Sunday, March 29, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (6);

Balikpapan / 15 – 16 Februari 2009

Panas menyengat matahari Balikpapan bercampur aduk dengan asap yang dihasilkan oleh panggangan Pepes Ikan Patin. Walaupun sedap nian baunya, tetep aja gak bikin gw berhenti lirik2 jam di ponsel. Masalahnya, sudah dua jam dari check-in tetapi gw dan rombongan masih harus nungguin Pepes Ikan Patin. Darius-sensei yang juga masih punya tempat lain untuk mengambil pesanan di beberapa tempat juga keliatan agak panik. Tetapi gw ama Ami-kun yang sudah berbaik hati nganterin ke Pasar Kebun Sayur punya cara yang lebih arif untuk mengatasi kecemasan itu. Kami muterin pasar buat liat-liat barang. Niatnya mau cari coklat murah hasil perdagangan gelap dari Malaysia, tetapi akhirnya beli songkok dari rotan buat Bapak. Sekembali dari thawaf Pasar Kebun Sayur, Pepes Ikan Patin sudah siap dibungkus dan kami harus segera tancap gas ke bandara.

Setelah nganter Ami-kun balik ke kantor, mobil langung dipacu ke kaki bukit. Targetnya adalah kue serabi di salah satu ruko menuju bandara. Gw gak gitu inget nama tokonya karena waktu itu gw sibuk menata perut yang melonjak2 gara komplikasi bau pepes patin, bau pengap kabin mobil, dan cara menyetir Pak Sopir yang mencoba menepati tenggat waktu dengan zigzag slalom di jalan. Setibanya di toko serabi, secepat itu pula gw buka pintu dan menjauh dari mobil buat jack-pot. Beuh, padahal tar masih ada dua jam perjalanan menuju Jakarta yang cuacanya sepertinya gak begitu bersahabat.

Target serabi sudah didapat dan perjalanan menuju bandara dilanjutkan. Tetapi ini bukan berarti langsung menuju ke bandara. Masih inget dengan kata “beberapa tempat” yang gw tulis di paragraf satu? Hehehe, Darius-sensei ternyata juga memesan Kepiting Kenari deket bandara untuk dibawa ke Jakarta. Padahal waktu menunjukkan 15 menit sebelum check-in dan bandara masih beberapa kilometer jauhnya. Gw pun kudu kembali berjibaku dengan perasaan gak enak di perut sepanjang perjalanan.

Papan nama Kepiting Kenari sudah terlihat dari tikungan jalan. Darius-sensei sudah mencopot sabuk keselamatannya. Sepertinya persiapan untuk secepatnya dapet paket Kepiting Kenari sudah dilakukan sejak dini. Maklum, gak ada dari gw dan Darius-sensei yang mau ketinggalan pesawat. Tepat begitu mobil berhenti di tempat parkiran, Darius-sensei langsung membuka pintu dan keluar dari mobil dengan sigap. Pak Sopir pun langsung membuka bagasi belakang untuk mempersiapkan ruang yang cukup untuk menampung Si Kepiting. Sementara gw cepet2 ngebuka jendela buat mengalirkan angin laut Balikpapan ke otak agar sedikit menyegarkan rongga dada. Teteup….

Begitu Si Kepiting sudah tersimpan aman di bagasi, mobil kembali dihela ke arah bandara. Untungnya, bandara sudah secara visual terlihat. Tetapi waktu sudah menunjukkan 15 menit lewat dari waktu check-in seharusnya. Sementara mobil dipacu, jantung kami juga ikut berpacu seolah-olah dengan begitu kecepatan mobil bisa bertambah.

