Wednesday, January 27, 2010

Mari Kita Smurf Sarsaparilla

Have a Happy Smurf Day

Sore itu saya dan seorang teman berbelanja keperluan dapur di Mall Flobamora setelah makan malam. Tak lengkap rasanya kalau sudah susah payah ke mall kebanggaan masyarakat Kota Kupang tetapi tidak mengunjungi bagian minuman ringan. Dari segala pilihan merek dari yang telah lama malang melintang di jagad minuman ringan berkarbonasi sampai teh buatan lokal, pilihan saya jatuh kepada minuman berkarbonasi bercita rasa sarsaparilla yang dikemas dalam kaleng warna coklat. Menurut lidah saya, rasa sarsaparilla inilah yang paling berasa mantap daripada minuman berkarbonasi lainnya di samping faktor perbedaan harga yang mencolok di antaranya.

Selagi tangan sedang mengambil kaleng kedua untuk saya masukkan ke keranjang belanjaan, teman saya bertanya.

“Minuman apa itu, Boss? Emang enak, ya?”

Ada jeda sejenak sebelum akhirnya saya menjawab pertanyannya.

“Ini minuman sari sarsaparilla, Pak Boss. Produsennya sepertinya mempekerjakan para Smurf untuk membuat minuman kaleng ringan berkarbonasi ini. Mereka mengupah para Smurf dengan sangat murah!!”

“Mari kita smurf saja minuman ini.”



Share

Thursday, January 21, 2010

Pasar Tradisional, Kenapa Tidak?

Karena tersedianya dapur di rumah dinas yang bisa saya akses 100% selama 24/7, hobi memasak saya dengan kreatifitas yang kadang agak berlebihan itu bisa bebas merdeka tersalurkan. Cumi masak hitam dan tahu petis adalah contoh prestasi dalam mengolah bahan-bahan lokal di dapur kecil tersebut. Kekayaan Bumi Timor menurut saya sayang kalau dilewatkan untuk diolah menjadi sajian yang sedap dan sehat. Untuk beberapa alasan, saya memilih untuk berbelanja bahan-bahan tersebut di pasar tradisional.

  1. Lengkap,

Dari jinten, pala, merica, jahe, lengkuas, salam, laos, sandal jepit, telur ayam kampung, telur ayam ras, dan sebagainya tersedia lengkap. Hanya saja membutuhkan kejelian kita untuk mencari di antara tumpukan-tumpukan barang dagangan. Tak jarang saya menemukan kejutan berupa barang yang tidak disangka akan saya temui di hamparan dagangan,

  1. Tawar-menawar + Murah,

Tawar menawar bukan barang tabu. Ajak ngobrol dulu sebentar mengenai seputar barang dagangannya dan puji sedikit maka kemungkinan harga akan dapat “digoyang”,

  1. Bahan-bahan segar,

Perputaran di pasar tradisional yang cepat akan menjaga kesegaran barang dagangan yang dijual. Tetapi tak jarang juga terdapat barang yang tak layak konsumsi terselip. Sekali lagi kejelian konsumen memang harus diuji. Tetapi inilah seni dari berbelanja, memilih dan memilah barang,

  1. Cukup dengan kebutuhan,

Barang yang dijual hampir selalu dapat sesuai dengan keinginan pembeli. Jadi kalau butuh tepung terigu setengah kilo, si pedagang akan langsung menakar setengah kilo. Konsumen tidak akan terpapar dengan “Wah, ukuran yang segitu tidak tersedia.” Selalu ada mufakat untuk menyelesaikan akad dagang.

  1. Minimal aktifitas antri,

Hampir tidak terdapat antrian pada setiap lapak di pasar. Hal ini disebabkan oleh cepatnya pemilihan barang yang langsung disusul oleh transaksi sehingga barang yang dibeli tidak terakumulasi sehingga bottle necking di kasir.

  1. Dapat bonus,

Ini bagian yang paling saya suka. Setelah beberapa kali berbelanja di pasar tradisional, saya selalu mendapatkan kejutan berupa bertambahnya barang pembelian saya. Untuk sekali pembelian, bisa saja si pedagang menyelipkan bayam, beberapa butir kentang, atau bahkan menambahkan wortel besar. Sebagai contoh, pada kali terakhir saya belanja di Pasar Oebobo untuk membeli tempe, cabe, telur ayam kampung, dan tepung terigu seharga Rp 23.500,-, saya menemukan sebutir jeruk nipis, sebatang wortel, dan ekstra cabe dengan harga ditaksir sebesar Rp.7.000,- dalam plastik belanjaan. Yang membuat saya kagum adalah bisnis retail sehat seperti apa yang bisa menambahkan bonus produk sampai 30% harga pembelian?

Saya tidak mengetahui dan tidak bisa membayangkan sampai kapan pasar-pasar tradisional ini terus akan bertahan menghadapi gempuran pasar-pasar modern. Romantisme seperti tersebut yang tidak akan didapat dari berbelanja pada peritel raksasa.

Target selanjutnya adalah jalan-jalan di pasar daging. Membuat sate sepertinya enak untuk mengusir rasa dingin musim penghujan ini. Karena sate-satean di Kupang hanya cukup mengingatkan pada sate laler di pelataran Benteng Vrederburg, Malioboro.


Share

Tuesday, January 19, 2010

Tempe Itu

Di tempat penugasan saya yang baru ini, saya diberi fasilitas berupa mobil dinas lengkap dengan sopirnya, Pak Yo (bukan nama sebenarnya :D). Pak Yo ini adalah orang Pulau Lembata yang sudah merantau sampai ke Malaysia tetapi akhirnya memilih untuk bekerja di Kupang. Berdasarkan resumenya tersebut, saya kira dia sudah punya banyak sekali pengalaman. Tetapi pengalaman sore ini membuat saya mengevaluasi penilaian saya tersebut.

Sore hari setelah bubaran kantor, saya dan seorang teman kantor sepakat untuk pergi ke Pasar Oebobo. Salah satu pasar tradisional yang sering kami kunjungi karena di pasar tersebut ada penjual yang sudah menganggap kami langganan. Sehingga sering kali dia memberikan bonus tak terduga pada belanjaan kami.

Sore itu saya memutuskan untuk membeli tepung terigu, telur, cabe, dan tempe. Karena saya berencana untuk membuat tempe mendoan Banyumasan. Kangen kampung halaman memang sangat susah diobati dan memasak makanan tradisional adalah salah satu cara terbaik untuk meringankan deritanya.

“Mama, berapa harga tempenya?” saya mengambil tempe berbentuk kotak sebesar lengan yang terbungkus daun pisang.

“Lima ribu sa.” ‘Sa’ adalah dialek lokal yang merupakan bentuk pendek dari kata ‘saja’.

“Ok, saya ambil yang ini sa.” Sebelum tempe saya letakkan di dekat Ibu Penjual, Pak Yo tiba-tiba ikutan memegang tempe.

“Pak Boss, mending ngambil tempe yang lain.”

“Lho, kenapa?”

Pak Yo membuka sedikit ujung bungkusan daun pisang. “Ini nih, tempenya sudah jelek. Sudah berjamur.”

Dari ujung bungkusan daun pisang yang terbuka, terlihatlah jamur telah menyelimuti bulir-bulir kedelai. Warnanya putih dengan beberapa bercak yang berwarna abu-abu, warna sempurna untuk Rhizopus oryzae yang sudah siap untuk dikonsumsi.

“Umm, Pak Yo udah pernah lihat tempe, kan?”


Share

Sunday, January 10, 2010

Apa yang Mereka Rayakan?

Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang orang-orang rayakan ketika pergantian tahun terjadi. Menurut saya, meniup terompet dan membakar kembang api atau petasan di tengah malam buta adalah tindakan yang sama sekali tidak bermanfaat. Terjadinya kerusuhan hanya karena bersenggolan sesama penonton hiburan dangdut setelah menenggak sedikit alkohol adalah sesuatu yang absurd.

Sebagai gambaran, suatu kabupaten menyiapkan 4.000 buah kembang api untuk “memeriahkan” pergantian tahun. Jika sebuah kembang api dibeli dengan harga Rp. 45.000,00, maka dana sebesar Rp. 180.000.000,00 (belum termasuk teknisi dan tukang pasang kembang api) habis dibakar hanya dalam waktu setengah jam.

Artinya seorang penjual telur ayam kampung yang mendapatkan untung sebesar 500 perak per butir harus menjual setidaknya 360.000 butir telur untuk mendapatkan “dana kemeriahan tahun baru” tersebut. Jika dia hanya mampu menjual 100 butir tiap harinya, maka dia harus bekerja 3.600 hari untuk mengumpulkan uang sebesar itu. Bagian yang absurd bagi saya adalah bagaimana mungkin seseorang menghabiskan hasil dari 10 tahun kerja dalam setengah jam? Bagian mana yang harus dirayakan?

Rp. 180.000.000,00 adalah 18.000 kg bubur kacang hijau jika per kg-nya seharga Rp. 10.000,00. Jumlah tersebut merupakan 360.000 mangkuk bubur kacang hijau jika tiap 300 gr-nya dapat disajikan untuk 6 orang. Artinya, 1.000 bayi bisa mendapat tambahan gizi setiap harinya sepanjang tahun. Ironisnya, pilihannya tidak jatuh kepada kesempatan generasi bangsa ini untuk mendapat kesempatan yang lebih baik.


Share

Wednesday, January 06, 2010

Thirtysomething

Judulnya sih Twentysomething. Tapi kalau mau kontekstual sama tanggal 1 Januari 2010, maka harusnya jadi thirtysomething. Mari menyanyi bersama Jamie Cullum.


After years of expensive education

A car full of books and anticipation

I'm an expert on Shakespeare and that's a hell of a lot

But the world don't need scholars as much as I thought

Maybe I'll go traveling for a year

Finding myself, or start a career

I could work for the poor, though I'm hungry for fame

We all seem so different but we're just the same

Maybe I'll go to the gym, so I don't get fat

Aren't things more easy, with a tight six pack

Who knows the answers, who do you trust

I can't even separate love from lust

Maybe I'll move back home and pay off my loans

Working nine to five, answering phones

But don't make me live for my Friday nights

Drinking eight pints and getting in fights

Don't wanna get up, just have a lie in

Leave me alone, I'm a twentysomething

Maybe I'll just fall in love

That could solve it all

Philosophers say that that's enough

There surely must be more

Love ain't the answer, nor is work

The truth eludes me so much it hurts

But I'm still having fun and I guess that's the key

I'm a twentysomething and I'll keep being me

I'm a twentysomething, let me lie in

Leave me alone, I'm a twentysomething


Terima kasih buat temen2 yang telah menyempatkan diri untuk mengucapkan sepatah dua patah kata di facebook dan sms bertepatan dengan pergantian tahun kemarin. Saat itu ponsel gak isa dihubungi karena di Selat Larantuka tidak ada sinyal sama sekali.

Sekali lagi terima kasih dan selamat tahun baru! Semoga tambah sukses!


Lyric diambil dari http://www.sing365.com.



Share