Monday, March 02, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (4)

Semarang / 7 – 8 Februari 2009

Menembus dingin dan hujan, Kereta Argo Sindoro jurusan Semarang Tawang yang gw tumpangin bersama Si Kecil memasuki Stasiun Tawang satu jam lebih lama daripada jadwal kedatangan yang tertera di tiket. Jam yang menggantung di atas langit2 peron menunjukkan angka 23.30 saat tubuh2 letih karena perjalanan kami mulai melewati peron. Lantai peron Stasiun Tawang tampak seperti terakhir kali gw inget, keramik putih yang tercoreng-moreng lumpur bawaan para pelancong dari berbagai pelosok negeri. Gw kudu berhati2 memilih lantai yang masih kering agar tidak terpeleset karena air hujan yang tempyas ke dalam peron menjadikan lantai licin ketika diinjak. Hujan sudah mulai mengguyur daerah Semarang sejak kereta memasuki Kendal.

Sebuah SMS dari Dedekecil masuk ke inbox memberitahu bahwa dia baru saja mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang setelah empat jam tertunda. Dalam SMS-nya, dia menulis bahwa pesawat masih bisa mendarat walaupun hujan deras mengguyur bandara. Sejurus kemudian percakapan melalui ponsel berubah topik menjadi “siapakah yang harus menjemput siapa?” Karena kami telah sepakat sedari tadi sore untuk menjemput siapapun yang datang belakangan ke Semarang. Tampaknya kesepakatan itu tidak akan bisa dilakukan mengingat kami datang hampir bersamaan.

Taksi gw berangkat setelah taksi yang ditumpangin Si Kecil bergerak menuju Tlogosari. Gw selalu takjub dengan kekuatan magis yang ditimbulkan oleh hujan pada tengah malam. Di bawah derai air, gw terpaku di balik jendela taksi. Tenggelam dalam suasana hujan malam hari Kota Semarang sepanjang jalan menuju Sampangan. Dinding bangunan Kota Lama dirembesi air bocoran atap, pelacur kuyup di bawah tritisan, hidung belang mencari jawaban atas dinginnya malam, jalanan ngecembeng comberan tak tersalur gorong2, tak terkecuali trotoar, pohon asem Kalisari, pengendara motor mengigil, serta lapak kaki lima Sega Kucing yang hanya pasrah kepada basah. Kelip lampu seperti melambai-lambai dari alam yang lain, alam yang hanya isa dicapai jika melewati tirai hujan. Sebelum kegilaan mulai menguasai ruang sadar, gw merogoh lembaran duid yang ada di kantong celana untuk membayar taksi yang sudah sampai di parkiran Perumahan Nasional pertama yang didirikan Pemerintah Republik ini. Tampaknya gw memang harus menyatu dengan hujan untuk menuju kehangatan rumah.

Tidak ada setengah jam setelah gw mengeringkan badan seadanya disertai dengan celoteh kangen Bapak-Ibu, Dedekecil datang mengetuk pintu depan. Lengkap sudah rumah ini dihuni kembali oleh jiwa2 yang kembali setelah mengembara sekian lama. Hanya selang sebulan setelah kepulangan gw untuk malam tahun baruan lalu di rumah. Tetapi Dedekecil belum pulang ke Semarang sejak dua tahun perantauannya di hutan Riau Raya. Mungkin kami memang harus reuni untuk merayakan Cap Go Meh bersama.


Bapa lan Biyung

Entah karena sudah terlalu letih atau terlalu banyak tidur di kereta sehingga sampai adzan subuh menggema dari masjid seberang sungai di belakang rumah gw masih gak isa memejamkan mata. Atau mungkin juga efek psikologis dari tambah menggilanya hujan yang turun sehingga bikin syaraf2 gw terjaga waspada. Tak heran juga kalo itu yang terjadi karena gw lahir, tumbuh, dan berkembang di daerah yang setiap turun hujan pasti listrik akan padam dan tak lama kemudian permukaan sungai naik sampai pada bibir tebing yang sering kali tumpahan airnya menggenangi rumah dan perkampungan tempat gw tinggal. Kalau 10 tahun lalu ketika semua orang masih tinggal di rumah dan kondisi fisik Bapak-Ibu relatif masih segar mungkin pikiran buruk jika terkena banjir masih agak bisa ditenangkan. Tetapi karena kondisi Bapak-Ibu yang sudah menua, gw jadi sangat khawatir. Bagaimana jika banjir datang ketika mereka hanya berdua di rumah? Bahkan ketakutan dan pikiran tak waras gw pun akhirnya tak kuasa menahan kantuk. Kesadaran gw mulai mengilang bersamaan bunyi samar2 lima kali dentangan jam pegas dari atas tangga.

Dalam tidur kali itu gw bermimpi bahwa kami isa keluar dari kemiskinan dan akhirnya punya cukup uang untuk membeli sebuah rumah mungil di atas bukit yang artinya Semarang harus menjadi lautan terlebih dahulu sebelum rumah kami terendam banjir. Apakah akhirnya semua ini hanya akan menjadi sebuah mimpi?

No comments: