Wednesday, September 02, 2009

High Rise Building Earthquake Experience

Jam di kolom depan gw hampir menunjukkan jam 15.00. Gw tak tahan buat ngelirik-lirik jam tersebut karena gw kira cukup sudah menahan penatnya beban emosional. Dalam hati gw istighfar, gak mau ibadah puasa hanya jadi sia2 gara emosi sesaat. Di saat sulit membedakan mana rasa lapar dan mana rasa mual karena gejolak psikologis, kaki gw menangkap getaran2 yang ganjil. Secepat itu gw nengok ke arah galon air di sebelah meja. Air dalam galon ternyata bergolak hebat. Secara naluriah gw sadar bahwa gempa sedang menggoyang gedung ini.

Sudah beberapa detik berlangsung, tetapi gempa gak menunjukkan tanda2 berhenti bahkan cenderung semakin kuat. Orang2 di lantai 10 gedung ini juga hanya termangu dan berata satu sama lain bahwa gempa sedang terjadi. Tidak ada yang mengambil inisiatif bahwa ini adalah keadaan darurat.

“Semuanya bergerak ke arah tangga darurat! Ke arah tangga darurat!” gw refleks teriak agar temen2 sekantor untuk evakuasi.


Evakuasi Penghuni Gedung

Gw sambar ponsel di meja dan mulai bergerak turun bersama rombongan dari lantai lain yang ternyata juga melakukan evakuasi lewat tangga darurat. Di dalam tangga darurat pun masih terasa gempa kuat menggoyang gedung ini. Beberapa kali gw ngerasa kehilangan keseimbangan dan kemudian mencoba turun dengan menyender pada dinding agar pijakan tidak goyah. Berusaha menguatkan diri, gw ngomong berulang2 pada diri gw sendiri kalau tangga darurat dibuat dalam core bangunan ini yang merupakan konstruksi paling kuat diantara bagian lain dari gedung ini. Jika ada reruntuhan dari atas pun akan tertahan jaring2 yang dipasang di sisi tangga. Ah, gw gak berpikir untuk mati hari ini.

Semua orang memang berusaha untuk mencari selamat, tetapi mendorong dan menyikut orang dalam evakuasi adalah salah satu tindakan yang membahayakan buat diri orang itu sendiri dan juga bagi orang lain. Ada aja orang yang mau selamat sendiri hingga gak peduli sama orang lain. Seketika itu juga gw inget QS Al Zalzallah. Astaghfirullah, ini hanya gempa kecil, belum kiamat. Betapa egoisnya manusia dalam keadaan seperti ini.

Sesampainya di luar gedung, gw nyariin temen2 selantai dan berusaha untuk nelpon ke rumah ngabarin kalau gw gak apa-apa. Alhamdulillah, adek gw yang sudah di Jakarta beberapa minggu ini juga tak kurang suatu apapun.

Setelah setengah jam menunggu, seorang petugas Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (LK3) memberi pengumuman kalau keadaan sudah aman. Pekerja yang meninggalkan barang2nya di lantai atas boleh naik menggunakan elevator tetapi jika turun hendaknya tetap menggunakan tangga darurat. Secepat itu gw berusaha naik dan mengemasi tas dan tetek bengeknya di meja kerja.

Alhamdulillah, gw, keluarga, dan teman2 masih dalam lindungan Allah. Ikut simpati pada korban2 yang jatuh pada peristiwa ini. Sedikit banyak peristiwa ini bikin gw teringat gempa Jogja tahun 2006 lalu. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah hal’adziem….

Berikut ini adalah beberapa tips yang mungkin berguna pada gempa bumi yang mungkin bermanfaat:
1. Jauhi jendela,
2. Gunakan tangga darurat, jangan pernah gunakan elevator,
3. Jauhi furnitur yang mempunyai beban berat, rak buku, ataupun yang mungkin akan terjatuh,
4. Berlindunglah di bawah furnitur yang kokoh dan tahan furnitur tsb. Jika furnitur bergerak, ikutlah bergerak bersama,
5. Jika tidak bisa berlindung di bawah furnitur, ratakanlah badan ke tembok dan lindungi kepala,
6. Jika ada di ruang terbuka, jauhi bangunan gedung, tiang listrik, dan tumpukan batu bata yang mungkin rubuh,
7. Dalam gedung tinggi, jangan terkejut jika alarm kebakaran atau sprinkler diaktifkan,
8. Jika sedang berkendaraan, berhentilah dan tetap berada dalam kendaraan sampai getaran berhenti. Hindari berhenti dekat pohon, jalur listrik, dan di bawah jembatan layang,
9. Jika di dalam toko, segeralah berlindung. Hindari berhenti pada bagian yang mudah jatuh. Jangan berlari ke arah pintu keluar dan pilih jalur keluar secara teliti.


Sebagai refleksi, gw harus bilang bahwa ternyata antisipasi tindakan2 keselamatan dalam menghadapi gempa bumi belum mendarah daging di negara yang dihimpit oleh Lempeng Eurasia, Lempeng India-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina ini. Sekelumit fakta ini tentunya sudah harus menyadarkan kita bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi besar mengalami gempa.

Sebagai respon terhadap kondisi alam, sebaiknya manusia Indonesia membuat diri mereka sendiri terbuka dalam segala segi informasi tentang apa, mengapa, dan bagaimana menghadapi gempa. Peraturan persyaratan pendirian gedung disesuaikan, SOP untuk daerah bencana dibuat dan kemudian disosialisasikan. Lebih dari itu, menghadapi gempa haruslah menjadi budaya manusia Indonesia. Seperti “orang-orang dulu” di Gayo, Padang, Jawa, Bugis, Lombok, dan serentet suku yang berdiam di Kepulauan Indonesia yang membangun rumah adat tanpa paku serta seperti tradisi “smong” di Pulau Simeuleu yang mengajarkan penduduknya mendaki perbukitan begitu merasakan getaran gempa.

Jadi gak perlu alergi dengan yang namanya kearifan lokal, bukan?

7 comments:

M. Taufiq Aryanto said...

ikut bersyukur Anda selamat... ceritanya seru tuh,...

matahari said...

alhamdulillah semuanya dilindungi Allah SWT

anza said...

kalo gw sih samber laptop orang trus lari ke bawah..

iBloggered said...

[...]Ketika Gempa, Jangan Turun Lewat Tangga - Saat terjadi gempa, biasanya warga Jakarta yang berada di gedung-gedung pencakar langit langsung berhamburan menuju tangga darurat untuk turun ke halaman. Kebiasaan ini ternyata tidak benar. Sebab, tangga adalah bagian dari gedung yang paling tidak tahan gempa alias paling mudah runtuh[...]

matahari said...

@ anza : watak orang emang susah berubah :D

@ iblogger : terima kasih telah mengingatkan. slab lantai juga yg paling rentan, bukan?

latree said...

alhamdulillah selamat...

escoret said...

kenapa info telad ya..???