli ayam sebagai bahan utama bikin opor (nyam nyam – sebelum makan enak emang kudu ada pengorbanan :P) . Favorit Ibu emang pasar yang berjarak tujuh km dari rumah tersebut karena mengingat banyaknya stok ayam kampung yang sehat dan harga yang ekonomis. Ayam kampung selalu dipilih Ibu karena rasanya yang lebih gurih dan dagingnya yang bebas zat pemercepat pertumbuhan.

Tiga ekor ayam kampung berhasil dipilih dan dibeli setelah dilakukan nyang-nyangan (tawar menawar) ala ibu-ibu rumah tangga yang alot dan ayam-ayam tersebut langsung menemui ajalnya tak lama berselang dari akad jual-beli tersebut terjadi, disembelih di tempat jagal ayam tak jauh dari si penjual ayam. Tiga ayam dijual seharga 130k dan jasa sembelih+potong sebesar 4k per ekor.

Dalam perjalanan pulang, ada satu pertanyaan yang terlintas di kepala:

Law : Mamah, emangnya kalau milih ayam itu apanya yang diliat?
Ibu : Ya liat ayamnya, gemuk apa kurus.
Law : Ooo…
Ibu : Terus liat duburnya, teleknya berlendir apa enggak. Jadi tau ayamnya sakit apa enggak.
Ibu : Liat juga warna teleknya putih apa enggak. Kalau warna putih mungkin makannya agak gak sehat.
Ibu : Perhatikan juga lebar duburnya. Kalau duburnya lebar, berarti ayamnya sudah tua. Nah, pilih yang agak muda biar dagingnya empuk.
Law : …


Sisa perjalanan itu gw isi dengan usaha keras melenyapkan gambaran jelas dubur ayam dalam pikiran ini. It’s good tips though. Hasilnya adalah sepanci besar opor ayam yang sangat sedap lezat bin gurih untuk melengkapi hari yang fitri ini.

Nikmaaaaaaaaat…

Monday, September 21, 2009

Kisah Tiga Ekor Ayam

Tahun ini adalah giliran keluarga gw yang ketampuhan nyelenggarain arisan keluarga. Arisan keluarga ini biasanya digelar setelah halal bihalal di hari kedua Idul Fitri. Jadinya Ibu membeli ayam kampung agak banyak menjelang lebaran. Untuk menjaga kesegarannya, Ibu sengaja beli ayam kampung idup untuk disembelih mendekati hari H halal bihalal. Agak kaget juga gw ngeliat tiga ekor ayam ngejogrok pasrah di pojokan dapur. Ayam2 tersebut gw namain Breakfast, Lunch, dan Dinner.

Yang kebayang selanjutnya adalah gimana Dedekecil isa ngelewatin dapur buat ke kamar mandi mengingat trauma masa kecilnya yang bikin dia sangat anti dengan ayam, kecuali dalam keadaan tergoreng atau jadi opor.

Pagi hari tadi, sebelum mata ini bener2 melek, Bapak nyuruh gw ke teras belakang. Tugas yang menanti adalah menyembelih Breakfast, Lunch, dan Dinner. Boohoohooo, selamat jalan Breakfast, Lunch, dan Dinner, gw yakin kalian pasti akan jadi opor ayam yang lezat di tangan Ibu :P

Sunday, September 20, 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

Taqobbalallahu minnaa waminkum shiyamanaa washiyamakum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H, mohon maaf lahir batin. Semoga kita termasuk di antara para pemenang.

NB: sedapnya liburan di rumah *mudik mode : ON!*

Wednesday, September 16, 2009

Just Because

ceritanya lagi YM-an sambil ngabuburit.

temen YM-an: juaanncook!!
ulat_busuk: eh lo puasa batal loooo
ulat_busuk: sana minta minum sama temen sebelah loooo
temen YM-an: apaan?
ulat_busuk: minta es teler aja
temen YM-an: batal apanya
ulat_busuk: lo kagak puasa ya?
ulat_busuk: temen YM-an: juaanncook
temen YM-an: juancook apaan?
temen YM-an: gw kan orang sunda


/sweat. keringet segede jagung kluar di dahi gw.

Saturday, September 12, 2009

Lite Facebook, Kenapa Tidak?

Info tentang “lite facebook” (http://lite.facebook.com) pertama kali gw dapet lewat wall dari seorang temen. Setelah gw coba, ternyata memang lebih cepet. Bahkan memakai koneksi yang tiarap (baca : 6kbps – kbps singkatan dari kembangkempis) kek punya gw ini.

Sekilas selayang pandang, Facebook dan Lite Facebook tampak serupa. Tetapi setelah dicermati, fitur2 yang ada di Lite Facebook tampak tidak selengkap Facebook. Mungkin jika mengingat mahzab “Size does Matter”, ini salah satu resep kenapa Lite Facebook dapat diakses lebih cepat daripada Facebook.

Sebagai contohnya, home Lite Facebook hanya mempunyai 2 kolom saja. Link2 yang saling tumpang tindih (redundant) dihilangkan; home-akses logo, profile-akses nama dll. Alih2 menampilkan request, suggestion, sponsored, highlight, events, dan connect di right side bar, Lite Facebook hanya menampilkan people you may know dan create an add.

Begitu pula pada menu profile, Lite Facebook memangkas banyak sekali fitur2nya. Tidak akan ditemui fitur preview di left side bar seperti friends, I love friends, photos, notes, ataupun links. Fitur standar seperti wall, info, friends, dan photos & video hanya disajikan berupa button yang menggiring pengunjung ke halaman yang dimaksud.

Satu lagi perbedaannya, gw gak menemukan application di Lite Facebook. Jadi sesiapapun yang keranjingan maen Farmville, Mafia Wars, Restaurant City, dll sepertinya harus menahan diri dari godaan game-game yang mengasyikkan tersebut.

Dari beberapa kali percobaan, Lite Facebook dapat memangkas ½ dari waktu akses daripada di situs Facebook itu sendiri. Yummy! Mungkin memang Lite Facebook yang juga bisa diakses dari mobile aplication di ponsel ini hadir untuk memuaskan hasrat dasar dari para Jamaah Fesbukiyah; nulis di wall, comment, upload foto, dan menjalin hubungan dengan para kerabat.

Wednesday, September 09, 2009

Teguhkanlah Iman Teman Saya, Ya Allah

Beberapa jam setelah digoncang gempa, saat menenangkan diri dari kejadian yang mengingatkan pada gempa Jogja tiga tahun lalu, seorang teman menyapa di YM. Tampaknya inisiatifnya berawal dari ngebaca postingan blog gw.

temen YM-an: lo bodoh
temen YM-an: kok samber hape?
temen YM-an: coba samber laptop orang
temen YM-an: pas ada gempa
temen YM-an: atau hape orang
temen YM-an: mentang2 punya iphone
ulat_busuk: hueahuaheuaheauehau
ulat_busuk: kesempatan dalam kesempitan


Saat itu juga gw menengadahkan tangan dan berdoa untuk keselamatannya, dunia dan akhirat. Amieen…

Tuesday, September 08, 2009

Buka Puasa Ars’98 Ramadhan Ini

Jadi begitulah, sesuai dengan hasil polling yang diadakan milis yang dihuni oleh alumni Arsitektur Undip ‘98, kemaren tanggal 5 September 2009 di Senayan City berkumpullah sebagian kawan2 untuk berbuka puasa bersama; Doni+Tita+Kinu, Adrian+DW+Nuna, Ajik+Tera, Rojak, Pendil, Nina+Suami, n Gw+Thikoy.

Karena semuanya dateng kesorean (gw sendiri baru masuk Sency jam 17.30 setelah baku macet di jalan dari Mall Taman Anggrek), walhasil gak dapet tempat di Urban Kitchen. Buka puasa terpaksa dilakukan di Food Hall dulu sembari nunggu sela di Urban Kitchen. Agar gak diusir karena cuma numpang nunggu doang, akhirnya kami memesan 1 porsi spaghetti, beberapa botol air mineral, beberapa macam kemasan buah segar, dan beberapa kaleng Pringles. Kira2 1,5 jam setelah buka dan sholat Magrib secara bergantian, barulah kami isa makan secara layak di Urban Kitchen.

Yang paling menggelikan adalah diantara kami semua yang hadir di forum tersebut, yg memilih Senayan City sebagai tempat berbuka puasa cuma Pendil doang. Huhuhuhu, jadi masih misteri siapa yg milih Sency tapi gak dateng ke sana buat ngeramein acara tersebut. Ada dugaan kalau sebenernya yang memilih Sency adalah kawan2 yang berdomisili di Semarang.

Ini mungkin yang dinamakan “mangan gak mangan sing penting kumpul” atau lebih tepatnya “susah cari tempat mangan gak susah cari tempat mangan sing penting kumpul”.

Wednesday, September 02, 2009

High Rise Building Earthquake Experience

Jam di kolom depan gw hampir menunjukkan jam 15.00. Gw tak tahan buat ngelirik-lirik jam tersebut karena gw kira cukup sudah menahan penatnya beban emosional. Dalam hati gw istighfar, gak mau ibadah puasa hanya jadi sia2 gara emosi sesaat. Di saat sulit membedakan mana rasa lapar dan mana rasa mual karena gejolak psikologis, kaki gw menangkap getaran2 yang ganjil. Secepat itu gw nengok ke arah galon air di sebelah meja. Air dalam galon ternyata bergolak hebat. Secara naluriah gw sadar bahwa gempa sedang menggoyang gedung ini.

Sudah beberapa detik berlangsung, tetapi gempa gak menunjukkan tanda2 berhenti bahkan cenderung semakin kuat. Orang2 di lantai 10 gedung ini juga hanya termangu dan berata satu sama lain bahwa gempa sedang terjadi. Tidak ada yang mengambil inisiatif bahwa ini adalah keadaan darurat.

“Semuanya bergerak ke arah tangga darurat! Ke arah tangga darurat!” gw refleks teriak agar temen2 sekantor untuk evakuasi.


Evakuasi Penghuni Gedung

Gw sambar ponsel di meja dan mulai bergerak turun bersama rombongan dari lantai lain yang ternyata juga melakukan evakuasi lewat tangga darurat. Di dalam tangga darurat pun masih terasa gempa kuat menggoyang gedung ini. Beberapa kali gw ngerasa kehilangan keseimbangan dan kemudian mencoba turun dengan menyender pada dinding agar pijakan tidak goyah. Berusaha menguatkan diri, gw ngomong berulang2 pada diri gw sendiri kalau tangga darurat dibuat dalam core bangunan ini yang merupakan konstruksi paling kuat diantara bagian lain dari gedung ini. Jika ada reruntuhan dari atas pun akan tertahan jaring2 yang dipasang di sisi tangga. Ah, gw gak berpikir untuk mati hari ini.

Semua orang memang berusaha untuk mencari selamat, tetapi mendorong dan menyikut orang dalam evakuasi adalah salah satu tindakan yang membahayakan buat diri orang itu sendiri dan juga bagi orang lain. Ada aja orang yang mau selamat sendiri hingga gak peduli sama orang lain. Seketika itu juga gw inget QS Al Zalzallah. Astaghfirullah, ini hanya gempa kecil, belum kiamat. Betapa egoisnya manusia dalam keadaan seperti ini.

Sesampainya di luar gedung, gw nyariin temen2 selantai dan berusaha untuk nelpon ke rumah ngabarin kalau gw gak apa-apa. Alhamdulillah, adek gw yang sudah di Jakarta beberapa minggu ini juga tak kurang suatu apapun.

Setelah setengah jam menunggu, seorang petugas Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (LK3) memberi pengumuman kalau keadaan sudah aman. Pekerja yang meninggalkan barang2nya di lantai atas boleh naik menggunakan elevator tetapi jika turun hendaknya tetap menggunakan tangga darurat. Secepat itu gw berusaha naik dan mengemasi tas dan tetek bengeknya di meja kerja.

Alhamdulillah, gw, keluarga, dan teman2 masih dalam lindungan Allah. Ikut simpati pada korban2 yang jatuh pada peristiwa ini. Sedikit banyak peristiwa ini bikin gw teringat gempa Jogja tahun 2006 lalu. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah hal’adziem….

