Saturday, October 24, 2009

Para Penyerobot Antrian: Komplain atau Tidak?

Poffertjes

Malam itu gw berada di dalam antrian untuk ngambil es krim poffertjes di pesta kawinan anak orang kantor. Menghadapi masalah yang sama di manapun dalam keadan seperti ini, para penyerobot antrian.

Tau2 ada segerombolan anak2 berseragam pager ayu seumuran ponakan gw yang kelas 6 SD atau SMP yang jejer di sebelah gw dan merangsek terus ke depan. Gw berusaha ngingetin dengan ngomong kalau mau antri sebaiknya dari belakang. Tetapi Si Pager Ayu yang paling depan melengos dengan tampang jutek bilang bahwa apa yang mereka lakukan adalah mengantri juga.

Pendekatan yang gw pake dalam sistem antrian adalah siapa yang datang duluan dapat pelayanan duluan. Gak liat lo orang dewasa maupun junior yang sedang menapak dewasa. Kalau orang dewasa yang melakukan serobotan, gw nilai orang tersebut gagal dalam mengerti sistem dan tatanan sosial. Dalam hal ini, gw curiga bahwa Para Penyerobot Antrian Poffertjes (PPAP) tersebut merupakan buah dari orang2 yang gagal dalam mengerti sistem dan tatanan sosial tersebut.

Buah? Yup, karena dalam belajar, meniru adalah bentuk yang paling gampang memberikan pengaruh. Kalau anak sulit tidur karena anak kepengen nonton sinetron, mungkin ada baiknya orang tua matiin tivi yang isinya sinetron buat ngelonin anak2. Kalau anak2 sulit belajar karena pengen nonton film kartun di tivi, mungkin ada baiknya orang tua ikutan baca atau (kalau mungkin) ikutan belajar alih-alih nonton infotainment. Kalau anak suka nyampah di mana2, mungkin sebaiknya orang2 dewasa di sekitarnya mulai menyimpan semua sampah di tempatnya. Dan seterusnya dan seterusnya.

Intinya adalah, PPAP tersebut mengamati bahwa menyerobot antrian adalah hal yang lumrah karena orang2 dewasa di sekitar mereka melakukan hal tersebut dan baik2 saja dengan sistem seperti itu. Tidak ada kontrol yang membuat mereka berpikir bahwa keseimbangan antara hak dan kewajiban merupakan cara menemukan keselarasan dalam kehidupan sosial.

Yang lebih trenyuh adalah ketika kantor gw bikin acara buka puasa bersama anak2 yatim Ramadhan silam. Seorang penyerobot antrian dewasa entah dari mana datang sok2an akrab dengan barisan tepat di depan gubuk nasi campur. Setelah itu dengan tangkas dia ngambil piring dan langsung ambil nasi campur dengan meninggalkan gondok di leher pengantri lainnya. Keberatan terbesar gw bukanlah karena gw dilangkahin, tetapi di antrian belakang gw banyak anak2 dari panti asuhan yang sedang tertib mengantri. Tidak hanya gagal dalam mengerti sistem dan tatanan sosial, tetapi juga dzalim terhadap anak2 yatim. Acara tersebut ada karena anak2 tersebut, for God sake!

Budaya tertib antri sepertinya masih jauh dari ideal. Tetapi mungkin jika dimulai dari diri sendiri dan kemudian ditularkan kepada orang lain, budaya beradab tersebut akan dapat menjadi jati diri manusia Indonesia.


foto poffertjes diambil dari sini


Share on Facebook

5 comments:

Latree said...

dulu waktu kecil, kalo beli sarapan di warung aku sering gondok karena diserobot antrianku oleh ibu-ibu. ngga peduli waktu itu aku masih SD, aku mbengok. si Ibu bilang dia harus buru2 selak ngantor. kataku 'saya juga buru2 selak sekolah'

tadinya kupikir semua bakaln begitu kalo udah jadi ibu2. alhamdulillah (insya allah) walaupun udah jadi ibu2 aku tetap menghormati antrian

yang tidak mau antri? aku tidak segan menegur...

lawni said...

iya, mbak. Para penyerobot antrian emang menyebalkan :P

wak reini said...

waktu itu wak masih jadi teller. Untuk menyadarkan para pengantri, dipasanglah stiker bebek ngantri dg anak2nya. Klo ada yg nyerobot, langsung yg disrobot teriak : Hee, mas ayo ngantri.Bebek ae ngerti antri, mosok uwong gak iso antri. Si penyerobot mukanya langsung merah padam, malu & terpaksa ngantri.

matahari said...

iya, wak. saya pernah lihat stiker/gambar bebek ngantri di beberapa tempat :D bebek ae isa ngantri :P

didut said...

hmm....tragis memang budaya antri, buang sampah pada tempatnya gagal diterapkan pada anak-anak. Padahal ini budaya yang paling simpel untuk dilakukan