Thursday, March 05, 2009

Nusantara di Tahun 2009 (5)

Surabaya / 10 – 11 Februari 2009


Perjalanan ke Surabaya kali ini merupakan salah satu perjalanan yang memacu jantung. Bagaimana tidak? Selama dua hari sebelum hari keberangkatan gw, bandara ditutup karena landasan pacu dan apron terendam banjir sampai dengan ketinggian 30 cm. Tidak hanya bandara, Simpang Lima, Kota Lama, Stasiun Tawang, bahkan sampai Kendal dan Demak pun juga terendam banjir yang kata ahli disebabkan oleh angin topan di daerah perairan Australia.


Sempat was-was karena jika penerbangan kali ini tidak bisa dilakukan, gw harus berpikir untuk cari jalan lain buat terbang ke Surabaya karena tugas telah menanti. Rencana A adalah rencana awal yaitu berangkat lewat Bandara Ahmad Yani Semarang sambil berharap penerbangan tidak ditunda atau dibatalkan dan ketika penerbangan dinyatakan isa dilakukan, pesawat dapat menembus awan hujan tebal yang masih menggantung di atas Semarang. Rencana B adalah jika penerbangan saat itu memang harus dibatalkan, gw harus ke Bandara Adisumarmo Solo untuk cari tiket go-show menuju Surabaya. Rencana C adalah gw harus rela menempuh perjalanan tiga jam naik bus menuju Bandara Adisucipto Jogja untuk terbang menuju Surabaya.


Syukur alhamdulillah, Rencana B dan C tidak perlu dilakukan. Karena gw isa terbang sesuai dengan rencana seperti yang tercantum pada tiket walaupun dengan sedikit olah raga jantung ketika pesawat melewati awan hujan yang pekat.


Walaupun telah melintasi jarak ratusan kilometer, ternyata mendung tebal masih mengekor sampai Surabaya. Dari lantai delapan Town Square Suite Hotel gw isa ngeliat bagaimana awan hujan perlahan menyergap dan menyelimuti Surabaya sambil melancarkan kilat yang bertubi2 tanpa kasihan ke arah kota yang tak berdaya. Sesaat kemudian rintik hujan mulai menampari kaca jendela kamar gw.


Gw duduk di tepi ranjang menghadap Kota Surabaya yang sedang dibaptis, mencoba menekan urutan 10 angka pada keypad ponsel.


“Assalamualaikum, Bapak?”

No comments: