Sunday, November 20, 2011

TAMAN ISMAIL MARZUKI SEBAGAI PUSAT AKTIVITAS MASYARAKAT JAKARTA

Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia, Jakarta penuh dengan warna
romantika ibu kota negara berkembang lainnya di dunia. Kemacetan,
banjir, tata kota yang semrawut, dan kekerasan sosial.

Dilansir dari Kompas, data Polda Metro Jaya menyebutkan, selama
Januari-Juli 2011 telah terjadi 35 kasus tawuran warga di wilayah
Jakarta dan Bekasi.

(http://megapolitan.kompas.com/read/2011/07/04/21594160/2011.35.Tawuran.di.Jakarta.dan.Bekasi)

Seperti yang diberitakan oleh Seputar Jakarta, maraknya tawuran antar
warga di DKI Jakarta menjadi perhatian serius Pemprov DKI Jakarta.
Bahkan para pakar sosiologi telah melakukan riset mengenai penanganan
tawuran atau konflik di Provinsi DKI Jakarta tersebut. Hasilnya, telah
disimpulkan bahwa upaya penyelesaian tawuran atau konflik harus
berdasarkan basis komunitas.

(http://www.seputarjakarta.com/spip.php?article353)

Dalam berita tersebut, sosiolog Imam B Prasodjo mengingatkan betapa
penting pelibatan masyarakat dalam proses penyelesaian tawuran warga.
Menurut Imam, keberadaan tempat koordinasi secara informal yang
berfungsi sebagai pusat-pusat aktivitas kegiatan komunitas yang
berkonflik sangat penting.

Pertanyaannya sekarang adalah, di manakah "tempat koordinasi secara
informal yang berfungsi sebagai pusat-pusat aktivitas kegiatan" berada
di Jakarta Raya ini?

Salah satu pusat aktivitas masyarakat yg terletak di jantung Kota
Jakarta adalah Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (diabadikan
dari Ismail Marzuki, seorang komponis besar Indonesia). Ruang publik
yang populer disebut Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan sebuah pusat
kesenian dan kebudayaan yang berlokasi di jalan Cikini Raya 73,
Jakarta Pusat.

TIM sejak berdiri atas prakarsa Gubernur Pemerintah Daerah Propinsi
DKI Jakarta Jenderal Marinir Ali Sadikin, tanggal 10 November 1968 dan
hingga kini telah menjadi ruang ekspresi seniman yang menyajikan
karya-karya inovatif. Pertunjukkan eksperimen, suatu dunia atau karya
seni yang sarat dengan dunia ide. Membuka pintu seluas-luasnya bagi
ruang berfikir dan berkreasi menuju seni yang berkualitas.

Dulu tempat ini dikenal sebagai ruang rekreasi umum ‘Taman Raden
Saleh’ (TRS) yang merupakan Kebun Binatang Jakarta sebelum dipindahkan
ke Ragunan. Saat ini TIM mempunyai fasilitas berupa Graha Bhakti
Budaya, Galeri Cipta I, II, III, Teater Jakarta, Teater Kecil/Teater
Studio, Teater Halaman (Studio Pertunjukan Seni), Pusat Dokumentasi
Sastra HB Yasin, Toko Buku, Planetarium, Bioskop XXI, Plaza, dan
halaman luas yang dapat dibuat berbagai macam aktivitas.
Panggung-panggung TIM semarak dengan karya-karya seniman yang sarat
ide diantaranya Rendra, Djaduk Ferianto, Butet Karta Redjasa, Teater
Koma, dan pada kesempatan ulang tahun TIM yang ke 43, koregrafer
kondang, Sardono W. Kusumo, berkesempatan untuk memuaskan dahaga
pecinta seni ibukota lewat Java War! Opera Diponegoro (1825-0000) pada
tanggal 11 -13 November 2011 silam.

Letaknya yang berada di pusat Kota Jakarta dan hanya lebih kurang satu
kilometer dari Stasiun Gambir, Stasiun Senen, dan Terminal Senen
membuat TIM sangat mudah dijangkau dari seluruh penjuru Jakarta. Para
pengunjung tersebut memanfaatkan TIM sebagai tempat penyaluran hobi,
menikmati pagelaran seni, menonton bioskop, atau mengunjungi
Planetarium.

