Wednesday, September 23, 2009

Ayam yang Bagaimana?

Sehari sebelum lebaran, Ibu minta anter ke Pasar Kobong untuk beli ayam sebagai bahan utama bikin opor (nyam nyam – sebelum makan enak emang kudu ada pengorbanan :P) . Favorit Ibu emang pasar yang berjarak tujuh km dari rumah tersebut karena mengingat banyaknya stok ayam kampung yang sehat dan harga yang ekonomis. Ayam kampung selalu dipilih Ibu karena rasanya yang lebih gurih dan dagingnya yang bebas zat pemercepat pertumbuhan.

Tiga ekor ayam kampung berhasil dipilih dan dibeli setelah dilakukan nyang-nyangan (tawar menawar) ala ibu-ibu rumah tangga yang alot dan ayam-ayam tersebut langsung menemui ajalnya tak lama berselang dari akad jual-beli tersebut terjadi, disembelih di tempat jagal ayam tak jauh dari si penjual ayam. Tiga ayam dijual seharga 130k dan jasa sembelih+potong sebesar 4k per ekor.

Dalam perjalanan pulang, ada satu pertanyaan yang terlintas di kepala:

Law : Mamah, emangnya kalau milih ayam itu apanya yang diliat?
Ibu : Ya liat ayamnya, gemuk apa kurus.
Law : Ooo…
Ibu : Terus liat duburnya, teleknya berlendir apa enggak. Jadi tau ayamnya sakit apa enggak.
Ibu : Liat juga warna teleknya putih apa enggak. Kalau warna putih mungkin makannya agak gak sehat.
Ibu : Perhatikan juga lebar duburnya. Kalau duburnya lebar, berarti ayamnya sudah tua. Nah, pilih yang agak muda biar dagingnya empuk.
Law : …


Sisa perjalanan itu gw isi dengan usaha keras melenyapkan gambaran jelas dubur ayam dalam pikiran ini. It’s good tips though. Hasilnya adalah sepanci besar opor ayam yang sangat sedap lezat bin gurih untuk melengkapi hari yang fitri ini.

Nikmaaaaaaaaat…

3 comments:

neng oCHa said...

oooohhh, jadi sebelum makan ayam itu mas law memperhatikan duburnya *ayam* terlebih dahulu, tho??

matahari said...

heuahuehau, iya lah. brutu kan paling assssoooyyy...

anza said...

makanya tes kesehatan sebelum masuk kerja juga dilihat duburnya..