Wednesday, February 18, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (2)

Medan (hari kedua) / 2 – 3 Februari 2009

Menjelang malam, gw udah duduk manis di depan Mary-Star nyoba buat ngedonlot video clip “Somebody”-nya Depeche Mode lewat torrent. Sayang sekali kalo fasilitas internet hotel sekelas Novotel dilewatkan begitu saja. Belum sampai 60% tersedot, Mas Desky menghubungi lewat ponsel. Kebetulan sekali karena perut ini sudah berkerut-kerut kelaparan.

Malam ini giliran Restoran Tiptop yang kami satroni. Restoran yang terletak di kawasan Medan Baru ini bergaya 30-an dengan bangku2 kuno, langit2 tinggi, tembok yang tebal, ornamen kayu, dan penyanyi restoran yang bergaya Spanyol-nya. Sebagai penyedap rasa, foto2 tempo doeloe Restoran Tiptop dipajang di setiap sisi dinding restoran. Yang paling menarik dari semua foto itu adalah foto pasukan Sekutu sedang melintasi Restoran Tiptop waktu zaman Agresi Militer Belanda dulu. Gak cuma sebagai tempat tongkrongan yang sudah berusia tua, ternyata restoran ini adalah salah satu saksi bisu sejarah Perang Kemerdekaan republik tercinta ini.

Tiptop Restaurant

Kami sengaja memilih untuk duduk di selasar depan restoran karena suasana 30-an itu dapat langsung terasa begitu pantat menyentuh bangku. Gw langsung teringat suasana Toko Oen di Semarang.

Suasana Selasar

Tuan Rumah merekomendasikan Nasi Goreng Spesial dengan Telur Setengah Matang sebagai pelengkapnya. Terdengar seperti menu yang biasa, tetapi pikiran itu langsung berubah tepat ketika nasi goreng menyentuh syaraf2 perasa di lidah. Nasi goreng dengan bumbu rempah2 ditambah dengan telur yang meleleh terasa sangat legit di mulut. Sebagai lauk pelengkap, ayam goreng tepung yang berlumur saos melengkapi sensasi spesial seperti nama sajian di menu.

Untuk pencuci mulut, tidaklah lengkap jika tidak memakan es krim di restoran kuno seperti ini. Karena rasa antik dari resep kuno itu akan terus lestari terjaga sempurna. Es krim coklat bertabur buah adalah pilihan gw malam itu.

Satu Porsi Es Krim yang Menggugah Selera

Rasanya menyenangkan untuk menyusuri jalan di Medan selama dua malam untuk pesiar boga. Sebagai salah satu kota tua di Sumatera Utara, gw yakin masih banyak makanan eksotis yang masih isa dijelajahi.

5 comments:

escoret said...

eman2..postingan panjang dan bagus kok sepi ...dan ga ada yg komeng....

bos...pkbr..???

berlin said...

medan???
ku cuma pengen tuak en bika ambonnya.

matahari said...

@escoret: halo, Pak Bos. bagaimana semarang waktu banjir?

@berlin: sayang kalo ke medan cuma icip2 tuak n bika. ternyata macem2, Bos. ada jambu bol, ada durian, ada kue bolu meranti, ada kopi toraja, ada wisata pijet huahahaha....

salom gea said...

bisa dong kita berbisnis....pasti saling menguntungkan. Btw saya sangat tertarikbaca blog kamu, see u in my blog

Nuki Adiati said...

masih ngeblog, pak. gw di kebayoran lama. lo tinggal dimana sih? ada kabar baru apa?