Thursday, September 09, 2010

Renungan Akhir Ramadhan 2010

Alhamdulillah, telah melewati Bulan Ramadhan yg penuh tantangan dan rintangan. Di ujung bulan Ramadhan ini perasaan saya campur aduk. Karena ini kali pertama saya berlebaran jauh dari Bapa-Biyung. Tadi malam saya menyempatkan telepon Bapa-Biyung setelah sholat tarawih terakhir. Kata2 yg menyejukkan disampaikan Bapa agar saya tetap tabah dan tawakal demi menjalani profesi ini.

Saya teringat kata2 senior di kantor tentang bagaimana menyehatkan pikiran dan hati dari korupsi tekanan keras di lapangan : "Walopun kita bekerja pada perusahaan yg tulang punggung negara, tetapi kita tidak bekerja untuk Bangsa dan Negara. Kita bekerja demi keluarga."

Demi keluarga dia bilang; istri, anak, dan orang tua. Nafkah halal untuk keluarga.

Tak bisa disangkal bahwa Ramadhan kali ini adalah salah satu Ramadhan yg paling berat saya jalani :
1. Berpuasa di kantor beratap asbes yg terpanggang matahari dengan temperatur rata2 32 derajat celcius, berlindung pada AC yg hanya bisa mengeluarkan bunyi berisik dan angin tanpa perbedaan temperatur dengan ruangan,
2. Berburu makanan halal di kota yg penduduk muslimnya minoritas,
3. Pekerjaan ini sangat menguras tenaga, pikiran, dan waktu (termasuk diharamkan untuk cuti selama 10 hari sebelum dan 10 hari sesudah Lebaran).

Suka duka pengalaman yg menguji kesabaran dan insyaallah banyak pelajaran yg bisa saya dapat dari tempat ini.

Berpisah dengan Ramadhan kali ini sangatlah berat. Walopun hati gembira telah memenangkan pertempuran hawa nafsu selama sebulan, tapi sindiran Ustad dalam ceramah terakhir kemarin membuat tenggorokan ini tercekat.

Bercerita dia tentang tiga butir kurma dan seorang sahabat Nabi. Singkatnya, si kurma dapat berbicara atas izin Allah tetapi mengharamkan dirinya untuk dimakan oleh sahabat Nabi. Alasannya adalah di dekat rumah sahabat nabi ada anak yatim yg tidak bisa berbuka puasa karena tidak mempunyai makanan buka puasa.

Alhamdulillah, Allah membukakan hati saya. Refleksi anak yg kehilangan Ayah-Ibunya tercermin dari jauhnya saya dengan Bapa-Biyung, padahal kami masih ada pada satu alam. Tapi apakah kami masih bisa bersama dipertemukan pada Ramadhan tahun depan? Tetapi seperti seperti kata seorang bijaksana, kenapa harus menunggu Ramadhan untuk puasa, shalat malam, dan tadarus?

Saya memang jauh dari sanak saudara di sini. Tetapi sesama muslim adalah bersaudara. Tak ada salahnya berbagi dengan sesama muslim (apalagi yatim-piatu), karena berbagi tidak akan merugi.

Happy Eid Al Fitr Mubarak!


Share

No comments: