Thursday, January 21, 2010

Pasar Tradisional, Kenapa Tidak?

Karena tersedianya dapur di rumah dinas yang bisa saya akses 100% selama 24/7, hobi memasak saya dengan kreatifitas yang kadang agak berlebihan itu bisa bebas merdeka tersalurkan. Cumi masak hitam dan tahu petis adalah contoh prestasi dalam mengolah bahan-bahan lokal di dapur kecil tersebut. Kekayaan Bumi Timor menurut saya sayang kalau dilewatkan untuk diolah menjadi sajian yang sedap dan sehat. Untuk beberapa alasan, saya memilih untuk berbelanja bahan-bahan tersebut di pasar tradisional.

  1. Lengkap,

Dari jinten, pala, merica, jahe, lengkuas, salam, laos, sandal jepit, telur ayam kampung, telur ayam ras, dan sebagainya tersedia lengkap. Hanya saja membutuhkan kejelian kita untuk mencari di antara tumpukan-tumpukan barang dagangan. Tak jarang saya menemukan kejutan berupa barang yang tidak disangka akan saya temui di hamparan dagangan,

  1. Tawar-menawar + Murah,

Tawar menawar bukan barang tabu. Ajak ngobrol dulu sebentar mengenai seputar barang dagangannya dan puji sedikit maka kemungkinan harga akan dapat “digoyang”,

  1. Bahan-bahan segar,

Perputaran di pasar tradisional yang cepat akan menjaga kesegaran barang dagangan yang dijual. Tetapi tak jarang juga terdapat barang yang tak layak konsumsi terselip. Sekali lagi kejelian konsumen memang harus diuji. Tetapi inilah seni dari berbelanja, memilih dan memilah barang,

  1. Cukup dengan kebutuhan,

Barang yang dijual hampir selalu dapat sesuai dengan keinginan pembeli. Jadi kalau butuh tepung terigu setengah kilo, si pedagang akan langsung menakar setengah kilo. Konsumen tidak akan terpapar dengan “Wah, ukuran yang segitu tidak tersedia.” Selalu ada mufakat untuk menyelesaikan akad dagang.

  1. Minimal aktifitas antri,

Hampir tidak terdapat antrian pada setiap lapak di pasar. Hal ini disebabkan oleh cepatnya pemilihan barang yang langsung disusul oleh transaksi sehingga barang yang dibeli tidak terakumulasi sehingga bottle necking di kasir.

  1. Dapat bonus,

Ini bagian yang paling saya suka. Setelah beberapa kali berbelanja di pasar tradisional, saya selalu mendapatkan kejutan berupa bertambahnya barang pembelian saya. Untuk sekali pembelian, bisa saja si pedagang menyelipkan bayam, beberapa butir kentang, atau bahkan menambahkan wortel besar. Sebagai contoh, pada kali terakhir saya belanja di Pasar Oebobo untuk membeli tempe, cabe, telur ayam kampung, dan tepung terigu seharga Rp 23.500,-, saya menemukan sebutir jeruk nipis, sebatang wortel, dan ekstra cabe dengan harga ditaksir sebesar Rp.7.000,- dalam plastik belanjaan. Yang membuat saya kagum adalah bisnis retail sehat seperti apa yang bisa menambahkan bonus produk sampai 30% harga pembelian?

Saya tidak mengetahui dan tidak bisa membayangkan sampai kapan pasar-pasar tradisional ini terus akan bertahan menghadapi gempuran pasar-pasar modern. Romantisme seperti tersebut yang tidak akan didapat dari berbelanja pada peritel raksasa.

Target selanjutnya adalah jalan-jalan di pasar daging. Membuat sate sepertinya enak untuk mengusir rasa dingin musim penghujan ini. Karena sate-satean di Kupang hanya cukup mengingatkan pada sate laler di pelataran Benteng Vrederburg, Malioboro.


Share

6 comments:

putri mimpi said...

ya ampuun keibuan sekali dirimu ini.. ckckck *terharu*
hihihi, piss ;p

Ndoro Seten said...

Asal nggak buecek dan ada ojeck saja to?

Anonymous said...

Potonya mana??????

maslie said...

poto masakanya mana????

matahari said...

@ nuril : eits, jangan salah. top chef itu banyakan cowo lho :P

@ ndoro : becek dan ojek itu kan romantika, bosssss

@ anom : hehehehe...

@ maslie : sabar, pak boss. di-upload nih :P

joe~Rock! said...

bener juga, lestarikan pasar tradisional!!!

*siap2 jeng2 ke pasar*