Tuesday, March 17, 2009

Sebuah Pena untuk Masa Depan

Suatu petang di kampung Kwitang yang padat perumahan dan tentu saja juga banyak anak2. Antrian di convenience store Indomaret sudah sedemikian parah tanpa harus mendengar teriakan dan gerutuan seorang Ibu.


Ibu Menggerutu : Balikin gak!?


Si Ibu menyuruh anaknya yang terkecil untuk mengembalikan pena ke dalam rak yang diambilnya sesaat sebelum si Ibu membayar di kasir. Kakak2nya yang lain sudah keluar ke jalan dengan masing2 menjilati es krim.


Anak Kecil Lucu : Tetapi aku mau ini…

Ibu Menggerutu : Apaan sih itu? Itu pena jelek. Balikin lagi ke rak! (kemudian keluar dari toko)


Anak Kecil Lucu itu kembali ke rak tetapi hanya menukar pena yang dia ambil tadi dengan pena yang lain. Pilihan yang bagus, dengan sekilas lirikan, gw tau pena yang ada di tangan dia gak akan “mblobor” kalo dipake. Secepat dia mengganti pilihannya, secepat itu pulalah dia lari keluar toko sambil menggenggam pena baru pilihannya.


Anak Kecil Lucu : Mau beli ini!


Terjadi kehebohan sejenak di luar toko. Kemudian si Ibu beserta Anak Kecil Lucu kembali menuju kasir untuk membayar pena yang diambil si Anak. Biasanya ribut dengan tabiat orang lain yang gak mau ngantri, kali ini gw menyilakan si Ibu untuk bertransaksi dulu.


Ibu Menggerutu : Lain kali kalo rewel kek gini kamu gak Ibu ajak.


Si Anak terlalu sibuk dengan mainan barunya untuk mendengar gerutuan si Ibu.


Anak kecil dan sebuah pena adalah sebuah kombinasi yang jarang, bukan? Tetapi entah knapa si Ibu gak isa ngeliat hal yang menarik ini. Padahal kalo pada waktu upacara nginjek tanah, bayi dalam kurungan ayam yang memegang pena ato pensil akan langsung dihubungkan dengan kecerdasan, kepintaran, maupun kemapanan.


Dengan sebatang pena, mungkin dia bakal isa jadi disainer grafis yang handal esok hari, jika tidak kepincut jadi karyawan perusahaan migas negara. Ato bahkan jadi penulis yang isa menggerakan bangsa, karena sebatang pena itu lebih mempunyai kuasa daripada sebilah pedang. Ato mungkin jadi pelukis yang dapat membuat seluruh dunia menitikkan air mata haru atas karya besarnya, jika saja orang tuanya membiarkan dia mengeksplorasi seluruh permukaan dinding rumah tanpa dijagal atas nama kebersihan dan kerapihan. Ato jadi seorang arsitek, seorang politisi, seorang penggubah puisi ato apa sajalah.


Berkreasilah, Nak. Kamu bisa jadi apapun yang kamu mau.

3 comments:

yogie said...

itu kalo pas tedak seten dy milih pena... lha klo pas itu dy milih laptop atw PC dy bs jd apa??? hehehe...

matahari said...

biasanya kalo milih laptop ato pc jadi sodagar sutra, Pak. hehehehe, dulu Steve Jobs n Bill Gates milih apa yak?

-nyengiiiiirrrr-

Luthvi said...

emang dulu dirimu pas diajak eyang ke mana gitu milihnya pena yah??

aku dulu milihnya apa yah??