Saturday, February 28, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (3);

Palembang / 3 – 4 Februari 2009

Hari sudah gelap ketika gw geletakin tas laptop dan tas logistik di atas meja secara asal2an. Gw pengen cepat2 rebahan di kasur karena badan ini terasa letih. Walaupun jarak geografis Medan – Palembang tidak jauh, tetapi gw harus transit di Jakarta untuk mencapai Palembang. Itu berarti total 2,5 jam terbang dan 3 jam terdampar di Bandara SKH untuk menunggu pesawat tujuan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.


Ruang Luar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II

Belum sampai tulang belakang ini lurus benar, dua orang teman perjuangan yang ditempatkan di Palembang, Tito dan Ferry, datang mengetuk pintu kamar. Inilah saatnya melepas penat dengan tarik suara seperti yang telah direncanakan sore tadi.

Mungkin menjadi penyanyi adalah mimpi besar kami yang gak akan pernah terwujud kalo hanya berani bernyanyi di ruangan gelap, pengap, penuh asap rokok, diberi nilai secara acak oleh sistem, dan hanya ditonton oleh teman sendiri. Dua jam kemudian setelah satu set list lagu seperti dari ST12, Kangen Band, Peterpan, Sheila on 7, Benyamin Sueb, Oasis, The Cure, Depeche Mode, Queen, serta band2 gak tenar lainnya yang dilewatkan bersama bergelas2 teh manis, berbotol2 air mineral, dua porsi nasi goreng kambing, bakso bakar, dan kentang goreng, kami memutuskan kembali ke hotel. Mungkin dengan begitu, paling tidak mimpi besar kami itu isa terwujud ketika kami tertidur lelap.

Setelah selesai rapat di keesokan harinya, kami serombongan dibawa oleh Tuan Rumah menuju Pasar Kuto 8 Ilir di mana pasokan durian akan selalu tersedia sepanjang tahun walaupun di bagian lain di Indonesia, durian diyakini sebagai buah musiman. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah uji nyali santap durian bersama langsung di lapak pejual durian. Dengan semangat empat lima dan gegap gempita, kami menuju calon lokasi kejahatan ketika Sang Raja Buah akan merasakan bagaimana belah durian itu.

Semua Itu Buah Durian

Saudara Tito dan Saudara Daniel Mencoba Memilih Durian

Sudah tak terhitung korban yang kami santap saat itu. Sebagai korban penyerta, Duku Palembang yang manis itu pun tumbang berserakan tak berdaya. Mitos mengenai kelezatan durian dan duku Palembang memang tidak terbantahkan. Gw gak terlalu mengingat jelas perjalanan pulang dari Palembang ke Jakarta karena gw seperti tersihir dalam kelezatan empuk daging durian serta keharuman aromanya yang membuat badan panas dingin dan lidah menari2 berusaha mengecap kembali rasa yang mungkin masih tertinggal di dinding mulut.

Wednesday, February 18, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (2)

Medan (hari kedua) / 2 – 3 Februari 2009

Menjelang malam, gw udah duduk manis di depan Mary-Star nyoba buat ngedonlot video clip “Somebody”-nya Depeche Mode lewat torrent. Sayang sekali kalo fasilitas internet hotel sekelas Novotel dilewatkan begitu saja. Belum sampai 60% tersedot, Mas Desky menghubungi lewat ponsel. Kebetulan sekali karena perut ini sudah berkerut-kerut kelaparan.

Malam ini giliran Restoran Tiptop yang kami satroni. Restoran yang terletak di kawasan Medan Baru ini bergaya 30-an dengan bangku2 kuno, langit2 tinggi, tembok yang tebal, ornamen kayu, dan penyanyi restoran yang bergaya Spanyol-nya. Sebagai penyedap rasa, foto2 tempo doeloe Restoran Tiptop dipajang di setiap sisi dinding restoran. Yang paling menarik dari semua foto itu adalah foto pasukan Sekutu sedang melintasi Restoran Tiptop waktu zaman Agresi Militer Belanda dulu. Gak cuma sebagai tempat tongkrongan yang sudah berusia tua, ternyata restoran ini adalah salah satu saksi bisu sejarah Perang Kemerdekaan republik tercinta ini.

Tiptop Restaurant

Kami sengaja memilih untuk duduk di selasar depan restoran karena suasana 30-an itu dapat langsung terasa begitu pantat menyentuh bangku. Gw langsung teringat suasana Toko Oen di Semarang.

Suasana Selasar

Tuan Rumah merekomendasikan Nasi Goreng Spesial dengan Telur Setengah Matang sebagai pelengkapnya. Terdengar seperti menu yang biasa, tetapi pikiran itu langsung berubah tepat ketika nasi goreng menyentuh syaraf2 perasa di lidah. Nasi goreng dengan bumbu rempah2 ditambah dengan telur yang meleleh terasa sangat legit di mulut. Sebagai lauk pelengkap, ayam goreng tepung yang berlumur saos melengkapi sensasi spesial seperti nama sajian di menu.

Untuk pencuci mulut, tidaklah lengkap jika tidak memakan es krim di restoran kuno seperti ini. Karena rasa antik dari resep kuno itu akan terus lestari terjaga sempurna. Es krim coklat bertabur buah adalah pilihan gw malam itu.

Satu Porsi Es Krim yang Menggugah Selera

Rasanya menyenangkan untuk menyusuri jalan di Medan selama dua malam untuk pesiar boga. Sebagai salah satu kota tua di Sumatera Utara, gw yakin masih banyak makanan eksotis yang masih isa dijelajahi.

Monday, February 09, 2009

Suci dalam Debu

Kata “suci” Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:
1. bersih (dl arti keagamaan, spt tidak kena najis, selesai mandi janabat);
2. bebas dr dosa; bebas dr cela; bebas dr noda; maksum;
3. keramat;
4. murni (tt hati, batin); bebas (lepas)

ber•su•ci v 1 membersihkan diri (sebelum salat dsb); 2 hidup suci (saleh);
 me•nyu•ci•kan v membersihkan (batin, hati, dsb); memurnikan; menguduskan;
 per•su•ci•an n 1 perihal bersuci; 2 penyucian;
 pe•nyu•ci•an sesuatu yg dapat dipakai untuk menyucikan;
 pe•nyu•ci•an n proses, cara, perbuatan menyucikan (jiwa, jasmani, dsb);
 ke•su•ci•an n kebersihan (hati dsb); kemurnian

Dari ensiklopedia online didapat arti kata “holy” sebagai kata dalam bahasa Inggris yang mempunyai nilai rasa hampir sama dengan “suci”:

1. Set apart to the service or worship of God; hallowed; sacred; reserved from profane or common use; holy vessels; a holy priesthood. ``Holy rites and solemn feasts.'' --Milton.
2. Spiritually whole or sound; of unimpaired innocence and virtue; free from sinful affections; pure in heart; godly; pious; irreproachable; guiltless; acceptable to God.
3. Good; pure; following the rules of religion a holy life.

Terdapat kata2 kunci yang punya kesamaan arti baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia; bersih (tidak najis), keramat, dan murni. Sehingga isa ditarik benang merah bahwa secara garis besar, pemahaman ke-“suci”-an orang Inggris (mewakili pemikiran Barat) dan orang Indonesia (menjunjung adat ke-Timur-an) adalah sama.

Manusia selalu kagum dengan kekuatan yang melebihi dari kekuatannya. Batu besar, pohon beringin rindang besar, pengkolan kali, goa dalam, gunung, laut, matahari, dan terutama kekuatan yang tidak masuk dalam nalar mereka. Dengan dalih itu, secara bertahap terbentuklah satu tempat ekslusif yang diberi label “suci” di mana mereka dapat menyampaikan rasa kekaguman dengan diselipi pamrih agar kekuatan tersebut dapat merasuk sebagian dalam diri mereka.

Tempat suci biasanya menjadi tempat yang keramat sehingga hanya orang2 yang mempunyai syarat2 tertentu saja yang dapat memasukinya. Maka jika seseorang tidak dalam keadaan suci, dia harus bersuci untuk dapat melakukan ritual dalam tempat keramat tadi.

Ada satu fitrah yang melekat pada entitas tertentu yang menjadikannya tidak pernah menjadi dalam keadaan suci walau bagaimanapun dia bersuci. BABI dan ANJING adalah makhluk yang dikenal sebagai pengejawantahan najis ini. Boro2 melakukan ritual, mendekati tempat suci aja langsung dihalau pergi.

Kemaren malam waktu gw nganterin Si Kecil ke Novotel Semarang, sangat jelas gw denger dan segera paham apa yang dimaksud Sang Satpam ketika gak ngebuka portal sambil bilang, “Maaf, Pak. Motor dilarang masuk.”

Sunday, February 08, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (1)

Medan (hari pertama)

Berangkat langsung dari kantor, gw menuju Medan seperti pada perjalanan yang lalu. Rencana perjalanan juga seperti tahun lalu. MedanPalembangSemarangSurabayaBalikpapanMakassar. Tiga minggu ini gw bakal idup dari hotel ke hotel, dari bandara satu ke bandara yang lain, mirip kek pengembara. Bedanya ini lebih terencana dan punya layanan akomodasi yang lumayan.

Walaupun take off dari Soekarno Hatta dalam hujan deras, tetapi dua jam kemudian pesawat mendarat di Polonia dalam keadaan yang sempurna. Bahkan tidak mengalami kendala guncangan selama penerbangan. Kecuali mendapati kenyataan bahwa gw yang duduk di kursi E harus ikhlas kalo teman samping gw pada gede2 semua. Alhasil, gw yang juga masuk ukuran gede ini kejepit.

Landing pukul 18.00 ternyata Medan masih terang benderang. Agak aneh juga rasanya, tetapi ini berarti ada tambahan waktu sore yang cukup untuk menjelajahi Medan. Setelah check in di hotel di tengah kota, para kamerad yang bertugas di Medan menunjukkan keramahan lokal dengan ngajakin wisata kuliner.

Mas Desky


Gusti dan Pak Sopir


Kunjungan pertama adalah Sate Memeng. Namanya memang agak “mengundang”, tetapi rasa dari sate memang mengundang selera. Bayangin saja, sate sapi (mereka bilang lembu) dibakar dengan arang kemudian disajikan panas2 dalam balutan bumbu kacang yang sedap. Luar biasa sekali. Apalagi dimakan dengan perut keroncongan di pinggir sebuah jalan pada saat malam baru merekah.


Situasi Kedai Sate Memeng



Satu Porsi Sate Memeng


Sebagai penuci mulut, kami memburu es krim Ria di tengan Pecinan Medan. Sekilas pandang, toko Ria ini ngingetin Restoran Es Krim Ragusa di Jakarta Pusat. Gw gak salah pilih karena milih es krim alpukat yang ternyata memang sangat lembut di mulut. Rasa gurih susu bercampur dengan manis gula dan lembut tekstur alpukat bikin rasanya sangat luar biasa. Harganya juga termasuk murah, kami berempat hanya menghabiskan kurang dari 40.000 rupiah untuk semua es krim yang kami makan dan camilan lainnya. Harapannya sih kepengen nambah sate padang yang dijual di depan restoran, tetapi apa daya perut sudah kekenyangan.


Es Krim Ria

Cukuplah untuk hari ini. Esok mungkin masih ada kesempatan buat makan Durian Medan.

Wednesday, February 04, 2009

XL - Xerba Lemodz

Saya pengguna XL nomor 081708658xx yang memilih Xplor sebagai pilihan berkomunikasi via telepon seluler sejak tahun 2003. Waktu itu saya tertarik dengan jaminan kualitas dan harga yang sangat rasional. Jaringan luas dan kualitas suara yang jelas mungkin memang harus ditebus dengan harga premium. Tetapi tidak masalah bagi saya yang memang harus siap sedia 24/7 untuk dapat mengangkat telepon kapan pun tugas memanggil. Hal yang paling membuat saya yakin tidak salah memilih XL bagi saya adalah ketika Gempa Jogja Mei 2006 terjadi, XL masih tetap berfungsi dengan baik hingga membantu kelancaran pekerjaan saya.


Bulan madu saya dengan XL yang berlangsung cukup lama akhirnya hanya sampai pada penghujung tahun 2008 ketika semuanya berubah. Hal itu dimulai dengan seringnya telepon yang tidak dapat dilakukan dengan alasan “Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi”, atau “Anda terhubung dengan kotak suara XL”. Yang tak kalah mengganggu adalah layanan SMS tertulis tidak terkirim tetapi pada kenyataannya sudah terkirim. Sehingga saya harus mengirim SMS berulang kali sampai akhirnya SMS dinyatakan terkirim. Hal ini membuat kolega saya menjadi tidak nyaman serta saya yang harus menanggung pembengkakan biaya dari ketidaktahuan tersebut.


Saya pernah mengeluh pada XL Care Center pada bulan Desember 2008. Pada saat itu Customer Care mengatakan bahwa tidak ada gangguan pada XL sehingga saya harus melakukan reset pada telepon seluler saya. Setelah saya lakukan prosedur yang disarankan, gangguan SMS menjadi berkurang. Tetapi saluran telepon masih tetap jarang tersambung. Ini adalah sesuatu yang aneh karena sinyal pada telepon saya terlihat penuh. Saya ternyata tidak sendiri, hal yang serupa juga dialami oleh beberapa rekan yang di daerah Kramat tempat tinggal saya.


Kalau memang jaringan sedang terganggu, sebaiknya secara arif mengakui dengan memasang “Maaf, Anda tidak dapat menghubungi nomor yang Anda tuju karena jaringan sedang terganggu. Coba lakukan kontak beberapa saat lagi” dalam layanan telepon. Jangan terus-terusan menyalahkan pelanggan karena telepon selulernya seolah-olah tidak bisa dihubungi, salah setting sehingga setting-nya harus diubah, atau bahkan sampai harus menginstruksikan menelepon di luar rumah karena rumahnya terlalu rapat sehingga sinyal tidak dapat masuk.


Terus terang dua bulan terakhir ini saya merasa kecewa dengan kualitas XL sehingga berpikir untuk beralih operator. Buat apa mempunyai nomor telepon tetapi tidak bisa digunakan untuk menjalin komunikasi? Seberapa banyak lagi silaturahmi menemui jalan buntu? Sebatas apa kesalahpahaman dapat ditolerir karena penyampaian komunikasi terganggu?


Geli rasanya melihat iklan yang digambar di tembok gedung paling ujung jalan Kramat Kwitang II karena apa yang saya alami jauh dari “Sinyal bagus – nyambung teruuusss…!” yang terpampang setinggi 15 meter itu. Jangan-jangan kualitas XL memang seperti kualitas bintang iklan XL yang “Gak perlu mikir”.