Kami tiba di drop-off bandara kira2 30 menit dari jadwal boarding. Duh, padahal belum check-in! Dengan terburu2 semua barang bawaan kami naikkan ke troli dan langsung berlari2 kecil menuju front-desk Maskapai Plat Merah. Segeralah semua bagasi dimasukkan, Kartu Frequent Flyer diserahkan, tiket dicetak, dan airport tax dibayar. Setelah proses administrasi selesai, kami secepatnya menuju ruang tunggu. Dalam bayangan gw, semua orang yang ikut satu penerbangan dengan kami tentulah sudah antri buat masuk pesawat. Sementara kami masih harus diperiksa dan dipindai sekali lagi di pintu Ruang Tunggu.

Gw mencari2 antrian seketika gw masuk ke ruang tunggu. Rasa panik cepet muncul karena gw sama sekali gak menemukan antrian. Jangan2 semua penumpang sudah beneran boarding? Cepet2 gw langsung liat tiket untuk ngeliat pintu masuk yang mana seharusnya antrian itu berada. Lalu terdengarlah suara surgawi,

“Teng tong teng tong, mohon perhatian. Bagi penumpang penerbangan Plat Merah Airline menuju Jakarta, dengan ini diinformasikan bahwa penerbangan Anda mengalami keterlambatan. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini”.

Hampir aja gw cari Si Pemilik Suara Surgawi dan menyampaikan segala macam bentuk terima kasih sebelum gw sadar kalau perut ini mulai nendang lagi. Jah….

Tuesday, March 17, 2009

Sebuah Pena untuk Masa Depan

Suatu petang di kampung Kwitang yang padat perumahan dan tentu saja juga banyak anak2. Antrian di convenience store Indomaret sudah sedemikian parah tanpa harus mendengar teriakan dan gerutuan seorang Ibu.


Ibu Menggerutu : Balikin gak!?


Si Ibu menyuruh anaknya yang terkecil untuk mengembalikan pena ke dalam rak yang diambilnya sesaat sebelum si Ibu membayar di kasir. Kakak2nya yang lain sudah keluar ke jalan dengan masing2 menjilati es krim.


Anak Kecil Lucu : Tetapi aku mau ini…

Ibu Menggerutu : Apaan sih itu? Itu pena jelek. Balikin lagi ke rak! (kemudian keluar dari toko)


Anak Kecil Lucu itu kembali ke rak tetapi hanya menukar pena yang dia ambil tadi dengan pena yang lain. Pilihan yang bagus, dengan sekilas lirikan, gw tau pena yang ada di tangan dia gak akan “mblobor” kalo dipake. Secepat dia mengganti pilihannya, secepat itu pulalah dia lari keluar toko sambil menggenggam pena baru pilihannya.


Anak Kecil Lucu : Mau beli ini!


Terjadi kehebohan sejenak di luar toko. Kemudian si Ibu beserta Anak Kecil Lucu kembali menuju kasir untuk membayar pena yang diambil si Anak. Biasanya ribut dengan tabiat orang lain yang gak mau ngantri, kali ini gw menyilakan si Ibu untuk bertransaksi dulu.


Ibu Menggerutu : Lain kali kalo rewel kek gini kamu gak Ibu ajak.


Si Anak terlalu sibuk dengan mainan barunya untuk mendengar gerutuan si Ibu.


Anak kecil dan sebuah pena adalah sebuah kombinasi yang jarang, bukan? Tetapi entah knapa si Ibu gak isa ngeliat hal yang menarik ini. Padahal kalo pada waktu upacara nginjek tanah, bayi dalam kurungan ayam yang memegang pena ato pensil akan langsung dihubungkan dengan kecerdasan, kepintaran, maupun kemapanan.


Dengan sebatang pena, mungkin dia bakal isa jadi disainer grafis yang handal esok hari, jika tidak kepincut jadi karyawan perusahaan migas negara. Ato bahkan jadi penulis yang isa menggerakan bangsa, karena sebatang pena itu lebih mempunyai kuasa daripada sebilah pedang. Ato mungkin jadi pelukis yang dapat membuat seluruh dunia menitikkan air mata haru atas karya besarnya, jika saja orang tuanya membiarkan dia mengeksplorasi seluruh permukaan dinding rumah tanpa dijagal atas nama kebersihan dan kerapihan. Ato jadi seorang arsitek, seorang politisi, seorang penggubah puisi ato apa sajalah.


Berkreasilah, Nak. Kamu bisa jadi apapun yang kamu mau.

Thursday, March 05, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (5)

Surabaya / 10 – 11 Februari 2009


Perjalanan ke Surabaya kali ini merupakan salah satu perjalanan yang memacu jantung. Bagaimana tidak? Selama dua hari sebelum hari keberangkatan gw, bandara ditutup karena landasan pacu dan apron terendam banjir sampai dengan ketinggian 30 cm. Tidak hanya bandara, Simpang Lima, Kota Lama, Stasiun Tawang, bahkan sampai Kendal dan Demak pun juga terendam banjir yang kata ahli disebabkan oleh angin topan di daerah perairan Australia.


Sempat was-was karena jika penerbangan kali ini tidak bisa dilakukan, gw harus berpikir untuk cari jalan lain buat terbang ke Surabaya karena tugas telah menanti. Rencana A adalah rencana awal yaitu berangkat lewat Bandara Ahmad Yani Semarang sambil berharap penerbangan tidak ditunda atau dibatalkan dan ketika penerbangan dinyatakan isa dilakukan, pesawat dapat menembus awan hujan tebal yang masih menggantung di atas Semarang. Rencana B adalah jika penerbangan saat itu memang harus dibatalkan, gw harus ke Bandara Adisumarmo Solo untuk cari tiket go-show menuju Surabaya. Rencana C adalah gw harus rela menempuh perjalanan tiga jam naik bus menuju Bandara Adisucipto Jogja untuk terbang menuju Surabaya.


Syukur alhamdulillah, Rencana B dan C tidak perlu dilakukan. Karena gw isa terbang sesuai dengan rencana seperti yang tercantum pada tiket walaupun dengan sedikit olah raga jantung ketika pesawat melewati awan hujan yang pekat.


Walaupun telah melintasi jarak ratusan kilometer, ternyata mendung tebal masih mengekor sampai Surabaya. Dari lantai delapan Town Square Suite Hotel gw isa ngeliat bagaimana awan hujan perlahan menyergap dan menyelimuti Surabaya sambil melancarkan kilat yang bertubi2 tanpa kasihan ke arah kota yang tak berdaya. Sesaat kemudian rintik hujan mulai menampari kaca jendela kamar gw.


Gw duduk di tepi ranjang menghadap Kota Surabaya yang sedang dibaptis, mencoba menekan urutan 10 angka pada keypad ponsel.


“Assalamualaikum, Bapak?”

Monday, March 02, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (4)

Semarang / 7 – 8 Februari 2009

Menembus dingin dan hujan, Kereta Argo Sindoro jurusan Semarang Tawang yang gw tumpangin bersama Si Kecil memasuki Stasiun Tawang satu jam lebih lama daripada jadwal kedatangan yang tertera di tiket. Jam yang menggantung di atas langit2 peron menunjukkan angka 23.30 saat tubuh2 letih karena perjalanan kami mulai melewati peron. Lantai peron Stasiun Tawang tampak seperti terakhir kali gw inget, keramik putih yang tercoreng-moreng lumpur bawaan para pelancong dari berbagai pelosok negeri. Gw kudu berhati2 memilih lantai yang masih kering agar tidak terpeleset karena air hujan yang tempyas ke dalam peron menjadikan lantai licin ketika diinjak. Hujan sudah mulai mengguyur daerah Semarang sejak kereta memasuki Kendal.

Sebuah SMS dari Dedekecil masuk ke inbox memberitahu bahwa dia baru saja mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang setelah empat jam tertunda. Dalam SMS-nya, dia menulis bahwa pesawat masih bisa mendarat walaupun hujan deras mengguyur bandara. Sejurus kemudian percakapan melalui ponsel berubah topik menjadi “siapakah yang harus menjemput siapa?” Karena kami telah sepakat sedari tadi sore untuk menjemput siapapun yang datang belakangan ke Semarang. Tampaknya kesepakatan itu tidak akan bisa dilakukan mengingat kami datang hampir bersamaan.

Taksi gw berangkat setelah taksi yang ditumpangin Si Kecil bergerak menuju Tlogosari. Gw selalu takjub dengan kekuatan magis yang ditimbulkan oleh hujan pada tengah malam. Di bawah derai air, gw terpaku di balik jendela taksi. Tenggelam dalam suasana hujan malam hari Kota Semarang sepanjang jalan menuju Sampangan. Dinding bangunan Kota Lama dirembesi air bocoran atap, pelacur kuyup di bawah tritisan, hidung belang mencari jawaban atas dinginnya malam, jalanan ngecembeng comberan tak tersalur gorong2, tak terkecuali trotoar, pohon asem Kalisari, pengendara motor mengigil, serta lapak kaki lima Sega Kucing yang hanya pasrah kepada basah. Kelip lampu seperti melambai-lambai dari alam yang lain, alam yang hanya isa dicapai jika melewati tirai hujan. Sebelum kegilaan mulai menguasai ruang sadar, gw merogoh lembaran duid yang ada di kantong celana untuk membayar taksi yang sudah sampai di parkiran Perumahan Nasional pertama yang didirikan Pemerintah Republik ini. Tampaknya gw memang harus menyatu dengan hujan untuk menuju kehangatan rumah.

Tidak ada setengah jam setelah gw mengeringkan badan seadanya disertai dengan celoteh kangen Bapak-Ibu, Dedekecil datang mengetuk pintu depan. Lengkap sudah rumah ini dihuni kembali oleh jiwa2 yang kembali setelah mengembara sekian lama. Hanya selang sebulan setelah kepulangan gw untuk malam tahun baruan lalu di rumah. Tetapi Dedekecil belum pulang ke Semarang sejak dua tahun perantauannya di hutan Riau Raya. Mungkin kami memang harus reuni untuk merayakan Cap Go Meh bersama.


Bapa lan Biyung

Entah karena sudah terlalu letih atau terlalu banyak tidur di kereta sehingga sampai adzan subuh menggema dari masjid seberang sungai di belakang rumah gw masih gak isa memejamkan mata. Atau mungkin juga efek psikologis dari tambah menggilanya hujan yang turun sehingga bikin syaraf2 gw terjaga waspada. Tak heran juga kalo itu yang terjadi karena gw lahir, tumbuh, dan berkembang di daerah yang setiap turun hujan pasti listrik akan padam dan tak lama kemudian permukaan sungai naik sampai pada bibir tebing yang sering kali tumpahan airnya menggenangi rumah dan perkampungan tempat gw tinggal. Kalau 10 tahun lalu ketika semua orang masih tinggal di rumah dan kondisi fisik Bapak-Ibu relatif masih segar mungkin pikiran buruk jika terkena banjir masih agak bisa ditenangkan. Tetapi karena kondisi Bapak-Ibu yang sudah menua, gw jadi sangat khawatir. Bagaimana jika banjir datang ketika mereka hanya berdua di rumah? Bahkan ketakutan dan pikiran tak waras gw pun akhirnya tak kuasa menahan kantuk. Kesadaran gw mulai mengilang bersamaan bunyi samar2 lima kali dentangan jam pegas dari atas tangga.

Dalam tidur kali itu gw bermimpi bahwa kami isa keluar dari kemiskinan dan akhirnya punya cukup uang untuk membeli sebuah rumah mungil di atas bukit yang artinya Semarang harus menjadi lautan terlebih dahulu sebelum rumah kami terendam banjir. Apakah akhirnya semua ini hanya akan menjadi sebuah mimpi?