Berikut ini adalah beberapa tips yang mungkin berguna pada gempa bumi yang mungkin bermanfaat:
1. Jauhi jendela,
2. Gunakan tangga darurat, jangan pernah gunakan elevator,
3. Jauhi furnitur yang mempunyai beban berat, rak buku, ataupun yang mungkin akan terjatuh,
4. Berlindunglah di bawah furnitur yang kokoh dan tahan furnitur tsb. Jika furnitur bergerak, ikutlah bergerak bersama,
5. Jika tidak bisa berlindung di bawah furnitur, ratakanlah badan ke tembok dan lindungi kepala,
6. Jika ada di ruang terbuka, jauhi bangunan gedung, tiang listrik, dan tumpukan batu bata yang mungkin rubuh,
7. Dalam gedung tinggi, jangan terkejut jika alarm kebakaran atau sprinkler diaktifkan,
8. Jika sedang berkendaraan, berhentilah dan tetap berada dalam kendaraan sampai getaran berhenti. Hindari berhenti dekat pohon, jalur listrik, dan di bawah jembatan layang,
9. Jika di dalam toko, segeralah berlindung. Hindari berhenti pada bagian yang mudah jatuh. Jangan berlari ke arah pintu keluar dan pilih jalur keluar secara teliti.


Sebagai refleksi, gw harus bilang bahwa ternyata antisipasi tindakan2 keselamatan dalam menghadapi gempa bumi belum mendarah daging di negara yang dihimpit oleh Lempeng Eurasia, Lempeng India-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina ini. Sekelumit fakta ini tentunya sudah harus menyadarkan kita bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi besar mengalami gempa.

Sebagai respon terhadap kondisi alam, sebaiknya manusia Indonesia membuat diri mereka sendiri terbuka dalam segala segi informasi tentang apa, mengapa, dan bagaimana menghadapi gempa. Peraturan persyaratan pendirian gedung disesuaikan, SOP untuk daerah bencana dibuat dan kemudian disosialisasikan. Lebih dari itu, menghadapi gempa haruslah menjadi budaya manusia Indonesia. Seperti “orang-orang dulu” di Gayo, Padang, Jawa, Bugis, Lombok, dan serentet suku yang berdiam di Kepulauan Indonesia yang membangun rumah adat tanpa paku serta seperti tradisi “smong” di Pulau Simeuleu yang mengajarkan penduduknya mendaki perbukitan begitu merasakan getaran gempa.

Jadi gak perlu alergi dengan yang namanya kearifan lokal, bukan?

Thursday, August 27, 2009

Alhamdulillah…

Jika salah satu bentuk rejeki yang diberi oleh Allah adalah dalam bentuk makanan, maka hari ini gw berlimpah akan rejeki.

Mas Desky menelpon karena dia sedang cuti di Jakarta. Iseng2 aja gw tagih makan2 karena dia telah berhasil cuti untuk beberapa hari meninggalkan tugas yang teramat sangat sulit untuk mendapatkan izin cuti. Jadi kek semacem syukuran gitu maksudnya :P Sebuah kelakuan iseng-iseng yang akhirnya berbuah 10 loyang pizza di atas meja tengah, yang juga disebut “snack corner”, di akhir jam kerja. Sepertinya hari ini gw gak usah harus bingung dengan apa gw berbuka puasa nanti.

Sesampainya di kos, ternyata Ibu Kos telah menyiapkan satu mangkuk besar penuh dengan es buah untuk buka puasa khusus buat anak-anak kos. Karena terpancing warna segar dan bermacam2 isian yang tampaknya menyegarkan, gw tergoda untuk mengaduk es buah nan eksotis itu. Sekilas tampak timun suri, agar-agar, kolang-kaling, nata de coco, dan taburan telasih. Sangat menggoda iman :D

Segera gw ambil cangkir gw yang berukuran jumbo dan menyendok sedikit demi sedikit air merah bertelasih dan juga segenap isinya. Sedemikian sangat berhati-hati agar jauh dari kesan kemaruk, hehehe. Ibarat kata mendapat durian runtuh, rejeki yang gw dapet menjadi berlipat ketika Ibu Kos bilang “Ambil yang banyak sekalian, jangan malu-malu”.

Ah, alhamdulillah, ya Rabb!

Senja Makassar Pertama

Jam di ponsel masih menunjukkan 17.00 tapi gw tau kalo gw harus cepet2 nyampe ke kamar buat nyimpen tas dan segala macem atribut kantor karena gw gak mau ngelewatin kesempatan langka ini. Kesempatan buat ngeliat matahari turun ke peraduannya untuk pertama kali di pesisir Losari. Dari lantai lima di Aryaduta tempat gw nginep, gw isa ngeliat lembayung senja mulai menghias langit Makassar.

Untuk beberapa alasan, sekarang sebenarnya sudah memasuki pukul 17.30 waktu Indonesia tengah. Gw memang gak punya banyak waktu. Gak pake ganti kostum, gw segera nyamber kamera pocket dan terus berlari2 kecil menuju bibir pantai. Ternyata yang gak ingin ngelewatin momen tersebut bukan cuma gw doang. Penduduk Makassar yang pasti sudah pernah ngeliat peristiwa ribuan kali ini pun masih dibuat terkesima. Keajaiban Losari memang tak bisa dilupakan.


Manusia dan Pantai Losari

Orang-orang yang ramah, penjaja makanan yang setia menanti pembeli, anak-anak kecil yang bebas berlari, bau uap asin lautan, belaian Anging Mamiri yang menempuh misteri ratusan kilometer, dibingkai oleh kesyahduan warna lembayung.

Pemandangan Laut dari Kamar

Setelah puas menikmati suasana senja, gw baru cabut ketika matahari benar2 telah tenggelam di lautan. Menyempatkan diri menyapa tukang pisang penyet yang gak bakal gw temui di tempat lain. Ini lah “pisang epek” asli kebanggaan peradaban Makassar. Pisang raja yang dipanggang di atas api untuk kemudian disiram dengan saus gula aren yang diracik sempurna dengan durian dan parutan kelapa yang legit. Tampaknya malam ini akan menjadi malam petualangan menyelami rasa “pisang epek”.

“Mau beli apa, Ki’?”


Pisang Epek Asli Makassar
originally written on Januari 19th, 2009

Monday, August 24, 2009

Komunikasinya Enggak Bagus

Ternyata variabel waktu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kualitas suatu komunikasi. Pembicaraan ini diambil ketika bulan sudah jenuh menggantung di gelap malam, tepat setelah Jarum Pendek baru saja melepas rindunya dengan Jarum Panjang kekasihnya.

pelangikecil : Mas, “kesempatan” bahasa Inggrisnya apa?
ulat_busuk : Opor ayam.
pelangikecil : Kok opor ayam?
ulat_busuk : Iya, “oportunity”.
pelangikecil : Kok “oportunity”? "Oportunity" kan artinya kesempatan?
ulat_busuk : Lho, kamu itu nanya apa sih?
pelangikecil : “Kesepakatan” bahasa Inggrisnya apa?
ulat_busuk : /swt

Sepertinya memang ada yang sudah terlalu lelah dan harus segera tidur. Selamat tidur, Cantik.

Sunday, August 23, 2009

Ramadhan Telah Tiba

Ya ayyuhal lathiyna aamanu, kutiba alaikumus-siyam, kamaa kutiba alal-lathiyna min qablikun, laalakum tattaquun (Surat Al-Baqarah 2:183).

Dua belas purnama telah lewat sejak Ramadhan terakhir. Artinya selama sebulan penuh ke depan, muslimin di seantero kolong jagad berlomba menegakkan ibadah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh umat2 sebelumnya. Entah itu sebagai tradisi, keyakinan, atau hanya gagah-gagahan saja, toh juga hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui dan berhak menilai.

Menyitir doa malaikat Jibril menjelang Ramadhan yang kemudian diamini oleh Rasullah SAW sebanyak tiga kali : "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: 1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); 2) Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri; 3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya”. Karena itu dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf atas segala tindakan yang kurang berkenan di hati.

Akhirul kalam, selamat beribadah di bulan Ramadhan tahun 1430 H ini. Selamat menginterpretasikan makna ibadah dengan kacamata masing-masing. Semoga doa dan usaha atas semua amal ibadah kita di-ijabah-i oleh Allah SWT.

Sumber : berbagai sumber.

Monday, August 17, 2009

merah putih



Walaupun cuma ada di www.google.co.id, tetapi ngeliat sang dwi warna berkibar di halaman pencarian menyelipkan rasa kebanggaan terhadap bangsa ini. Se-Barat apapun pendidikan yang dijejalkan ke otak ini, gw tetep saja manusia Jawa. Manusia Jawa yang merupakan sebagian dari bangsa besar bernama Indonesia. Gw harap bangsa ini gak bakal jadi sejarah, tetapi tetap terus menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah umat manusia.

MERDEKA!! Merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan rasa takut!

Sunday, August 16, 2009

Still Standing

It’s been a while dari suicide bombing di Ritz Carlton dan JW Marriot Jakarta. Sedikit demi sedikit Kepolisian RI sudah berhasil menguak latar belakang dan para pelaku di balik kejadian tersebut. Tadi malam pas lagi bengong, gw kesandung sama lagunya Bryan Adams yang di-remix sama DJ Sammy, Heaven. Lagu ini di-remix untuk mengenang satu tahun kejadian 9/11.

Gw pikir, setahun ke depan bakal ada anak Indonesia yang bakal bilang seperti apa yang ada di dalam lagu itu. Bahwa dia sangat rindu ayahnya yang menjadi korban, bahwa dia selalu membawa foto ayahnya dalam kotak makan siang bergambar Blues’s Clues, dan mencoba tabah bertahan hidup tanpa hangat peluk ayahnya.

RIP para korban. Pada kenyataannya, kami masih tetap berdiri pada tempat semula. We are not afraid, not to the chicken sh!ts yang hanya berani lempar batu sembunyi tangan. Paling enggak, beranilah hadapi muka kami dengan berkata “Ya, kami yang melakukan itu”.


Dj Sammy - Heaven (911 Remix)

*It's been a year daddy
I really really miss you
Mommy says your safe now
In a beautiful place called heaven*

Oh I'm thinking about our younger years

*We had your favorite dinner tonight*

there was only you and me

*I ate it all up*

We were young and wild and free

*Even though I don't like carrots*

Now nothing can take you away from me

*I learned how to swim this summer*

We've been down that road before

*I can even open my eyes*

But that's over now

*While I'm under water*

You keep me coming back for more

*Can't you see me?*

Baby you're all that I want
When you're lying here in my arms
I'm finding it hard to believe
We're in heaven

*I started kindergarten this year*

Love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven


*I carry a picture of us
In my Blue's Clues lunchbox*

Oh once in your life you find someone

*You are the greatest daddy*

Who will turn your world around
Pick you up when you're feeling down
Now nothing can change what you mean to me

*I can swing on the swing by myself*

There's a lot that I could say
But just hold me now


*Even though I miss you pushing me*

Cause our love will light the way

*Can't you see me?*

Baby you're all that I want
When you're lying here in my arms
I'm finding it hard to believe
We're in heaven


*I miss how you used to tickle me*

And love is all that I need

*Tickle my belly*

And I found it there in your heart

*My belly hurts*

It isn't too hard to see
We're in heaven


*I try not to cry*

I've been waiting for so long

*Mommy says it's okay*

For something to arrive
For love to come along


*I know you don't like it when I cry*

Now our dreams are coming true
Through the good times and the bad


*You never wanted me to be sad*

I'll be standing there by you

*I try Daddy but it hurts*

Baby you're all that I want

*Is it true you're not coming home?*

When you're lying here in my arms

*Maybe someday*

I'm finding it hard to believe
We're in heaven


*I can visit you in heaven, okay?*

And love is all that I need
And I've found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven


*It's time for me to go bed now
I sleep with the light on
Just in case you come home
And kiss me good night
I love you so much
I miss you Daddy*


Sumber lirik :
www.lyrics007.com

Wednesday, July 22, 2009

Mr Brightside

Lagi seneng ndengerin lagunya The Killers yg Mr. Brightside. Ga ada alasan yg jelas sih.

But it's just the price I pay
Destiny is calling me
Open up my eager eyes
'Cause I'm Mr Brightside

I'm coming out of my cage
And I've been doing just fine
Gotta gotta be down
Because I want it all
It started out with a kiss
How did it end up like this
It was only a kiss, it was only a kiss
Now I'm falling asleep
And she's calling a cab
While he's having a smoke
And she's taking a drag
Now they're going to bed
And my stomach is sick
And it's all in my head
But she's touching his-chest
Now, he takes off her dress
Now, letting me go


Cause I just can't look its killing me
And taking control
Jealousy, turning saints into the sea
Swimming through sick lullabies
Choking on your alibis
But it's just the price I pay
Destiny is calling me
Open up my eager eyes
'Cause I'm Mr Brightside


I never...
I never...
I never...
I never...


Lirik diambil dari sini