Sunday, December 27, 2009

Putu dan Putu


Lihat Senyuman Mereka

Fuuuuuuuuuuuu…

Bunyi nyaring uap panas yang terlepas dari kaleng bekas biskuit memaksaku menoleh ke arah pintu depan. Penjual kue putu sedang beraksi tepat di depan halaman rumahku. Yang membuat kesempatan itu menjadi spesial adalah kehadiran lima anak balita yang mengerumuni tukang kue putu. Bukannya tanpa alasan mereka tampak sangat senang berkumpul di sekitar tukang kue putu. Mereka berkerumun tak lain tak bukan adalah karena dikumpulkan oleh Bapak. Senyum lebar mereka terpancar disertai dengan pertunjukan gigi-gigi mereka yang sebagian digerogoti oleh permen berpewarna dan berbahan pengawet, “gigis”.

Kesenangan anak-anak tadi berlipat-lipat. Bukan hanya saja asyik melihat Tukang Putu menunjukkan kebolehannya mengolah tepung dalam tabung bambu yang tengahnya disusupi sekerat gula jawa, mereka juga masing-masing dijanjikan mendapat jatah satu atau dua kue putu yang dicukongi oleh Bapak. Bahkan seorang anak yang semula menolak tak kuasa menampik pesona kue putu gratisan.

Setelah kue putu panas tersaji lengkap dengan taburan parutan kelapa tua yang gurih, sebuah pembagian yang adil dilakukan di antara mereka. Pasukan cilik tersebut langsung membubarkan diri dengan membahanakan “Terima kasih, Eyang!” sekenanya tanpa komando.

Bapak dan Putu

Perlahan aku cerna adegan ini: Bapak membeli kue putu untuk anak-anak yang memanggilnya Eyang. Akan menjadi lebih shahih kalau mereka juga disebut “putu”, cucu.

Alamakjang, bagi lajang sepertiku, hal ini adalah sebuah pertanda!


Share

Saturday, December 26, 2009

Perjalanan Baru


Istiqlal di Depan Mata

Pendingin ruangan di kantor ini seakan menggigit sampai ke tulang sungsum. Usahaku menghangatkan diri dengan membenamkan kedua tanganku ke dalam saku celana tampaknya sia-sia. Pergumulan antara tanganku yang beku, lipatan amplop, rentengan anak kunci, dan ponsel di dalamnya tidak sedikit pun dapat membantu. Hampir menyerah, aku tarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Memang tidak berhasil menaikkan suhu tubuh, tetapi dingin yang beberapa saat lalu mendekam di hatiku berhasil aku usir.

Dari jendela lantai 10 kantor ini aku lihat awan hujan bersekutu bergumpal-gumpal seperti kembang gula arum manis sedang dikumpulkan dalam sebuah panci pasar malam. Hanya yang ini jauh dari warna merah muda, rasa manis, dan menyenangkan bagi yang memakannya. Melihatnya saja membuat perutku merasa mulas.

Beberapa larik sinar matahari sore kekuningan yang berhasil membebaskan diri dari belenggu arum manis kelabu itu membuat dinding Masjid Istiqlal di depanku memantulkan aura keemasan. Kontras dengan keadaan redup yang sedang terkumpul di penghujung tahun.

Demi melihat hamparan pemandangan tersebut, aku teringat seseorang pernah bilang bahwa arsitektur itu adalah “frozen music”, musik yang membeku. Aku seperti melihat konser Johan Sebastian Bach yang dibumbui oleh aroma keelokan surgawi.

Betapa tidak? Blok masif bangunan utama dipecah oleh garis-garis lurus yang kuat tetapi dilembutkan oleh lengkung kubah yang diusungnya seolah-olah mejadi intro konser. Dak atap selasar yang pejal diselaraskan oleh kolom-kolom kotak yang membuat bingkai rapi sebagai chorus. Tangga melingkar yang tersembunyi di balik menara adzan membuat aksen spiral yang sedikit demi sedikit membawa musik ke tempo yang semakin cepat dan akhirnya permainan tata cahaya surgawi menyambut akhir dari perjalanan konser musik tersebut.

Kukeluarkan tangan kananku dari kantong celana dan meletakkan telapak tanganku lurus-lurus ke depan kaca jendela. Alih-alih dapat menyerap pemandangan yang menakjubkan tersebut dengan indera peraba, aku cuma menambah rasa dingin yang ternyata disimpan oleh kaca jendela sedari tadi pagi.

Aku memang ingin menyimpan semua pemandangan itu dalam lipatan kenangan seperti lipatan-lipatan koran yang bertumpang tindih di meja kerjaku. Karena pemandangan inilah yang mungkin tidak akan aku lihat lagi dalam waktu yang lama.

Di antara profesionalisme yang mati-matian aku jaga, mungkin inilah kali pertama kalinya aku melamun pada jam kerja. Melamun tentang beberapa kilasan kenangan yang terekam oleh dinding dan langit-langit kantor ini, berseling dengan rasa rakus ingin menjejalkan apa yang masih bisa aku lihat sekarang, dan ketakutan-ketakutan tentang apa yang mungkin akan terjadi. Semuanya berdesak-desakan tumpang tindih walaupun mungkin sumber dari semua itu tersusun rapi dalam amplop dalam kantong celanaku.

Di dalam amplop tersebut berisikan tiga lembar kertas; surat keputusan mutasi, surat perjalanan dinas tak kembali, dan tiket satu arah ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Rapi jali, semuanya sudah diatur dari siapa yang akan mengantar kepergianku ke bandara, siapa yang akan menjemput ketika mendarat nanti, bahkan fasilitas kendaraan dan rumah dinas pun tampaknya telah dipersiapkan. Tetapi kenapa hati dan kepalaku masih simpang siur juga?

Mutasi bukan hal baru dalam sejarah karierku. Aku pernah ditempatkan di Jogja selama tiga tahun untuk kemudian dimutasi ke Surabaya. Belum genap satu tahun di Kota Pahlawan, aku dimutasi ke Jakarta untuk memperkuat Kantor Pusat sampai dengan sekarang. Dua tahun di Jakarta berlalu sangat cepat, terhisap pusaran kebisingan di antara keangkuhan gedung-gedung tinggi dan kesombongan segenap penghuninya.

Tetapi mutasi 18° ke arah Timur berarti meninggalkan Pulau Jawa. Pulau tempat aku berjuang untuk bertahan hidup selama ini. Tempat Bapa dan Biyung menunggu kabar dari putra-putra mereka yang jarang mengisi energi di kota tempat mereka dilahirkan, Semarang. Tepi luar sebelah tenggara kepulauan Indonesia tampaknya cukup jauh untuk dijangkau oleh daya nalar sederhana mereka. Ataukah ternyata akulah yang mempunyai nalar yang sederhana?

Lima tahun kuliah di universitas negeri di Semarang dengan IPK di atas rata-rata ternyata tidak lantas membuatku berpikir bahwa mutasi ini adalah sebuah kesempatan emas. Kenyamananku di Jakarta membuat nalarku “cupet”, sempit. Mimpiku yang tergantung besaput sarang laba-laba untuk melanjutkan belajar di luar negeri tentunya tidak bakal bisa aku dapatkan selama aku ngendon di Tanah Jawa. Kupang adalah kesempatanku belajar segenap arti kemandirian. Dorongan dari Bapak yang terdengar bangga ketika aku punya kesempatan untuk melihat bagian timur Indonesia seharusnya langsung melecut semangatku kuat-kuat.

Kembali kuhela nafas panjang. Wejangan dari Bapak kesimpan menjadi inti titik api. Pelan-pelan kuatur hatiku menjadi sekam kering. Agar kelak, api kecil itu akan menjadi api yang menyala berkobar-kobar.


Share

Tuesday, December 22, 2009

Paint it Black

Untuk hari ini, blog ini akan berwarna hitam.


Share

Thursday, December 17, 2009

Petualangan Baru di Pulau Timor

Hari ini hari pertama kali kerja setelah menginjakkan kaki di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Banyak masalah dan pekerjaan yg pending dan harus segera dikerjakan. Semoga tetap sabar, tabah, semangat, dan senantiasa dilindungi oleh-Nya.

Amien.


Share

Saturday, December 05, 2009

Good Morning Sunshine, the Earth Says “Hello!”

Bangun pagi-pagi karena ada telpon dari Bapak – Ibu yang nanyain kenapa semingguan ini gw gak telpon ke rumah. Sudahkah seminggu? Aduh, sepertinya memang sudah seminggu sejak terakhir gw telpon rumah. Lebih tepat kalau kala itu adalah sebelum gw mau take off dari Semarang. Ternyata sehabis itu gw gak pernah telpon kalau udah landing sampe sekarang ya, Mah? Huhuhu, iya deh, Mamahku yang paling cantik seduniaaaaa. Lain kali anakmu yang “mbeling” ini akan lebih rajin nelpon ke rumah (brapa kali udah janji kek gini ya? :P).

Koneksi telepon diputus. Kesepian itu kembali menggenangi hati.

Heeeh, lupakanlah masalah rutinitas sejenak. Hari ini gw dan Si Kecil mau jalan ke Ambasador. Mau liat barang2 yang sekiranya isa diangkut. Si Kecil kepengin tas warna hitam agar gampang matching sama koleksi wardrobe-nya dan gw kepengin CD dorama Jepang atau anime (udah kekurangan stok) plus barang2 elektronik yang tampak menggiurkan. Yang ada di kepala sih mau beli external hardisk yang 300 GB :P huahahaha, buat bakal nyimpen apaan ya? Padahal di kos udah ada yang 250 GB. Kalau dituruti, kemauan orang itu emang ga ada habisnya.

Tadi malam memang malam yang melelahkan buat gw dan Si Kecil. Gak cuma emang lelah menumpuk selama satu minggu, tetapi mungkin juga ditambah dengan kekhawatiran2 tentang masa yang akan datang. Malam yang kami lewatkan di beranda depan kosannya mengingatkan kembali tentang point of no return dan deadline yang telah kami tentukan setelah sepakat untuk melangkah lebih jauh. Yang mungkin akan menjadi ujian terakhir untuk memenuhi target tersebut adalah jarak sejauh 18° Bujur Timur yang memisahkan kami. Janji kami pun setidaknya harus melewati dua zona waktu Indonesia hanya untuk bertemu. Gw harus menegakkan layar melawan tiupan Angin Barat yang mengembusku sampai ke ujung tenggara Nusantara ini hanya untuk merasakan hangat dekap kasihnya.

Purnama ketujuh dan angka 101010 mendadak menjadi sangat penting untuk kami. Saat-saat seperti inilah jabat erat dan doa para sahabat merupakan hal yang kami perlukan.

Untuk Pelangi Kecil yang menanti Matahari Timur, sebuah lagu didendangkan untuk menemanimu. Lagu yang sama yang dinyanyikan seseorang di pantai pulau tenggara beratap langit gemintang. Semoga cinta kita dapat bersanding untuk menikmati sepotong sinar mentari dan secangkir teh di beranda sebuah gubuk yang kita sebut rumah.

Empty-armed and half a soul to go

And all I wanted was you here next to me
A little sunshine and sympathy

Now everybody knows
That I've been hanging down so low
'Cause now I'm feeling up
Soon I'll be feeling out so cold
Wondering, will you call
And now I'm feeling high
Soon I'll be feeling left for dead
Sometimes someone saying yes
Changes what you'll bet

And all I wanted was just to hold you close
A little sunshine just to butter my toast
And your love next to mine

I had to let you know
That we were meant to be just right
Heaven sent, not sympathized
By everybody's lie
And now I'm feeling high
Now I'm feeling left so dead
Kicking up the dust in bed
Wondering, I guess

Sunshine, sunshine, sunshine
And some tea

And your love, your love
Your love next to mine

I had to let you know
I had to let you go so I
Could see my lie fade from your eyes
And to my surprise

That's what I wanted, it's all I wanted
It's what I wanted, me and you

Sunshine, sunshine, sunshine
And some tea

That's all I wanted, it's all I wanted
That's all I wanted, it's all I wanted


Lirik "El Sol" oleh Zwan,
Diambil dari
www.azlyrics.com.

Share

Wednesday, December 02, 2009

Me & My Big Mouth

Melati and I found our self chatting in the corner of the table when Mr Manager took the whole employees for a birthday treat. It was not a proper place to talk, but I was so disturbed by the situation at the office. I have got to talk to human being or otherwise I could explode.

Matahari : ….in that case, I think that’s not a proper way to reassign someone to other region.
Melati : Yess, I agree, Mas.

Both of us had our silence. Rethinking about what a b#tch life can be when suddenly someone said…

Mawar : Who’s going to be reassigned?

Mawar who was sitting next to Melati eavesdropped us.

Matahari : Umm, apparently I was not talking to you, Mbak. So, it means “Sorry, it is none of your business.”
Mawar : Woooaaaaaah, you are so cruel, Mas.
Matahari : Well, when I’m not talking to you doesn’t mean that I am cruel, does it?

The moral of the story is, stay focus with your meal. It’s a finger licking “Medan Baru” steamed fish head, for God sake!!


Share on Facebook