Wednesday, September 30, 2009

Take Me Down

Terbangun pukul 5 pagi dan terantuk dengan lagu ini. Sepertinya memang Mellon Collie & Infinite Sadness sangatlah pas membingkai semua perasaan gw.

Take Me Down
(by the Smashing Pumpkins)


take me down, to the underground
won't you take me down, to the underground
why oh why, there is no light
and if i can't sleep, can you hold my life
and all i see is you


take my hand, i lost where i began
in my heart i know all of my faults
will you help me understand


and i believe in you
you're the other half of me
soothe and heal...
when you sleep, when you dream,
i'll be there if you need me, whenever i hear you sing...


there is a sun, it'll come, the sun, i hear them call me down
i held you once, a love that once, and life had just begun
and you're all i see...


and trumpets blew, and angels flew on the other side
and you're all i see, and you're all i'll need
there's a love that god puts in your heart

Wednesday, September 23, 2009

Ayam yang Bagaimana?

Sehari sebelum lebaran, Ibu minta anter ke Pasar Kobong untuk beli ayam sebagai bahan utama bikin opor (nyam nyam – sebelum makan enak emang kudu ada pengorbanan :P) . Favorit Ibu emang pasar yang berjarak tujuh km dari rumah tersebut karena mengingat banyaknya stok ayam kampung yang sehat dan harga yang ekonomis. Ayam kampung selalu dipilih Ibu karena rasanya yang lebih gurih dan dagingnya yang bebas zat pemercepat pertumbuhan.

Tiga ekor ayam kampung berhasil dipilih dan dibeli setelah dilakukan nyang-nyangan (tawar menawar) ala ibu-ibu rumah tangga yang alot dan ayam-ayam tersebut langsung menemui ajalnya tak lama berselang dari akad jual-beli tersebut terjadi, disembelih di tempat jagal ayam tak jauh dari si penjual ayam. Tiga ayam dijual seharga 130k dan jasa sembelih+potong sebesar 4k per ekor.

Dalam perjalanan pulang, ada satu pertanyaan yang terlintas di kepala:

Law : Mamah, emangnya kalau milih ayam itu apanya yang diliat?
Ibu : Ya liat ayamnya, gemuk apa kurus.
Law : Ooo…
Ibu : Terus liat duburnya, teleknya berlendir apa enggak. Jadi tau ayamnya sakit apa enggak.
Ibu : Liat juga warna teleknya putih apa enggak. Kalau warna putih mungkin makannya agak gak sehat.
Ibu : Perhatikan juga lebar duburnya. Kalau duburnya lebar, berarti ayamnya sudah tua. Nah, pilih yang agak muda biar dagingnya empuk.
Law : …


Sisa perjalanan itu gw isi dengan usaha keras melenyapkan gambaran jelas dubur ayam dalam pikiran ini. It’s good tips though. Hasilnya adalah sepanci besar opor ayam yang sangat sedap lezat bin gurih untuk melengkapi hari yang fitri ini.

Nikmaaaaaaaaat…

Monday, September 21, 2009

Kisah Tiga Ekor Ayam

Tahun ini adalah giliran keluarga gw yang ketampuhan nyelenggarain arisan keluarga. Arisan keluarga ini biasanya digelar setelah halal bihalal di hari kedua Idul Fitri. Jadinya Ibu membeli ayam kampung agak banyak menjelang lebaran. Untuk menjaga kesegarannya, Ibu sengaja beli ayam kampung idup untuk disembelih mendekati hari H halal bihalal. Agak kaget juga gw ngeliat tiga ekor ayam ngejogrok pasrah di pojokan dapur. Ayam2 tersebut gw namain Breakfast, Lunch, dan Dinner.

Yang kebayang selanjutnya adalah gimana Dedekecil isa ngelewatin dapur buat ke kamar mandi mengingat trauma masa kecilnya yang bikin dia sangat anti dengan ayam, kecuali dalam keadaan tergoreng atau jadi opor.

Pagi hari tadi, sebelum mata ini bener2 melek, Bapak nyuruh gw ke teras belakang. Tugas yang menanti adalah menyembelih Breakfast, Lunch, dan Dinner. Boohoohooo, selamat jalan Breakfast, Lunch, dan Dinner, gw yakin kalian pasti akan jadi opor ayam yang lezat di tangan Ibu :P

Sunday, September 20, 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

Taqobbalallahu minnaa waminkum shiyamanaa washiyamakum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H, mohon maaf lahir batin. Semoga kita termasuk di antara para pemenang.

NB: sedapnya liburan di rumah *mudik mode : ON!*

Wednesday, September 16, 2009

Just Because

ceritanya lagi YM-an sambil ngabuburit.

temen YM-an: juaanncook!!
ulat_busuk: eh lo puasa batal loooo
ulat_busuk: sana minta minum sama temen sebelah loooo
temen YM-an: apaan?
ulat_busuk: minta es teler aja
temen YM-an: batal apanya
ulat_busuk: lo kagak puasa ya?
ulat_busuk: temen YM-an: juaanncook
temen YM-an: juancook apaan?
temen YM-an: gw kan orang sunda


/sweat. keringet segede jagung kluar di dahi gw.

Saturday, September 12, 2009

Lite Facebook, Kenapa Tidak?

Info tentang “lite facebook” (http://lite.facebook.com) pertama kali gw dapet lewat wall dari seorang temen. Setelah gw coba, ternyata memang lebih cepet. Bahkan memakai koneksi yang tiarap (baca : 6kbps – kbps singkatan dari kembangkempis) kek punya gw ini.

Sekilas selayang pandang, Facebook dan Lite Facebook tampak serupa. Tetapi setelah dicermati, fitur2 yang ada di Lite Facebook tampak tidak selengkap Facebook. Mungkin jika mengingat mahzab “Size does Matter”, ini salah satu resep kenapa Lite Facebook dapat diakses lebih cepat daripada Facebook.

Sebagai contohnya, home Lite Facebook hanya mempunyai 2 kolom saja. Link2 yang saling tumpang tindih (redundant) dihilangkan; home-akses logo, profile-akses nama dll. Alih2 menampilkan request, suggestion, sponsored, highlight, events, dan connect di right side bar, Lite Facebook hanya menampilkan people you may know dan create an add.

Begitu pula pada menu profile, Lite Facebook memangkas banyak sekali fitur2nya. Tidak akan ditemui fitur preview di left side bar seperti friends, I love friends, photos, notes, ataupun links. Fitur standar seperti wall, info, friends, dan photos & video hanya disajikan berupa button yang menggiring pengunjung ke halaman yang dimaksud.

Satu lagi perbedaannya, gw gak menemukan application di Lite Facebook. Jadi sesiapapun yang keranjingan maen Farmville, Mafia Wars, Restaurant City, dll sepertinya harus menahan diri dari godaan game-game yang mengasyikkan tersebut.

Dari beberapa kali percobaan, Lite Facebook dapat memangkas ½ dari waktu akses daripada di situs Facebook itu sendiri. Yummy! Mungkin memang Lite Facebook yang juga bisa diakses dari mobile aplication di ponsel ini hadir untuk memuaskan hasrat dasar dari para Jamaah Fesbukiyah; nulis di wall, comment, upload foto, dan menjalin hubungan dengan para kerabat.

Wednesday, September 09, 2009

Teguhkanlah Iman Teman Saya, Ya Allah

Beberapa jam setelah digoncang gempa, saat menenangkan diri dari kejadian yang mengingatkan pada gempa Jogja tiga tahun lalu, seorang teman menyapa di YM. Tampaknya inisiatifnya berawal dari ngebaca postingan blog gw.

temen YM-an: lo bodoh
temen YM-an: kok samber hape?
temen YM-an: coba samber laptop orang
temen YM-an: pas ada gempa
temen YM-an: atau hape orang
temen YM-an: mentang2 punya iphone
ulat_busuk: hueahuaheuaheauehau
ulat_busuk: kesempatan dalam kesempitan


Saat itu juga gw menengadahkan tangan dan berdoa untuk keselamatannya, dunia dan akhirat. Amieen…

Tuesday, September 08, 2009

Buka Puasa Ars’98 Ramadhan Ini

Jadi begitulah, sesuai dengan hasil polling yang diadakan milis yang dihuni oleh alumni Arsitektur Undip ‘98, kemaren tanggal 5 September 2009 di Senayan City berkumpullah sebagian kawan2 untuk berbuka puasa bersama; Doni+Tita+Kinu, Adrian+DW+Nuna, Ajik+Tera, Rojak, Pendil, Nina+Suami, n Gw+Thikoy.

Karena semuanya dateng kesorean (gw sendiri baru masuk Sency jam 17.30 setelah baku macet di jalan dari Mall Taman Anggrek), walhasil gak dapet tempat di Urban Kitchen. Buka puasa terpaksa dilakukan di Food Hall dulu sembari nunggu sela di Urban Kitchen. Agar gak diusir karena cuma numpang nunggu doang, akhirnya kami memesan 1 porsi spaghetti, beberapa botol air mineral, beberapa macam kemasan buah segar, dan beberapa kaleng Pringles. Kira2 1,5 jam setelah buka dan sholat Magrib secara bergantian, barulah kami isa makan secara layak di Urban Kitchen.

Yang paling menggelikan adalah diantara kami semua yang hadir di forum tersebut, yg memilih Senayan City sebagai tempat berbuka puasa cuma Pendil doang. Huhuhuhu, jadi masih misteri siapa yg milih Sency tapi gak dateng ke sana buat ngeramein acara tersebut. Ada dugaan kalau sebenernya yang memilih Sency adalah kawan2 yang berdomisili di Semarang.

Ini mungkin yang dinamakan “mangan gak mangan sing penting kumpul” atau lebih tepatnya “susah cari tempat mangan gak susah cari tempat mangan sing penting kumpul”.

Wednesday, September 02, 2009

High Rise Building Earthquake Experience

Jam di kolom depan gw hampir menunjukkan jam 15.00. Gw tak tahan buat ngelirik-lirik jam tersebut karena gw kira cukup sudah menahan penatnya beban emosional. Dalam hati gw istighfar, gak mau ibadah puasa hanya jadi sia2 gara emosi sesaat. Di saat sulit membedakan mana rasa lapar dan mana rasa mual karena gejolak psikologis, kaki gw menangkap getaran2 yang ganjil. Secepat itu gw nengok ke arah galon air di sebelah meja. Air dalam galon ternyata bergolak hebat. Secara naluriah gw sadar bahwa gempa sedang menggoyang gedung ini.

Sudah beberapa detik berlangsung, tetapi gempa gak menunjukkan tanda2 berhenti bahkan cenderung semakin kuat. Orang2 di lantai 10 gedung ini juga hanya termangu dan berata satu sama lain bahwa gempa sedang terjadi. Tidak ada yang mengambil inisiatif bahwa ini adalah keadaan darurat.

“Semuanya bergerak ke arah tangga darurat! Ke arah tangga darurat!” gw refleks teriak agar temen2 sekantor untuk evakuasi.


Evakuasi Penghuni Gedung

Gw sambar ponsel di meja dan mulai bergerak turun bersama rombongan dari lantai lain yang ternyata juga melakukan evakuasi lewat tangga darurat. Di dalam tangga darurat pun masih terasa gempa kuat menggoyang gedung ini. Beberapa kali gw ngerasa kehilangan keseimbangan dan kemudian mencoba turun dengan menyender pada dinding agar pijakan tidak goyah. Berusaha menguatkan diri, gw ngomong berulang2 pada diri gw sendiri kalau tangga darurat dibuat dalam core bangunan ini yang merupakan konstruksi paling kuat diantara bagian lain dari gedung ini. Jika ada reruntuhan dari atas pun akan tertahan jaring2 yang dipasang di sisi tangga. Ah, gw gak berpikir untuk mati hari ini.

Semua orang memang berusaha untuk mencari selamat, tetapi mendorong dan menyikut orang dalam evakuasi adalah salah satu tindakan yang membahayakan buat diri orang itu sendiri dan juga bagi orang lain. Ada aja orang yang mau selamat sendiri hingga gak peduli sama orang lain. Seketika itu juga gw inget QS Al Zalzallah. Astaghfirullah, ini hanya gempa kecil, belum kiamat. Betapa egoisnya manusia dalam keadaan seperti ini.

Sesampainya di luar gedung, gw nyariin temen2 selantai dan berusaha untuk nelpon ke rumah ngabarin kalau gw gak apa-apa. Alhamdulillah, adek gw yang sudah di Jakarta beberapa minggu ini juga tak kurang suatu apapun.

Setelah setengah jam menunggu, seorang petugas Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (LK3) memberi pengumuman kalau keadaan sudah aman. Pekerja yang meninggalkan barang2nya di lantai atas boleh naik menggunakan elevator tetapi jika turun hendaknya tetap menggunakan tangga darurat. Secepat itu gw berusaha naik dan mengemasi tas dan tetek bengeknya di meja kerja.

Alhamdulillah, gw, keluarga, dan teman2 masih dalam lindungan Allah. Ikut simpati pada korban2 yang jatuh pada peristiwa ini. Sedikit banyak peristiwa ini bikin gw teringat gempa Jogja tahun 2006 lalu. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah hal’adziem….

Berikut ini adalah beberapa tips yang mungkin berguna pada gempa bumi yang mungkin bermanfaat:
1. Jauhi jendela,
2. Gunakan tangga darurat, jangan pernah gunakan elevator,
3. Jauhi furnitur yang mempunyai beban berat, rak buku, ataupun yang mungkin akan terjatuh,
4. Berlindunglah di bawah furnitur yang kokoh dan tahan furnitur tsb. Jika furnitur bergerak, ikutlah bergerak bersama,
5. Jika tidak bisa berlindung di bawah furnitur, ratakanlah badan ke tembok dan lindungi kepala,
6. Jika ada di ruang terbuka, jauhi bangunan gedung, tiang listrik, dan tumpukan batu bata yang mungkin rubuh,
7. Dalam gedung tinggi, jangan terkejut jika alarm kebakaran atau sprinkler diaktifkan,
8. Jika sedang berkendaraan, berhentilah dan tetap berada dalam kendaraan sampai getaran berhenti. Hindari berhenti dekat pohon, jalur listrik, dan di bawah jembatan layang,
9. Jika di dalam toko, segeralah berlindung. Hindari berhenti pada bagian yang mudah jatuh. Jangan berlari ke arah pintu keluar dan pilih jalur keluar secara teliti.


Sebagai refleksi, gw harus bilang bahwa ternyata antisipasi tindakan2 keselamatan dalam menghadapi gempa bumi belum mendarah daging di negara yang dihimpit oleh Lempeng Eurasia, Lempeng India-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina ini. Sekelumit fakta ini tentunya sudah harus menyadarkan kita bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi besar mengalami gempa.

Sebagai respon terhadap kondisi alam, sebaiknya manusia Indonesia membuat diri mereka sendiri terbuka dalam segala segi informasi tentang apa, mengapa, dan bagaimana menghadapi gempa. Peraturan persyaratan pendirian gedung disesuaikan, SOP untuk daerah bencana dibuat dan kemudian disosialisasikan. Lebih dari itu, menghadapi gempa haruslah menjadi budaya manusia Indonesia. Seperti “orang-orang dulu” di Gayo, Padang, Jawa, Bugis, Lombok, dan serentet suku yang berdiam di Kepulauan Indonesia yang membangun rumah adat tanpa paku serta seperti tradisi “smong” di Pulau Simeuleu yang mengajarkan penduduknya mendaki perbukitan begitu merasakan getaran gempa.

Jadi gak perlu alergi dengan yang namanya kearifan lokal, bukan?