Walaupun terkesan sangat tersegmentasi dengan label kesenian, namun tidak membuat TIM menjadi terkucil dari kehidupan anak muda Jakarta yang Metropolis. Seperti yang dikutip dari Gema, seorang mahasiswa Universitas Paramadina, bahwa dengan datang ke TIM, selain murah meriah mereka juga bisa menambah pengetahuan tentang seni berupa pertunjukan teater, pameran lukisan, pameran foto, dan wayang. Jadi untuk menjadi gaul, tidak harus selalu menghabiskan banyak uang. Tidak dipungut biaya  untuk masuk ke TIM. Untuk masuk ke Planetarium pun siswa SMP sampai orang dewasa hanya membayar Rp. 7.000,00 dan anak usia 2 tahun sampai siswa SD membayar RP. 3.500. Bahkan untuk pertunjukan teater disediakan diskon khusus untuk pelajar dan mahasiswa.
Untuk mengikuti perkembangan zaman,  TIM memodernisasi tempat
pertunjukannya dengan membangun Gedung Teater Jakarta. Tempat modern,
megah, unik, dan menarik yang terletak di bagian belakang TIM. Sesuatu
yang tidak akan dinyana orang bahwa terdapat gedung pertunjukan megah
di dalam kompleks TIM jika ditengok dari luarnya saja.

TIM bukan hanya tempat spesifik hanya untuk yang berkesenian dan
mempunyai jiwa seni saja. Pengunjung TIM juga datang hanya sekadar
nongkrong dan bertemu teman. Terdapat foodcourt dengan berbagai
makanan disana, soal harga pun relatif murah dan terjangkau untuk
semua kalangan. Untuk yang hobi nonton, tersedia XXI. Di sudut Gedung
Graha Bakti Budaya pun ada sebuah tempat yang menjual buku-buku bekas
dan langka, layak untuk pecinta buku dan sastra. Banyaknya pohon yang
cukup rindang memungkinkan pengunjung untuk menghabiskan waktu
seharian hanya untuk membaca buku disana.

Begitu banyak aktivitas sosial yang dapat dilakukan di TIM sehingga
pencarian "tempat koordinasi secara informal yang berfungsi sebagai
pusat-pusat aktivitas kegiatan" menjadi dimungkinkan. Tetapi
mengapakah penyakit sosial masyarakat Jakarta masih menjadi kenyataan
sehari-hari?

Mungkin karena pusat-pusat aktivitas kegiatan tersebut belum
diberdayakan secara maksimal. Hal tersebut dimungkinkan tergantung
dari upaya Pengelola TIM, Pemerintah, dan apresiasi masyarakat ibukota
untuk dapat mengambil manfaatnya. Dimulai dengan hal yang paling
ringan, perbaikan web site Taman Ismail Marzuki sebagai jendela
informasi utama kepada dunia.

Untuk mencapai lokasi Taman Ismail Marzuki, yang terletak di Jalan Cikini Raya
No. 73, Jakarta Pusat 10350 menggunakan transportasi umum, tersedia
jalur kereta api dan bus. Dari Bogor, Jakarta Kota atau Bekasi, silahkan turun
di Stasiun Cikini dan melanjutkan perjalan ke arah Utara, dapat menggunakan
jasa ojek, bajaj, atau bus Metromini nomer trayek 17 ke arah Pasar Senen - Manggarai
jarak sekitar satu kilometer. Dari Terminal Kampung Rambutan, pergunakan Kopaja
nomer trayek 57 arah Kampung Rambutan - Cililitan - Tanah Abang.

Artikel ini merupakan wujud keikutsertaan dalam http://3on3.onoffid.org/ writing contest.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Ismail_Marzuki
http://id.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki
http://berwisata.blogdetik.com/2010/06/15/libur-tlah-tiba-planetarium-jakarta/
http://maps.google.com/


Share

4 comments:

Cordiaz said...

Foto-foto kerennya diupload dong Mas :)

matahari said...

hahaha, iya nih, mas. blom sempet upload beneran. ini emergency upload dari ponsel :)

tar dibenerin :P

retma-haripahargio said...

Duluuuuu.... awal2 ke Jakarta, doyan banget nongkrong di TIM. Kelayapan di dalemnya, liat buku2, nonton Jiffest, atau sekedar nongkrong di depannya. Hehehe. Sekarang? Adoh, gak pernah. Rempong ye, punya anak balita. @_@

sherly sintia said...

mas kalau dari kebon jeruk ke TIM naik apa yah? thanks b4